
"Tadi ... kamu berjanji untuk menceritakan semuanya padaku. Sekarang ceritakanlah! Aku ingin mendengarnya dari mu apa yang terjadi sebenarnya," ujar Vera sembari mengendalikan setirnya, pandangan gadis itu mengarah ke jalanan yang sedikit lenggang.
"Aku menemukan mawar yang biasa aku terima di kotak sampah, dan Dira melihatku. Ia berkata bahwa dirinya lah yang membuang mawar itu ke kotak sampah, karena mawar tersebut ia terima dari salah satu penggemarnya," jelas Zeline sembari menatap ke arah luar jendela.
"Ck! Angkuh sekali dia. Bahkan pemberian mawar dari penggemarnya pun langsung dibuang begitu saja," ujar Vera.
"Lalu?" Vera kembali bertanya, karena menurutnya belum cukup bagi gadis tersebut jika hanya mendapatkan informasi sebatas itu saja.
"Aku bertanya padanya, siapa yang memberikan mawar itu? Dan bagaimana ciri-cirinya? Akan tetapi dia tetap enggan memberitahukan hal itu padaku." Kini pandangan Zeline tertunduk, wajahnya terpancar gurat kekecewaan karena tak mendapatkan jawaban dari Dira.
"Astaga! Zeline, ada banyak orang di dunia ini. Dan kemungkinan saja, jika wanita jelek itu mendapatkan mawar dari salah satu penggemarnya yang memang membeli bunga mawar itu di tempat yang sama. Lagi pula, pria yang mengirimkan mawar kepadamu itu kan Pak ...."
"Bukan. Aku sangat yakin bahwa dia bukanlah Pak Arman. Tak jauh dari lokasi mawar itu dibuang, aku menemukan sebuah kartu ucapan dengan kata-kata penyemangat. Dan tulisannya, aku sangat tahu bahwa itu adalah dia," papar Zeline.
Vera hanya terdiam. Bagaimana pun juga, ia terlalu pusing memikirkan pria yang dimaksudkan oleh artisnya itu. Namun, bagaimana pun juga, ia harus tetap menjadi pendengar yang baik.
Tak lama kemudian, mobil pun tiba di kediaman Zeline. Gadis tersebut langsung turun dari kendaraan itu. "Apakah kamu tidak ingin menginap lagi di rumahku?" tawar Zeline.
"Tidak. Untuk hari ini, aku ingin tidur di rumahku dulu. Kamu masuklah, dan setelah itu langsung istirahat. Jaga kesehatan karena dalam bulan ini, kita akan benar-benar sibuk," ujar Vera mengingatkan artisnya itu.
"Baiklah." Zeline menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan. Ia pun langsung masuk ke dalam rumahnya, akan tetapi sebelum itu ia melambaikan tangannya pada sang manajer.
Dari dalam mobil, Vera mengulas senyumnya melihat tingkah Zeline. Ia sempat berpikir, apakah memang benar yang dikatakan oleh Zeline jika Pak Arman bukanlah sosok yang sebenarnya pengirim bunga itu.
Namun, jika memang benar, lantas siapa yang mengirimkan mawar tersebut. Memikirkan hal itu membuat Vera pusing. Ia melihat Zeline yang sudah menghilang dari balik pintu. Dan gadis itu pun kembali melajukan kendaraannya menuju ke rumah.
....
Zeline baru saja keluar dari kamar mandi. Gadis itu mengenakan kain handuk, lalu kemudian berjalan menuju ke lemari pakaiannya.
Kali ini, ia mengenakan setelan piyama panjang berwarna abu-abu. Saat tengah berada di depan cermin untuk memoleskan serum ke wajahnya, tiba-tiba ia mendengar ponselnya berbunyi.
Zeline beranjak dari tempat duduknya, mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur tersebut. Gadis itu menarik segaris senyum di bibirnya, saat melihat bahwa yang tengah meneleponnya adalah Erika, teman masa SMA nya dulu yang bekerja sebagai koki di salah satu restoran yang ia kunjungi beberapa waktu yang lalu.
"Halo Erika," ucap Zeline menerima panggilan tersebut dengan nada yang lembut.
"Halo Zeline. Apakah aku mengganggu waktumu?" tanya Erika di seberang telepon.
"Ah, tidak. Aku sedang bersantai saat ini," ujar Zeline kembali duduk di depan meja riasnya. Menekan loud speaker pada ponselnya agar dia lebih leluasa berbicara sembari memakai skincare sebelum tidur.
"Aku sebenarnya ingin mengajakmu bertemu. Dan berbincang banyak hal. Namun, aku takut karena kamu adalah artis tersohor, maka jadwalmu pasti sangat padat," ucap Erika.
"Wah, benarkah? Aku tidak sabar menunggu film itu akan diluncurkan. Melihat sahabatku yang sangat terkenal, membuat diriku benar-benar merasa bangga," ujar Erika.
Zeline langsung tersenyum mendengar ucapan temannya itu. "Aku juga bangga padamu. Dan aku berharap, akan mencicipi masakanmu dengan sepuasnya," balas Zeline.
"Dengan senang hati, aku akan memasakkan untukmu asalkan nanti kamu mau mampir ke rumahku," ucap Erika.
"Baiklah, jika jadwalku agak longgar, aku akan berkunjung ke rumahmu." Zeline beranjak dari tempat duduknya setelah memoleskan beberapa produk kecantikan yang membantu merawat kulitnya sebelum tidur.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang berukuran king size tersebut. Terdengar suara berisik dari seberang telepon, membuat Zeline pun bertanya-tanya, apa yang tengah dilakukan oleh temannya itu.
"Er, kamu sedang apa?" tanya Zeline.
"Ah ini, aku sedang menonton televisi. Ya ... hiburan saat menunggu rumah sendirian," timpalnya.
"Salah satu pemainnya mengingatkan ku pada pria yang pernah menjabat jadi ketua OSIS dulu. Apakah kamu ingat?" tanya Erika yang mulai membuka obrolan tentang masa putih abu-abu.
"Si ketua OSIS? Aku sudah agak sedikit lupa dengan wajahnya," ujar Zeline sembari menggaruk-garuk kepala.
"Hmmm dasar! Padahal dulu kamu sendiri lah yang paling tertarik padanya," cecar Erika.
"Ya, mungkin karena IQ ku sedikit jongkok," balas Zeline yang membuat keduanya langsung terkekeh geli.
"Aku mendapat kabar, kalau dia sekarang sakit-sakitan. Ku kira ... dia akan menjadi orang hebat . Memiliki pemikiran yang cerdas, dan juga paras yang tampan," ucap Erika.
"Ya begitulah, masa depan tidak bisa kita tebak akan seperti apa jadinya. Aku juga tidak menyangka, akan menjadi seperti ini. Dulu aku benar-benar dikucilkan di sekolah karena serba kekurangan. Hanya kamu lah temanku satu-satunya yang selalu mendukungku," puji Zeline.
"Aduh, dipuji oleh artis terkenal membuatku semakin melayang," balas Erika dan mereka berdua pun kembali terkekeh geli.
"Sudah jam sepuluh malam, aku juga sudah mengantuk dan kamu juga harus beristirahat. Kita sambung di lain waktu," ucap Erika terdengar suara gadis tersebut yang tengah menguap.
"Baiklah." Zeline pun menimpali seraya mengangguk pelan.
Tak lama kemudian, sambungan telepon terputus. Zeline meletakkan ponselnya ke atas nakas. Saat membahas tentang si ketua OSIS, membuat Zeline pun kembali mengingat-ingat wajah pria yang pernah menjadi idamannya itu.
"Aku benar-benar lupa dengan parasnya. Sepertinya aku benar-benar memiliki IQ yang rendah," gumam Zeline meraih bantal gulingnya.
Tak lama kemudian, gadis itu kembali mengembangkan senyumnya. "Sepertinya aku memang tipe orang yang aneh. Menyukai sesuatu yang tak nyata. Kasus ini sama seperti si pengirim bunga yang tak tahu bentuknya bagaimana, akan tetapi aku tetap menyukainya," gumam Zeline. Gadis itu mencoba memejamkan matanya, dan kemudian larut ke dalam alam mimpi.
Bersambung ....