
Hari itu, senyum tak henti-hentinya terukir di wajah Zeline. Ia merasa, ada sesuatu yang beda. Hidupnya terasa lebih berwarna dari yang sebelumnya.
Di atas biang lala, Ezra menggenggam tangan Zeline dengan erat. Zeline menatap pria yang ada di sampingnya sejenak, lalu Zeline, kemudian mengembangkan senyumnya.
"Apakah kamu merasa senang?" tanya Ezra.
"Hmmm ...." Zeline menimpali pria di sebelahnya disertai dengan anggukan kepala.
Di atas biang lala yang masih berputar, Zeline dan juga Ezra saling melemparkan senyum dengan tangan yang masih bertaut. Entah mengapa, Zeline seakan tak ingin lepas dari genggaman tangan Ezra. Ia sangat takut, jika nanti Ezra akan jauh darinya. Dan hal itu tiba-tiba terlintas begitu saja di dalam pikirannya.
Setelah selesai menaiki biang lala, mereka pun berpindah ke wahana lainnya. Hari itu, keduanya menghabiskan waktu dengan bersenang-senang. Tanpa mereka sadari, hari pun sudah beranjak sore. Keduanya memutuskan untuk pergi dari sana dan bersiap untuk pulang ke rumah.
"Kamu tidak menginginkan itu? Biasanya anak-anak sangat menginginkannya," ujar Ezra sembari menunjuk ke arah gulali yang dijual oleh abang-abang yang ada di tempat tersebut.
"Sepertinya kamu sedang menyamakan aku dengan anak kecil," gerutu Zeline memperlihatkan wajah badmood yang sedikit dibuat-buat.
"Maaf, bukan maksudku untuk menyinggungmu. Akan tetapi aku hanya sekedar menawarkan saja," balas Ezra.
"Ya sudah, kalau begitu aku menginginkannya," ucap Zeline. Ezra langsung terkekeh mendengar respon dari Zeline.
Ezra langsung segera menemui penjual kembang gula tersebut dan membeli satu tangkai makanan manis itu. Dan menyerahkannya langsung pada Zeline.
"Terima kasih," ujar Zeline menerima makanan yang diberikan oleh Ezra.
"Kita pulang sekarang?" tanya Ezra memastikan.
Saat ini, kedua orang tersebut berada di dalam sebuah mobil. Zeline tersenyum sembari sesekali memakan kembang gula yang ada di tangannya.
"Rasanya sangat manis," ucap Zeline mengomentari makanannya.
"Sebenarnya aku kurang menyukainya. Namun, karena ini pemberian darimu, maka aku akan menghabiskan semuanya," lanjut Zeline.
"Jika memang kamu tidak sanggup, ada baiknya untuk tidak dipaksakan. Ada beberapa hal yang memang terkadang berkaitan dengan sesuatu yang manis-manis, akan tetapi belum tentu bisa membuatmu menyukai hal tersebut," tutur Ezra.
"Layaknya sebuah kenangan manis, dan berakhir dengan sebuah perpisahan," lanjut Ezra.
Zeline mengalihkan fokusnya pada kembang gula, ia mengarahkan pandangannya ke arah pria yang sedang berada di balik setir.
"Aku merasa sedikit aneh," ucap Zeline.
"Aneh? Maksudnya?"
"Aku perhatikan, entah itu kedua orang tuaku atau pun kamu, selalu saja berkata tentang hal-hal yang sedikit aneh. Kalimat yang kalian lontarkan sangat dalam dan seolah mengisyaratkan akan sebuah perpisahan," jelas Zeline. Ia benar-benar merasa penasaran, kenapa semua orang selalu saja berkata demikian.
Padahal, Zeline merasa bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya dan juga yang lainnya. Namun, satu hal yang ia ingat, bagaimana saat ia terbangun dan mendapati bahwa dirinya bertemu dengan orang tuanya yang pada kenyataannya telah tiada.
Namun, bagaimana dengan sosok pria yang ada di sampingnya? Apakah ia juga sama seperti kedua orang tua Zeline? Tak terasa, air mata mengalir begitu saja dari pelupuk matanya. Dengan cepat, Zeline langsung menghapusnya.
"Ini semua tidak benar. Ya ... semoga saja tidak terjadi apa-apa nantinya," batin Zeline.