
Seusai makan malam, Zeline pun bersiap untuk pulang. Ia kembali menutupi wajahnya dengan syal, takut jika ada yang diam-diam mengambil gambarnya saat bersama dengan Arman.
Arman mempersilakan pada Zeline untuk berjalan terlebih dahulu. Melihat Zeline yang terlihat takut jika sampai tertangkap kamera, membuat Arman pun langsung melepaskan jasnya. Ia langsung memakaikannya ke atas kepala Zeline.
Zeline sempat tersentak kaget, mendapati Arman yang saat ini sedikit mendekat kepadanya. Aroma mint tercium oleh indera penciuman Zeline. Mata keduanya bertemu pandang beberapa detik, lalu sesaat kemudian Zeline memalingkan wajahnya dan fokus ke depan. Sedangkan Arman, pria itu sedikit menjauhkan tubuhnya. Memilih berjalan sedikit berjarak dengan Zeline.
Sesampainya di depan, Zeline melihat mobil yang tadi mengantarnya sudah berada di depan. Sang supir pun hendak membukakan pintu untuk Zeline, akan tetapi Arman langsung memberikan kode melalui tatapan mata. Menyuruh agar supirnya tak melakukan hal itu. Biarkan Arman saja yang membukakan pintu untuk gadis cantik itu.
"Terima kasih," ucap Zeline yang kemudian masuk ke dalam kendaraan tersebut. Sementara Arman, menanggapi ucapan gadis itu dengan tersenyum simpul.
Arman berjalan menuju ke pintu sebelahnya, ia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk bersebelahan dengan Zeline.
"Ini jasnya ... dan terima kasih," ujar Zeline sembari menyodorkan jas tersebut kepada Arman. Pria itu menerima jasnya, melihat Zeline yang tengah merapikan rambutnya sedikit acak-acakan.
Zeline kembali dikejutkan dengan Arman yang tiba-tiba menyentuh rambutnya. Pria itu memperlihatkan sesuatu yang baru saja ia ambil dari atas kepala Zeline. Terlihat sehelai benang berwarna merah yang ia dapatkan.
"Aku mendapatkan ini di atas kepalamu tadi," ucap pria tersebut.
"Ah iya. Makasih," ujar Zeline yang sedari tadi terus menerus berterima kasih. Seolah gadis itu sudah kehabisan kata-kata untuk berbicara pada pria yang ada di sampingnya.
"Apakah kamu tidak nyaman berada dekat denganku?" tanya Arman penuh selidik. Sedari tadi ia memperhatikan gerak-gerik Zeline yang selalu saja menghindari kontak mata dengannya.
"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya merasa sedikit canggung saja," timpal Zeline yang mencoba untuk jujur.
Arman langsung terkekeh mendengar penuturan dari Zeline. Entah mengapa, di matanya Zeline benar-benar terlihat menggemaskan. Meskipun tidak melakukan sesuatu yang terlalu berkesan untuknya, akan tetapi bagi Arman, gadis yang ada di hadapannya seakan memiliki daya tarik yang membuatnya semakin terpikat oleh gadis tersebut.
"Ku harap, setelah ini kita lebih santai saat berada di luar. Tidak apa-apa kan aku mengharapkan hal itu?" tanya Arman lagi seraya terkekeh.
Zeline menanggapinya dengan sebuah senyuman singkat. Gadis itu hanya menganggukkan kepala tanpa berkata apapun.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya Zeline pun tiba di rumahnya. Zeline turun dari mobilnya, begitu pula dengan Arman yang mengantarkan kepulangan Zeline sampai di gerbang. Memastikan gadis tersebut masuk ke dalam rumah dengan keadaan yang baik.
"Terima kasih atas makan malamnya," ucap Zeline.
"Tidak perlu sungkan. Aku ingin mengundangmu lagi di lain waktu. Ku harap kamu bisa datang saat tidak terlalu sibuk. Kalau begitu masuklah! Kamu pasti lelah," ujar Arman.
Zeline mengangguk, ia pun berjalan masuk membuka gerbang tersebut. Zeline menolehkan kepalanya, melihat Arman yang masih berada di sana, berdiri menatapnya sembari mengembangkan senyum.
Zeline membalas senyuman itu, ia pun langsung menutup kembali gerbang tersebut. Zeline menghela napasnya dengan kasar, seolah malam ini ia lalui dengan begitu berat.
Melihat gerbang yang telah tertutup, membuat Arman pun kembali masuk ke dalam mobil. Senyum di wajah pria itu tak henti-hentinya tersungging.
Mobil yang membawanya kembali melaju, membelah jalanan malam itu.
"Baiklah, besok aku akan datang kembali ke toko bunga langgananku. Dia menyukai bunga mawar yang aku kirim dan aku merasa bersyukur akan hal itu," gumam Arman sembari mengulum senyumnya.
Di waktu yang bersamaan, Zeline masuk ke dalam rumah. Ia mendapati Vera yang tengah bersantai sembari menikmati makanan yang ada di atas meja.
"Kalian sedang berpesta?" tanya Zeline
"Bisa dibilang seperti itu," celetuk Gery meletakkan gelas kaca tersebut ke atas meja. Lalu mendudukkan bokongnya di salah satu sofa yang ada di ruang tengah.
Vera menjilat sisa saus yang ada di tangannya seusai memakan richeese fire wings. Zeline menggelengkan kepalanya melihat tingkah managernya itu.
"Dasar jorok! Ini tisu tidak perlu kamu seka dengan lidahmu itu," cecar Zeline yang mendekatkan tisu ke hadapan Vera.
"Sayang jika dilap dengan tisu begitu saja," ujarnya yang mendapatkan decakan dari Zeline.
"Kamu selalu saja memberikan aku sarapan yang aneh, dengan alasan untuk menjaga berat badan atau apalah itu. Akan tetapi disaat aku tidak ada kalian berpesta ayam pedas dengan saus keju dan di tambah minuman bersoda," gerutu Zeline.
"Kami tidak dilirik oleh media. Kalau dirimu, sudah pasti." Gery menimbrung pembicaraan kedua wanita itu. Dan Vera pun kali ini setuju dengan pendapat Gery.
"Sudahlah! Berhenti membicarakan tentang hal itu!" tegas Vera.
"Bagaimana dengan kencanmu? Apakah berjalan dengan lancar?" tanya Vera sembari menaik turunkan alisnya.
"Siapa pula yang berkencan? Lagi pula itu hanya sekedar undangan makan malam saja," timpal Zeline.
Mendengar ucapan Zeline, sontak Gery langsung terkekeh geli. Sementara Vera menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu ... bisa dikatakan berkencan, Zeline. Jika bertemu secara pribadi dan melakukan makan malam tanpa membahas masalah pekerjaan, sudah bisa dikatakan berkencan," terang Vera dengan sedikit geram.
"Oh ...." Zeline menganggukkan kepalanya. Tangannya pun mengambil chicken wings yang ada di hadapannya, akan tetapi dengan cepat Vera menepis tangan gadis itu.
"Kamu harus menjaga berat badanmu!" tegas Vera. Hak tersebut langsung membuat Zeline mendengkus kesal.
"Apakah Pak Arman membahas masalah mawar yang ia kirimkan?" tanya Vera menatap Zeline dengan seksama. Ia sangat penasaran akan hal itu.
"Ia membahasnya sebentar dan menanyakannya padaku, apakah aku percaya bahwa dia adalah orang yang mengirimkan buket bunga," tutur Zeline.
"Lalu ... bagaimana kamu menjawabnya?" tanya Vera lagi.
"Ku katakan saja bahwa aku tidak yakin mawar itu dari Pak Arman. Dan beliau pun langsung terdiam," ujar Zeline sembari mengendikkan bahunya.
Vera menepuk keningnya, ia berharap agar Zeline percaya bahwa mawar itu memang benar-benar dari Pak Arman. Namun, kenyataannya gadis itu tetap teguh dengan pendiriannya.
"Astaga Zeline! Kenapa kamu payah sekali. Jika bukan Pak Arman, lalu siapa pengirim mawar itu? Bukankah dia sudah menjelaskan semuanya? Kenapa kamu sangat tidak mempercayai hal itu?" tukas Vera.
"Entahlah! Aku tidak yakin akan hal itu. Aku juga tidak akan percaya padanya sebelum dia sendiri lah yang memberikannya langsung padaku," ujar Zeline sembari menatap lurus ke depan.
Bersambung ....