
Mentari menyapa paginya. Zeline membuka mata, lalu kemudian mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. Gadis itu menggeliat, meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Lalu ia pun menutup mulutnya yang tengah ternganga lebar karena menguap.
Ia teringat akan kejadian kemarin, dimana saat mereka saling bermesraan dan bibir mereka saling menyentuh. Hal tersebut tentu saja membuat pipi Zeline langsung merah merona.
Gadis itu memegangi kedua pipinya karena merasa malu. Perasaan yang begitu menggelitik seakan ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.
"Zeline, kamu sudah bangun, Nak?" tanya ibu Zeline yang berada di luar sembari mengetuk pintu kamarnya.
"Iya, Bu." Zeline langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung membukakan pintu untuk wanita yang telah melahirkannya itu.
"Bersihkan tubuhmu dan segeralah turun! Kita sarapan!" ajak ibunya seraya mengembangkan senyum.
"Baik, Bu."
Melihat ibunya pergi dari sana, membuat Zeline hendak menutup pintunya kembali. Namun, sebelum gadis itu menutup pintunya rapat-rapat, gadis itu menyempatkan dirinya menoleh ke arah kamar yang ada di sebelah, yang tak lain ditempati oleh Ezra.
"Apakah dia sudah bangun lebih awal?" gumam Zeline.
Zeline menggelengkan kepalanya, ia segera menutup pintu dan hendak bergegas mandi. Tidak ingin jika Ezra kembali menemuinya dalam keadaan yang berantakan seperti ini. Cukup kemarin saja, kalau bisa jangan sampai terulang lagi.
Zeline berjalan menuju ke kamar mandinya. Gadis itu langsung membersihkan tubuhnya. Setelah sekitar lima belas menit lamanya, ia pun keluar dengan rambut yang basah.
Zeline menggulung rambut basah tersebut dengan kain handuk. Berjalan menuju ke lemari, dan mengambil salah satu setelan pakaian yang ia keluarkan dari kopernya kemarin.
"Yang ini bagus," gumam Zeline seraya menatap pantulan dirinya di cermin.
Tak menunggu waktu yang lama, Zeline pun langsung mengenakan pakaian tersebut. Baju itu tampak sangat cocok dengannya, melekat indah di tubuhnya.
Setelah semuanya selesai, Zeline pun segera turun untuk sarapan bersama. Sebelum keluar, ia kembali mengecek penampilannya. Tak ingin satu pun ada yang kurang dari dirinya.
Seusai melakukan hal tersebut, Zeline langsung melangkah pergi dari kamarnya. Ia menuruni anak tangga, dan langsung menuju ke dapur. Di sana ia tak menemukan siapa pun. Hal itu kembali membuat Zeline bertanya-tanya.
"Kemana perginya semua orang?" gumam Zeline.
Ia melangkahkan kakinya, mencoba mencari keberadaan orang-orang yang ada di villa tersebut. Zeline melihat Ezra yang tengah duduk di halaman belakang. Pria itu tidak sendirian, melainkan ada ayah dan ibu Zeline yang juga berada di sana.
Zeline baru saja hendak melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar satu kalimat yang terucap dari mulut ayahnya.
Om memperkenalkan kamu sebagai tunangan Zeline karena om merasa kasihan padamu, kelak kalian juga akan dipisahkan lagi, dan Zeline kembali melanjutkan hidupnya seperti biasa.
Degggg ...
Zeline tertegun mendengar semua itu. Gadis itu menutup mulutnya tak percaya. Apa maksud dari ucapan ayahnya? Apakah benar setelah ini Zeline dan Ezra akan berpisah lagi?
Air mata Zeline jatuh begitu, sementara kakinya serasa tak bisa menampung berat tubuhnya, membuat Zeline langsung luruh ke lantai.
Perlahan, ingatan yang lainnya pun mulai bermunculan, membuat Zeline memegangi kepalanya sembari menggeleng.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin!!" geramnya.
Bersambung ..