40 Days With You

40 Days With You
Bab 60. Day 15 (Bagian 2)



Setelah mendapatkan telepon dari Vera, Arman pun bergegas meninggalkan kantor. Rasa khawatir sedari tadi menghinggapinya seolah pertanda bahwa memang akan terjadi sesuatu pada Zeline.


Arman masuk ke dalam kantornya, pria itu mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Dengan kegundahan hati, ia membawa mobilnya menuju ke jalanan.


Arman melintasi beberapa mobil yang ada di depannya. Ia tak peduli dengan nyawanya sendiri. Di dalam otaknya hanya dipenuhi oleh Zeline dan Zeline. Ingin menemui gadis tersebut tanpa terhalang oleh apapun.


Tak berapa lama kemudian, Arman pun tiba di rumah sakit. Ia bergegas keluar dari mobil, lalu kemudian berlari menuju ke ruangan tempat Zeline berada.


Mata pria itu memerah, pertanda bahwa ia benar-benar tak ingin kehilangan Zeline. Setibanya di ruangan Zeline, ia melihat Vera tersedu menangis di depan Zeline yang masih terbaring.


Mendengar suara pintu yang baru saja dibuka, membuat Vera pun langsung mengarahkan pandangannya menuju ke sumber suara. Ia menangis melihat Arman yang baru saja tiba.


"Pak Arman, Zeline Pak ...." Tangis Vera kembali pecah, membuat pikiran Arman semakin berkecamuk.


Namun, saat melihat monitor yang menunjukkan gelombang berjalan, membuat Arman merasa sedikit lebih lega. Setidaknya Zeline tidak benar-benar meninggalkannya. Jika memang begitu, entah Arman harus bagaimana tanpa Zeline. Meskipun pria itu belum menjalin hubungan resmi dengan Zeline, akan tetapi rasa cintanya begitu besar terhadap wanita tersebut.


"Apa kata dokter?" tanya Arman yang berdiri di sisi brankar.


"Awalnya monitor tak menunjukkan adanya detak jantung Zeline. Setelah diperiksa oleh dokter dan dipancing dengan alat untuk kejut jantung, jantung Zeline kembali berdetak. Namun, dokter mengatakan bahwa Zeline hanya bertahan hidup karena bantuan alat medis saja. Dan untuk kesembuhannya, kemungkinannya sangat kecil," jelas Vera sembari tersedu menjelaskan semuanya pada Arman.


Awalnya Vera mengira saat dokter menggelengkan kepala, pertanda bahwa Zeline benar-benar telah berpulang. Namun, ternyata dugaannya salah. Zeline berhasil diselamatkan akan tetapi kondisi Zeline semakin memburuk dan memiliki kemungkinan kecil untuk bisa sadar dari komanya.


Mendengarkan penjelasan dari Vera, membuat Arman naik pitam. Ia mengepalkan tangannya, merasa kesal akan penjelasan dokter yang didengarnya dari Vera.


"Mana dokternya? Biar aku menemuinya?!" geram Arman.


Melihat Arman yang berapi-api, membuat Vera pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia segera menghalangi Arman, mencegah agar pria itu tidak membuat keributan di rumah sakit.


"Tolong, Pak. Jangan seperti ini. Jangan membuat keributan di rumah sakit. Kasihan melihat Zeline, dia pasti akan bersedih jika Pak Arman harus ribut dengan dokter karena pernyataannya tadi," ujar Vera sembari merentangkan tangannya, mencoba menghalangi Arman.


"Jika memang dia tidak bisa menangani Zeline, aku akan membawa Zeline ke rumah sakit yang lebih baik dari pada ini. Aku akan mencarikan dokter yang hebat, yang bisa menyembuhkan Zeline!" seru Arman.


Vera kembali berderai air mata. Gadis itu menahan Arman dengan memegangi lengan kekar pria tersebut. Ia terpaksa melakukan ini untuk menahan Arman agar tidak melanjutkan aksinya.


"Tolong, Pak. Kasihan Zeline, tolong jangan lakukan itu," ujar Vera tersedu.


Melihat Vera yang sudah terisak, membuat Arman pun mengurungkan niatnya.


"Arrggghhh ...." Arman menjambak rambutnya, pria itu benar-benar merasa frustasi.


Dengan langkah yang gontai, Arman kembali berjalan menghampiri Zeline. Pria itu meraih tangan Zeline yang tertancap dengan selang infus. Ia mencium punggung tangan Zeline. Bahunya bergetar, Arman menitikkan air matanya. Ia tak kuasa menahan air mata yang selama ini ditahannya. Tak peduli, jika nanti Vera akan mengatainya pria yang cengeng. Inilah yang ia rasakan saat ini, kesungguhan cinta yang ia miliki memang sangat besar untuk gadis yang masih setia menutup matanya hingga saat ini.


"Zeline, lihatlah! Kami sangat mengharapkan kamu untuk kembali. Ku mohon Zeline, sadarlah. Kami benar-benar berharap kamu kembali ada bersama dengan kami, tertawa bersama dan saling bersenda gurau. Aku merindukan masa-masa itu."


"Belum lagi Pak Arman, beliau sangat mencintaimu lebih dari apapun. Ketulusannya tidak diragukan lagi. Ia benar-benar kacau, Zeline. Kacau karena kamu tak lekas membuka mata," batin Vera sembari memperhatikan Arman yang masih menangis sembari mengecup punggung tangan Zeline.


...****************...


Zeline terbangun di sebuah hutan belantara. Ia terkejut mendapati dirinya ada di tempat ini. Lagi-lagi ia berada di sini, dan itu membuat Zeline bingung sendiri. Samar-samar ia mendengar suara tangis, akan tetapi itu bukan suara ibunya. Seolah ada yang memanggil dirinya.


Tolong kembalilah, Zeline.


Mendengar suara tersebut, membuat Zeline celingukan. Ia tak tahu dari mana asal sumber suara itu, yang pastinya Zeline merasa jika di sana hanyalah dirinya sendiri, tak ada orang lain.


"Sebenarnya dimana ini? Sudah kedua kalinya aku tiba-tiba berada di sini dan pada akhirnya aku terbangun dua hari kemudian. Apakah aku tengah bermimpi?" gumam Zeline.


Mendengar suara tangis itu, membuat dada Zeline juga terasa sakit. Namun, setelah Zeline mencoba ingat-ingat, suara itu terasa tak asing. Suara yang selalu memanggilnya, dan menyebut nama Arman di setiap tangisnya itu.


Tentang Arman, ingatan Zeline masih abu-abu. Pertanda bahwa ia belum bisa mengingat tentang nama itu. Entah mengapa suara isak tangis itu selalu saja menyebutkan nama Arman.


Sesaat kemudian, ada dua buah kertas yang jatuh dari atas. Gadis itu pun langsung memungut kertas tersebut, dan melihat di dalam kertas itu ada sebuah tulisan.


"Kembali atau tetap tinggal?" gumam Zeline membaca isi kertas tersebut.


Zeline mendongak, mengira bahwa ada yang menjatuhkan kedua kertas tersebut dari atas. Namun, Zeline tak melihat apa-apa.


Zeline kembali menatap kertas tersebut secara seksama. Seketika, Zeline pun teringat akan pilihan yang belum ia buat. Keputusan dia harus terbangun dari komanya, atau justru tetap tinggal di sini untuk selamanya.


Suara demi suara pun kembali ia dengar, kali ini bukan hanya suara wanita tadi, akan tetapi banyak orang yang seolah menyuruhnya untuk kembali.


Di sisi lain, Zeline juga mengingat Ezra. Bagaimana pria itu menatapnya dengan sendu, menceritakan kisah sedihnya sebelum ia meninggalkan dunia untuk selamanya. Zeline juga teringat wajah ayah dan ibunya, dan hal itu membuat Zeline kesusahan untuk menentukan pilihannya.


"Bisakah aku menjadi sedikit serakah? Aku ingin meminta agar untuk tetap terbaring koma selama 40 hari saja. Setelah 40 hari, aku akan membuat keputusan. Dan tentunya, aku sudah siap untuk kedepannya," ujar Zeline.


Tak lama kemudian, kedua kertas yang ada di tangan Zeline pun menghilang begitu saja. Kali ini ia kembali dijatuhi sebuah kertas, dan Zeline pun kembali memungutnya. Ia membaca isi kertas tersebut.


Tersisa 25 hari lagi dari 40 hari yang kamu minta.


Bersambung ....