
Permainan catur antara Albra melawan Alan menjadi pertarungan yang cukup menegangkan karena keduanya memakai strategi yang sama-sama luar biasa. Namun pada akhirnya, yang menang tetaplah Alan, ia memakai semua strategi yang Parell bisikan kepadanya, dan Albra saat ini harus terima kekalahan tersebut dan membelikan motor mainan sesuai keinginan Alan.
Sedari tadi Qyen tidak hentinya tertawa karena melihat ekspresi gemas dan greget wajah Albra. Albra masih belum terima jika otaknya dikalahkan oleh Alan yang notabenenya adalah anaknya sendiri. “Udahlah, sayang … Aku sakit perut lihat kamu terus cemberut kaya gitu. Cuma permainan aja, lagipun Alan juga anak kamu. Kamu aneh deh.”
“Harga diri saya jatuh,” gumam Albra dengan tatapan kosongnya.
Lagi-lagi Qyen tertawa menanggapi hal itu. Bagaimana bisa Albra menganggap permainan catur tadi adalah permainan yang serius?
Dering telpon Albra berbunyi, ternyata Kender yang menelponnya. Ia pun mengangkat telpon tersebut. Tak lama, lalu mematikannya kembali.
“Barang-barang kamu sudah sampai. Tadi kamu bilang apa, sayang?”
“Kender dan Meta sudah sampai? Yasudah aku mau buat makan malam terlebih dahulu, bilang ya jangan dulu pulang. Kita makan malam sama-sama.”
Albra memegang tangan Qyen yang hendak pergi. “Kamu mau masak?”
“Iya, terus siapa lagi?”
“Udahlah, sayang. Capek, istirahat saja.”
Selalu saja Albra menyuruhnya istirahat-istirahat dan istirahat, padahal Qyen tidak memiliki pekerjaan lain jika di rumah besar ini, karena semua urusan kebersihan sudah diambil alih oleh pelayan, dan hanya kegiatan memasak yang saat ini menjadi tanggung jawabnya.
“Oke-oke, aku minta tolong bantuan chef yang ada di dapur. Lagipun Alan gak mau makan kalau bukan aku yang buat, Kak.”
Mendengar alasan itu, mau tak mau Albra pun mengizinkan Qyen turun ke bawah. Qyen harus bisa membiasakan diri berjalan jauh di rumah ini, karena jarak dari satu tempat ke tempat lain membutuhkan banyak sekali langkah kaki untuk sampai. Ia juga harus sudah membiasakan diri jika ia tinggal di keluarga Max.
Ketika hendak menuju dapur, Qyen melihat ada beberapa orang yang tengah berkumpul bersama Frans. Qyen menyapa Frans dengan cara menunduk hormat lalu kembali berjalan ke dapur. “Huh … Kenapa berpapasan dengan Tuan Frans membuat jantungku serasa mau meledak,” gumam Qyen pelan.
Seorang chef menghampiri Qyen yang tengah sibuk memilih bahan makan malam hari ini. Menu makan malam yang akan ia buat kali ini hanyalah steak, tidak terlalu rumit karena ia dibantu oleh seseorang.
Kegiatan memasak makan malam itu membutuhkan waktu 30 menit. Qyen membuat 8 porsi steak beserta teman-temannya sekaligus, dan kini sudah terjadi diatas piring masing-masing.
Kebetulan sekali, Albra sudah menuruni tangga bersama Alan, dan Parell yang mengikuti di belakang mereka. “Kak, Kender dan Meta mana? Aku sudah buat makan malam banyak.”
“Wow … Qyen sangat hebat memasak,” puji Alan yang langsung mengambil tempat duduknya.
“Sebentar, sayang. Mereka sedang di atas bersama Ian.”
Qyen mengangguk, dalam waktu 3 menit, mereka sudah berkumpul di ruang makan dengan lengkap. Ada Albra, Qyen, Alan, Ian, Kender, Meta dan Parell tentunya. Mereka pikir akan ada acara khusus kali ini, namun ternyata tidak, Qyen bilang hanyalah makan malam biasa.
Tidak biasanya Albra mengajak orang lain untuk bergabung dengan kegiatan makan malam mereka.
“Kak, Tuan tidak ingin ikut makan malam bersama?” Qyen berbisik karena ia sudah membuat porsi untuk Frans juga.
“Papa sepertinya sudah istirahat dijam seperti ini. Tapi jika kamu ingin mengajaknya silahkan.”
Qyen hanya bisa menganggukan kepalanya, sepertinya mubazir jika masih ada satu piring yang tersisa. Ia pun bangun dari duduknya berniat untuk mengantarkan makanan ke dalam ruang kerja Frans.
“Lo mau kemana?” tanya Ian ketika melihat Qyen pergi dengan sebuah nampan di tangannya.
“Ke ruang kerja Tuan besar.”
Ian mengangguk dan membiarkan Qyen pergi. Suasana di sekitar ruang kerja Frans terasa sangat hening dan mencekam, berbeda dengan suasana ruang makan yang kini terlihat hidup karena banyaknya orang.
Qyen mengetuk pintu ruang kerja Frans, dan ketika dapat jawaban dari dalam ia pun masuk, dan tak lupa memasang senyum manisnya.
“Selamat malam, Tuan. Saya membuat steak untuk makan malam hari ini. Tuan Albra, Tuan Ian dan lainnya sedang makan malam di ruang makan, apakah anda ingin bergabung?”
Qyen menunggu jawaban Frans yang sedang sibuk dengan banyak sekali dokumennya, ia pun bisa melihat wajah pucat itu diantara cahaya laptopnya.
“Tidak perlu,” jawab Frans yang kembali fokus.
Qyen menganggukan kepalanya. “Baiklah, Tuan. Saya sudah membuatkan untuk anda, saya simpan di sini. Tuan bisa memakannya selagi hangat.”
Ia menyimpan nampan itu di atas meja, dan ketika berbalik hendak pergi, matanya tak sengaja melihat sebuah tempat kecil yang di dalamnya terdapat beberapa obat, dan air mineral di sana. Qyen merapihkan itu dan menyimpannya di dekat nampan yang ia simpan.
Setelah memberi salam, ia pun keluar dari ruangan Frans, dan kembali berjalan ke ruang makan.
Qyen bisa melihat kehangatan ruang makan besar itu yang kini diisi oleh banyak orang. Harusnya ruang makan itu seperti ini, di isi oleh sebuah hangatnya obrolan. Rumah mewah yang dulu sangat sepi, kini perlahan terlihat berwarna dan hangat karena kehadiran Qyen.
“Selamat makan, Nona,” ucap Kender, Meta dan Parell bersamaan.
Qyen mengangguk, dan mempersilahkan mereka untuk memakan masakannya. Qyen mendapat banyak sekali pujian tentang masakan yang ia buat kali ini, tentunya ia sangat bahagia.
“Kak, Tuan besar sedang sakit?” Qyen berbisik kepada Albra yang sedang berada di sebelahnya.
“Panggil Papa, sayang.”
Qyen mengangguk. “Iya, maksudku Papa. Tadi aku melihat wajahnya sangat lusuh dan pucat. Obatnya sepertinya tidak ia minum.”
“Beritahu Papamu, Kak. Tidak baik terus bekerja sampai malam seperti ini, sepertinya Papa kelelahan.”
Albra mengangguk. “Terimakasih sudah menghawatirkan Papa.”
Di dalam ruangan Frans, kini ia sudah merasakan lelah yang sangat luar biasa di tubuhnya. Frans mematikan laptopnya, dan berjalan menuju sofa, melihat barang yang dibawa oleh Qyen untuknya. Steak itu terlihat menggoda dan perutnya memang sedang dalam keadaan lapar.
“Obat? Bukannya Brian menaruhnya di meja dekat patung itu?” Gumam Frans yang kebingungan melihat obatnya yang berpindah.
Tidak ingin terlalu banyak berpikir, ia pun mulai memakan makanan yang dibawakan oleh Qyen tadi. “Emmm … Kenapa rasa makanan ini berbeda dengan yang ada di restoran?”
Suapan itu kembali masuk ke dua kalinya, dan terus sampai steak itu habis. Frans mengakui jika masakan Qyen memang benar-benar enak. Selain bubur yang ia makan kemarin.
Setelah puas memakan steaknya, kini Frans meminum obatnya, lalu berjalan keluar hendak menuju kamarnya. Tapi, sebelum itu ia pun mendengar suara beberapa orang tertawa dari arah ruang makan.
Frans yang penasaran, ia berjalan ke arah ruang makan, dan memperhatikan dari jauh. Getaran aneh kembali terasa dihatinya ketika melihat ruang makan itu kini ramai dengan orang. Bahkan Frans baru melihat Ian dan Albra yang makan dalam satu tempat.
“Mereka terlihat bersenang-senang.”
Suasana ramai, hangat dan penuh tawa sepertinya cocok dengan rumah ini. Entah mengapa, Frans merasa kehadiran Qyen di rumah ini membawa pengaruh cukup besar.
“Mereka sedang makan malam bersama?” tanya Frans kepada penjaga yang menunggu kamarnya.
Laki-laki itu mengangguk. “Iya, Tuan besar. Tuan Albra tengah mengadakan makan malam bersama sekertarisnya. Tuan Ian juga turut hadir di sana. Ada yang bisa saya bantu?”
Frans menggeleng lalu masuk ke dalam kamarnya.
…
Setelah kegiatan makan malam selesai, Albra, Qyen dan Alan sudah berada di dalam kamar besar Albra dan mereka memakai piyama couple yang berhasil Qyen pesan di aplikasi online.
“Lucu banget, Kak … Udahlah percaya diri aja kita mau tidur kok.” Rayu Qyen kepada Albra yang tidak ingin memakai piyama itu karena berwarna pink.
“Tidak, saya masih ada meeting dengan Kender dan Meta di ruang sebelah, sayang. Ayolah …”
Qyen mengerutkan bibirnya. “Yasudah buka saja, padahal aku membelinya mahal,” kesal Qyen yang kini memilih memakai masker wajahnya, dan berbaring di sebelah Alan.
Tidak ingin melihat Qyen kecewa, ia pun akhirnya menuruti permintaan istrinya itu. “Iya-iya, sayang aku pakai.”
“Nah gitu …” Qyen kembali ceria, ia dengan semangat membantu Albra memaikan masker perawatan untuk wajah suaminya yang sangat kaku itu. Alan pun ikut serta dalam perawatan skincare mereka, dan anak itu sudah berbaring santai di sebelah Albra dan Qyen.
“Ini pakai apa lagi?” Kepala Albra merasa pusing ketika Qyen memakaikannya sebuah karet besar yang menarik semua rambutnya kebelakang.
“Ini bando, udah sekarang kamu tiduran. Tidak lama hanya tujuh menit.”
Tidak ada pilihan lain selain menuruti semua kemauan Qyen. Albra merebahkan tubuhnya disamping Alan dan Qyen kini memakaikan masker untuknya.
“Qyen, sepertinya sudah tujuh menit, aku ingin segera tidur,” suara Alan terdengar Qyen pun membuka maskernya dan Alan juga.
“Iya, sayang silahkan tidur saja.”
“Baiklah, aku akan tidur di sini. Aku sudah tidak kuat berpindah. Papa, Qyen cium aku,” gumamnya yang sudah menutup mata.
“Manjanya sama seperti kamu,” ucap Qyen membuka masker Albra terlebih dahulu.
Albra terkekeh, lalu mencium pipi anaknya, begitu juga dengan Qyen yang mencium dahi Alan. “Selamat malam, sayang.”
Alan mengangguk dan mulai terlelap.
“Kamu tidur duluan saja, Meta dan Kender sudah menunggu saya.”
“Yasudah, selamat malam, Kak.” Albra melaksanakan rutinitas sapaan malam untuk istrinya.
Setelah itu, ia pun keluar dan berjalan memasuki ruang kerjanya. Sudah ada Kender dan Meta yang menunggu di ruangannya. Namun ketika ia memasuki ruangan tersebut, ia bisa melihat jika kedua sekertarisnya itu menahan tawanya.
“Tertawa saja, saya tidak melarang,” ucap Albra dengan hembusan napas panjang.
“Tuan, anda sangat keren,” jawab Meta mengacungkan kedua jempolnya.
Lagi-lagi, melihat kelakuan Albra setelah menikah dengan Qyen membuat orang-orang yang ada di sekitarnya terkejut. Bagaimana bisa mereka melihat momen langka tentang Albra yang memakai piyama pink bermotif awan dan di belakang piyama tersebut terdapat tulisan ‘I love you’.
“Ya, bagaimana lagi. Misi saya saat ini hanyalah tidak bertemu dengan Ian,” ucapnya asal.
Namun entah bagaimana bisa, pintu ruangan kerja Albra tiba-tiba terbuka dan sosok Ian hadir di sana dengan wajah kebingungan. “Albra, Gue rasa ini ada yang salah tentang jumlah dana pabrik yang kita siap ….”
“Hahahahah … Gila Lo ya, mau kontes nari di mana Lo? Hahahahahha ….”
Sungguh rasanya Albra ingin sekali mencekik Ian saat ini juga.