40 Days With You

40 Days With You
Bab 42. Day 7



Di sebuah jalanan yang sepi, Zeline melangkahkan kakinya sendirian. Ia mengarahkan pandangannya ke sekitar, tak ada siapa pun di sana. Hanya dia sendirian.


Zeline bingung, bagaimana tiba-tiba ia ada di sini, dan bagaimana bisa tempat yang seharusnya jalan tol yang dilintasi oleh banyak mobil, menjadi sepi tak berpenghuni. Seolah ia berada di sebuah kota yang telah mati.


Samar-samar, telinganya mendengar sebuah suara yang meneriakkan namanya.


"Zeline, ku mohon bangunlah!!"


Zeline mencoba mencari keberadaan suara itu . Ia sudah mengedarkan pandangannya ke seluruh arah, akan tetapi ia tidak menemukan keberadaan siapa pun di tempat itu.


"Apalagi ini? Kenapa aku berada di sini? Kenapa aku hanya seorang diri? Siapa yang memanggilku tadi?" ujar gadis itu kebingungan.


Zeline melangkahkan kakinya. Mencoba untuk berjalan ke sekitar sana, barang kali ada seseorang di tempat itu. Sebanyak apapun ia membawa langkah kakinya. Sama sekali tak ia temukan keberadaan siapa pun di sana.


Zeline lagi-lagi merasa kebingungan. Entah kemana perginya semua manusia yang ada di tempat itu, menjadikan jalanan yang seharusnya padat oleh kendaraan dan juga manusia, tiba-tiba langsung sepi begitu saja.


Zeline merasa lelah, ia duduk di sebuah kursi tunggu halte. Ia masih menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak mengerti dengan keberadaannya kali ini.


"Apalagi ini? Di mana aku? Di mana ibu dan ayah? Kenapa aku tiba-tiba berada di sini, di jalanan sepi seperti ini," gumam Zeline.


Ia melihat sebuah mobil yang ada tak jauh dari tempatnya berada. Mobil mewah yang menabrak pembatas jalan. Zeline merasa penasaran, ia pun mendekat ke arah mobil tersebut.


Jika dilihat dari kejauhan, Zeline sudah bisa menebak jika mobil itu memiliki kerusakan parah. Itu tandanya, sang pengemudi pun pastinya akan mengalami luka berat dan bahkan bisa saja meninggal dunia.


Perlahan, Zeline mendekati mobil tersebut. Ia melihat mobil itu penyok parah di bagian depannya. "Sepertinya ini benar-benar kecelakaan yang fatal," ucap Zeline bermonolog. Gadis itu masih memperhatikan bagian depan mobil tersebut.


Zeline memilih mencari sebuah benda untuk membantunya membuka mobil itu dengan segera. Berusaha hendak menolong seseorang yang ada di dalam sana.


Tak jauh dari sana, Zeline melihat sebuah batu. Ia pun mengambil batu tersebut dan ia gunakan untuk memecahkan kaca mobil itu.


Zeline berusaha keras, akan tetapi batu yang ada di tangannya terlalu kecil untuk meretakkan jendela kaca tersebut.


Zeline mencari lebih jauh lagi. Ia berlari ke pinggir jalan, mencari sebuah batu yang berukuran cukup besar. Setelah menemukan apa yang hendak ia cari, ia pun langsung kembali dengan berlari kecil menuju ke mobil tersebut dan memecahkan jendela kaca tersebut, dengan memukul-mukulnya beberapa kali.


Pranggg ....


Jendela kaca itu pun akhirnya pecah. Ia melihat seorang wanita dengan kepala yang tersandar di setir mobil. Sementara wajahnya tertutup oleh sebagian rambutnya.


Zeline berusaha membuka pintu mobil tersebut. Ia pun menggoyang-goyangkan tubuh wanita yang terkulai lemas itu.


"Mbak, bangun Mbak!" seru Zeline.


Zeline mencoba menyibak rambut wanita tersebut. Dan tak lama kemudian, tubuhnya langsung bergetar hebat saat tahu siapa sebenarnya wanita itu.


"Ini ... Tidak mungkin ...."


Bersambung ....