
"Ada apa, Nak? Kamu kenapa menangis, Sayang?" tanyanya lembut.
"Apakah aku sedang bermimpi? Apakah ini nyata?" tanya Zeline sembari menitikkan air matanya.
"Kamu sepertinya mengigau, ayo lekas bersihkan dirimu dan segera sarapan. Ayah menunggumu di bawah!" ucapnya.
"Ibu!" seru Zeline yang langsung memeluk ibunya dari belakang. Ia sungguh merindukan punggung hangat ini. Ia merindukan senyuman serta suara ibunya.
Wanita paruh baya itu berbalik, lalu kemudian membalas pelukan putrinya. "Kamu sudah besar, tetapi masih saja cengeng!" cecarnya sembari mengusap punggung Zeline dengan lembut.
"Jika ini mimpi, aku ingin tetap seperti ini, Bu."
"Ssssttt ... kamu ini berkata apa?! Sekarang lekas bersihkan tubuhmu dan kita akan sarapan bersama di bawah!" ucap wanita paruh baya itu, sedikit menepuk bokong Zeline saat anak gadisnya bersikap aneh.
Zeline tertawa sembari menyeka air matanya. Ia pun langsung menganggukkan kepalanya dan segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Zeline masih berpikir keras. Entah bagaimana ia bisa bertemu dengan ibunya. Dan keadaan seperti ini, cukup membuat dirinya bahagia.
"Aku berharap, akan terus seperti ini. Jika memang ini adalah mimpi, maka aku akan bermimpi dalam waktu yang panjang," gumam Zeline.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Zeline pun memilih pakaian santainya di lemari. Duduk di meja rias, memoles wajahnya dengan sedikit make up dan menata rambutnya.
Setelah semuanya selesai, Zeline pun keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuruni anak tangga, menuju ke meja makan, dimana tempat semua orang berada.
Saat melangkahkan kakinya mendekati meja makan, ia menangis, melihat wajah ayahnya yang tengah tertawa bersama dengan ibunya. Pria paruh baya dengan kacamata bertengger di batang hidungnya pun melihat putrinya yang sedari tadi menatapnya dari kejauhan.
"Loh, kamu kenapa nangis di situ? Ayo sini sarapan!" ucap pria paruh baya tersebut menatap anak gadisnya dengan heran.
"Ck! Si Zeline ini, kenapa menangis terus sih, Nak. Ayo sini, duduklah!" ibu dari Zeline pun ikut angkat bicara. Ia menepuk kursi kosong di sebelahnya, menyuruh putrinya untuk duduk di tempat tersebut.
Zeline menganggukkan kepalanya, lalu berjalan menuju ke meja makan. Rasa tak percaya masih menyelimuti dirinya. Pertemuan dengan kedua orang tuanya kali ini cukup membuatnya terkejut, sekaligus terharu.
Gadis itu menjatuhkan bokongnya, ia tersenyum menatap kedua orang tuanya yang dapat dilihatnya kembali.
"Makanlah! Ibu lihat, kamu semakin kurus saja," ucap ibu dari Zeline.
"Iya. Kamu harus jaga kesehatan, Zeline." Kali ini sang ayah juga menambahi ucapan Zeline.
Zeline menganggukkan kepalanya. Ia memakan semua makanan yang ada di atas meja dengan begitu lahap. Sesekali ia menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian, dan kemudian kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Setelah menyelesaikan sarapan, Zeline langsung bergerak membantu ibunya mencuci piring. Ibu Zeline menyuruh Zeline untuk tidak usah membantunya, akan tetapi Zeline tak mau pergi dari tempat itu dan justru semakin bergelayut manja dengan ibunya.
"Ayolah, Zeline! Kamu ini kenapa? Ibu perhatikan sedari tadi kamu menempel terus seperti prangko," ujar Ibu Zeline yang sedikit merasa risi karena sang anak yang terus saja bergelayut manja dengannya.
"Biarkan dulu seperti ini, Bu. Aku ingin memeluk ibu sepuasnya. Aku ingin tetap seperti ini," ucap Zeline.
Ibu Zeline pun langsung berbalik menatap putrinya, membelai surai panjang Zeline dengan lembut. "Sebaiknya kamu melakukan aktivitas yang lain. Jika terus seperti ini, cucian piring ibu tidak akan selesai," protes ibu Zeline.
Zeline pun mundur beberapa langkah, membiarkan ibunya melakukan apa yang hendak ia lakukan. Ibu Zeline pun mulai mencuci piring, sesaat kemudian ia berbalik menatap putrinya yang seperti patung, memperhatikannya dari belakang.
"Astaga," ujarnya sembari menggelengkan kepalanya dengan pelan. Sementara Zeline hanya tersenyum melihat ibunya.
Selesai mencuci piring, ibu Zeline langsung berjalan ke ruang tengah, duduk di samping suaminya. Sementara Zeline, ia duduk lebih dulu dan memilih untuk berada di posisi tengah-tengah di antara keduanya.
Zeline mengabaikan tatapan itu. Justru ia bertingkah layaknya anak kecil yang ingjn bermanja-manja dengan kedua orang tuanya.
"Kamu kenapa Nak?" tanya ayahnya dengan lembut.
Zeline menggelengkan kepalanya, ia hanya tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu ayah dan ibunya secara bergantian.
"Apakah kamu tidak memiliki kegiatan hari ini?" tanya ibunya.
Zeline tampak berpikir, ia juga bingung selama ini kegiatan apa yang ia lakukan. Dirinya hanya bisa mengingat disaat kehilangan kedua orang tuanya saja. Dan setelah itu, ingatan gadis itu seakan hilang sebagian.
Apa yang terjadi dengan dirinya? Bagaimana dia bisa bertemu dengan kedua orang tuanya kembali? Semua itu seolah terjadi begitu saja.
"Kegiatan? Sepertinya selama ini aku tidak memiliki kegiatan apapun. Ayolah ibu, ayah! Biarkan anakmu ini bergelayut manja seperti ini. Lagi pula Zeline tidak ingin kehilangan ayah dan ibu untuk yang kedua kalinya," ucap gadis itu.
Lagi dan lagi kedua orang tuanya menatap heran Zeline. Ia tidak mengerti dengan ucapan anak gadis semata wayangnya itu.
Ayah Zeline melipat koran yang ada di tangannya. Waktu membacanya terganggu karena putrinya yang seakan ingin meminta waktu lebih pada dirinya.
"Baiklah. Hari ini kita akan lebih bersantai dan tak melakukan aktivitas apapun," ujar ayah Zeline yang langsung membuat Zeline mengangguk dengan antusias. Sementara ibu Zeline, ia hanya mengendikkan bahunya, melihat ayah dan anak yang terlihat memiliki sifat yang sangat mirip.
Sore harinya, keluarga kecil itu menghabiskan waktu dengan memetik sayuran yang ada di halaman rumah bagian belakang. Sesekali Zeline menyeka keringatnya, ia mendongak menatap langit yang mulai berwarna jingga.
"Kenapa aku merasa sedikit aneh. Entahlah, rasanya ada yang berbeda dari diriku. Seakan aku tengah tersesat. Namun, bagaimana aku bisa tersesat? Sedangkan saat ini aku tiba-tiba kembali bertemu dengan ibu dan ayahku. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" batin Zeline.
"Nak! Ayo pulang! Hari sudah beranjak malam," seru kedua orang tuanya berteriak memanggil Zeline.
Zeline tersadar, jika saat ini orang tuanya sudah bersiap untuk menuju ke rumah sembari membawa keranjang yang berisi sayuran.
Seusai memetik sayuran tadi, Zeline pun segera membersihkan tubuhnya. Selang beberapa menit kemudian, Zeline keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Gadis itu berjalan menuju ke lemari pakaian dan memakai salah satu piyama yang ada di sana. Setelah semuanya selesai, ia pun turun dan berjalan menuju ke dapur untuk membantu ibunya memasak hasil sayuran yang mereka peroleh tadi.
Tettt ... Tettt ...
Terdengar suara bel berbunyi. Membuat Zeline mengurungkan niatnya untuk menemui ibunya di dapur dan langsung berjalan menuju pintu, membukakan seseorang yang ada di luar sana.
Pintu terbuka, Zeline menatap dari atas hingga bawah. Seorang pria tampan dengan kedua lesung pipinya yang sangat manis. Mengenakan setelan berwarna putih dan memegang sebuket bunga mawar.
Pria itu tersenyum menatap Zeline. Dan langsung menyodorkan bunga tersebut kepada gadis itu. Zeline masih bingung, ia tidak mengenal siapa pria yang ada di hadapannya. Dengan secara tiba-tiba, pria itu bersikap akrab dan memberikan sebuket mawar untuknya.
"Siapa Nak?" tanya ayah Zeline.
"Zeline tidak tahu, Yah." Zeline bergumam sembari menatap pria tersebut.
Suara langkah kaki pun terdengar mendekat ke arahnya. Zeline berbalik, melihat sang ayah yang sudah berada di belakangnya.
"Apakah kamu lupa? Dia Ezra, Nak. Tunanganmu!"
"Hah? Tunangan?!" ujar Zeline tercengang.
Bersambung ....