
Pagi hari sangat cepat kembali menyapa. Sesuai janji yang Albra berikan 5 hari yang lalu, tepat hari ini mereka akan pergi berlibur ke Jepang, atas keinginan Alan. Betapa bahagianya Alan kali ini karena sudah lama tidak berlibur ke luar negri. Apalagi ia merasa lebih semangat karena ditemani oleh Qyen.
Albra, Qyen, Alan dan Ian sudah berada di dalam pesawat dan duduk di tempat mereka masing-masing. Alan juga yang merequest untuk pergi ke Jepang menggunakan peswat biasa saja, ia tidak mau memakai jet kakeknya karena itu tidak asik. Mau tak mau, Albra pun menyetujui hal itu.
Ian bergabung pergi karena ia yang merengek kepada Albra untuk ikut serta dalam liburan kali ini. Mengatasnamakan ia akan menjaga Alan dengan senang hati di sana, dan membiarkan Albra dan Qyen berbulan madu, akhirnya Albra pun mengizinkan Ian untuk ikut dengannya.
Penerbangan mereka sudah berlangsung sejak 1 jam yang lalu, dan lokasi duduk mereka saat ini berpasangan, Albra dengan Qyen, dan Ian dengan Alan tentunya.
“Kak, sibuk banget sih,” ucap Qyen sambil menyenggol bahu Albra yang sedang sibuk dengan laptopnya.
“Sebentar, sayang. Tiba-tiba kantor kirim banyak banget email yang harus saya periksa sekarang juga. Kamu bisa tidur atau sudah mulai lapar?”
Qyen tidak membalas ucapan Albra, ia hanya menggerutu pelan. Tahu gitu ia akan duduk disebelah Alan agar perjalanannya tidak sepi. Dari pada terus memperlihatkan Albra yang sibuk sendiri, ia pun kini lebih baik memperhatikan pemandangan sunrise dari kaca pesawat. Penerbangan mereka dilakukan jam 4 pagi, dan saat ini Qyen bisa melihat sunrise dari atas.
“Cantik banget …” gumam Qyen yang dapat didengar oleh Albra.
“Lebih cantik istri saya,” jawab Albra mendengar hal itu.
Qyen yang malas dengan gombalan Albra pun hanya mendengus kesal.
“Ian, kenapa awan tidak menyatu dengan langit?”
“Karena awan dan langit berbeda.”
“Ian, kenapa burung tidak terbang mendekati peswat?”
“Burungnya takut.”
“Ian, kalau misalkan ada layang-layang yang menyangkut dipesawat bagaimana?”
“Pesawat akan jatuh.”
“Pesawat isi bensin tidak, Ian?”
“Isi.”
“Ian. Bisa dengarkan aku tidak? Kamu selalu menjawab seperti itu. Aku itu sedang bertanya.”
“Ah, berisik banget sih Lo. Di usir dari sini baru tau rasa Lo.” Ian semakin kesal karena Alan terus berbicara dan menanyakan hal yang menurutnya tidak penting.
Albra dan Qyen yang mendengar itu di kursi depan pun menahan tawanya. Mereka paling tahu jika Ian tidak suka diganggu waktu santainya. Apalagi saat ini Ian tengah menonton drama Korea kesukannya.
“Gak asik,” kesal Alan dan kini memilih diam sambil melipat tangannya di dada.
“Ian, omonganmu dijaga.” Tegur Albra sambil menengok kearah Ian yang sedang serius dengan tontonannya.
“Tuker posisi deh, Qyen sini aja. Gue mending diem di dapur sama mbak pramugarinya,” kesal Ian.
“Yasudah sana aja, aku juga gak mau dekat-dekat dengan kamu.”
Percekcokan itu terus terjadi sampai ada seorang pramugari yang mengantarkan mereka makanan. Ian dan Alan tidak memesan apapun, mereka hanya memakan makanan yang sudah diberikan oleh pramugari tersebut.
Alan diberikan makanan berupa sebuah bento khas Jepang yang sangat lucu, salad, jus strawberry dan juga satu slice cheese cake. Sedangkan Ian, ia diberikan satu kotak sushi, satu mangkuk ramen dan jus jeruk juga satu cake dengan topping pisang.
“Kenapa kamu melihat terus kearah makananku?” tanya Alan yang sadar akan hal itu. Saat ini ia sudah bersiap makan dan memegang sendoknya, tapi tatapan Ian mengganggu.
“Ini makanan anak kecil,” ucap Alan dan sibuk memakan bentonya.
“Ck! Gak peka,” kesal Ian dan kini memilih makan makanannya.
Ketika sibuk memakan sushinya yang sangat-sangat enak, tangan Alan pun terulur ke meja makannya dan memberikan slice cheese cake itu kepada Ian tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
“How you’re so gentle Man!” Ian tersenyum lebar ketika Alan memberikan cake itu.
“I don’t like cheese. I know if you mouse, and I got that for you. I’m so kind right?”
Ian sangat geram mendengar kalimat itu, namun ia tidak ingin memperpanjang masalah yang ada, akhirnya pun ia hanya diam, dan menikmati makanan yang ada.
“Alan dan Ian memang diciptakan bukan untuk bersama, Kak,” ucap Qyen yang kini juga sedang memakan sarapannya.
“Memang benar, bahkan sebelum kamu tahu tentang merekapun, kepala saya hampir pecah selalu mendengarkan pertengkaran mereka. Ian yang tidak sabaran, dan Alan yang semuanya harus berjalan atas kehendaknya.”
Qyen tersenyum, mendengarkan keributan Ian dan Alan merupakan hiburan baginya, karena mereka berdua jika sedang beradu bicara sangat-sangat lucu.
Perjalanan mereka berlanjut sampai hampir 10 jam lamanya, karena mereka tidak mendarat di Tokyo, melainkan mereka akan langsung menuju ke Osaka. Tokyo adalah destinasi terakhir mereka nanti, mereka akan menikmati salju terlebih dahulu di Osaka.
Tangan Albra tak henti-hentinya terus menggenggam Qyen yang sedang kesakitan saat ini, perutnya beraksi karena ia terus duduk selama 10 jam dan dihadapi oleh perubahan iklim yang sangat-sangat jauh berbeda dengan Bali.
“Kita kerumah sakit saja ya, sayang?”
Qyen menggeleng lemah. “Aku gak mau buat Alan kecewa. Mungkin karena kram saja, Kak.” Melihat Alan yang bahagia ketika menginjak kakinya di Jepang membuat Qyen merasa tidak enak jika ia pergi ke rumah sakit saat ini. Untung saja koper mereka sudah dibawa terlebih dahulu ke vila yang sudah mereka sewa.
Dari arah kantor security, Ian datang sambil mendorong kursi roda. “Qyen, Lo duduk dulu di sini. Kita harus cek dulu ke bagian sana, karena kita sendiri tidak diurus oleh orang lain.”
Qyen mengangguk, membiarkan Albra mendorong kursi rodanya, dan Alan yang berjalan dengan girang di sampingnya. “Qyen? Kamu sakit?”
“Tidak, aku hanya lelah saja karena baby-nya,” ucap Qyen yang tidak ingin membuat Alan khawatir, padahal saat ini perutnya sudah merasakan sakit yang sangat-sangat luar biasa.
Butuh waktu satu jam lamanya, akhirnya kini mereka bisa menaiki mobil untuk menuju vila yang sudah mereka sewa, bahkan saat ini malam sudah menyambut mereka, dan suhu semakin lebih dingin.
“Wow … Qyen lihat saljunya bagus banget. Kita datang disaat salju turun. Cantik kan?”
Alan berjalan menelusuri jalanan masuk ke vila dengan semangat yang membara. Qyen tidak berbohong jika tempat ini sangat-sangat cantik. Apalagi ini adalah kali pertama Qyen pergi ke tempat bersalju.
“Iya, kamu suka, Alan?”
Alan mengangguk senang, bahkan anak kecil itu tidak merasakan lelah sama sekali setelah perjalanan yang sangat panjang.
“Ian, tolong fotokan aku,” ucapnya yang sudah berpose di dekat pohon yang sudah berguguran, di belakang pohon itu terdapat view danau dengan lampu-lampu cantik dari gedung dan rumah yang ada di sekitarnya.
Tidak ingin berlama-lama diam di luar, Ian pun mengeluarkan ponselnya dan memotret Alan. “Norak banget sih, untung anak orang kaya Lo.”
“Tuhkan, Ian itu selalu mengeluh, Pa.” Adunya kepada Albra.
Sedangkan Albra hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia saat ini fokus kepada Qyen yang masih merasakan sakit. Mereka di sambut oleh dua orang pelayan vila, seorang ibu dan bapak paruh baya memberikan mereka teh hangat dan menyajikan kudapan ringan atas kehadiran mereka.
Vila ini terlihat tradisional, namun memiliki modifikasi modern. Qyen suka suasana yang ada di sini, namun perutnya tidak bisa diajak berkompromi.
“Alan, ayo kita masuk kamar. Berganti baju terlebih dahulu.” Qyen harus bisa menahan rasa sakitnya karena ia masih memiliki tanggung jawab besar dengan Albra, Alan tentunya juga Ian,
Untungnya anak kecil itu menurut dan masuk ke dalam kamar mereka. Qyen menggantikan pakaian untuk Alan, bahkan anak kecil itu tidak bisa diam karena terus melompat kegiarangan.
“Sebentar, sayang. Aku susah memakaikan kamu pakian.”
Kegiatan itu sudah selesai, dan akhirnya Qyen bisa membaringkan tubuhnya di atas kasur. Untung saja Albra memilih kasur yang cukup besar karena mereka akan tidur bertiga di sini, dan Ian sendiri di kamar sebelah mereka.
“Qyen? Kamu sakit?” Alan kembali bertanya karena ia tidak mendengar Qyen yang bisanya banyak bicara.
Qyen kini mengangguk. “Perutku sakit, kamu bisa usap perutku?”
Alan dengan wajah seriusnya pun mengusap perut Qyen dengan lembut. “Jangan sakiti Qyen adik bayi.” Gumam Alan pelan dan dapat di dengar oleh Qyen.
“Adek bayinya sepertinya kecapean, sayang.”
“Hmm … Hah!” Alan terkejut ketika merasakan pergerakan yang hebat di dalam perut Qyen.
“APA! ADEK BAYINYA MAU KELUAR?”
Mendengar teriakan Alan dari dalam kamarnya Albra dan Ian yang tengah membicarakan sesuatu di luarpun terkejut dan langsung pergi ke dalam kamar.
“Kenapa, sayang?”
“Kenapa, Qyen?”
Qyen menahan tawa sebisa mungkin melihat Albra, Ian, dan Alan dengan ekspresi tegang dan terkejut mereka. Apalagi saat ini tubuh Alan berubah menjadi freez karena ia shok terhadap perut Qyen.
“Adeknya bukan mau melahirkan, sayang. Tapi dia bergerak mencari tempat yang nyaman.”
Albra dan Ian pun bernapas lega. “Lo memang ya, Alan,” kesalnya kepada Alan.
Albra kini terkekeh dan menghampiri dua orang yang sangat ia cintai itu. “Kamu pegang perut, Qyen?”
Alan mengangguk masih dengan wajah terkejutnya. “Papa kemarin juga terkejut, tapi sekarang Papa sudah tau. Coba kamu pegang lagi.”
Alan mengusap perut Qyen dengan lembut dan pergerakan itu kembali terjadi. “Aku takut banget …” ucapnya dan dihadiahi oleh tawa orang dewasa yang melihat itu.
“Ini akibatnya Lo terlalu banyak makan coklat. Otak Lo jadi dark.”
...
Happy reading!!!