
Zeline tengah duduk di salah satu kursi. Sesi pengambilan gambar telah selesai. Ia melihat Vera dengan wajah sumringahnya berjalan mendekat ke arah Zeline.
"Sudah selesai?" tanya Vera menghampiri Zeline.
"Iya," timpal Zeline seraya menganggukkan kepalanya.
"Kamu dari mana saja?" tanya Zeline memperhatikan Vera dengan seksama.
"Aku?" Vera menunjuk dirinya sendiri. Gadis itu beranjak dari tempat duduknya, mendekat pada Zeline dan berbisik tepat di depan telinga Zeline.
Mendengar sesuatu yang dikatakan oleh Vera membuat kening Zeline langsung berkerut. "Apakah kamu benar yakin?" tanya Zeline.
"Iya. Aku sangat yakin," ujar Vera.
Beberapa kru mulai bersiap untuk membereskan peralatan di lokasi syuting. Zeline dan juga Vera berjalan menuju ke mobil. Di sana, ia melihat Gery yang tengah sibuk memainkan game di ponselnya.
"Woyy!!" seru Vera sedikit bersuara keras, hingga mengagetkan Gery yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Astaga! Kamu mengagetkan saja," ucap Gery seraya mengusap dadanya.
"Lagian dari tadi mainan game terus," gerutu Vera kepada sang supir.
"Ya ... tadi kan masih sibuk syuting, Madam. Main game juga biar tidak terlalu suntuk. Udah mau pulang sekarang?" tanya Gery.
"Iya, Ger. Makanya jangan mainan hape terus," ucap Vera. Kedua gadis itu masuk ke dalam mobil Van tersebut.
"Sudah-sudah tidak usah ribut. Lagi pula aku kita sudah di dalam mobil," ujar Zeline mencoba untuk menengahi, sedari tadi Gery dan juga Vera tampak gaduh hanya karena masalah yang sepele.
Sesaat kemudian, Vera mengambil buket bunga mawar yang diberikan oleh Arman tadi. Gadis itu langsung menyerahkan buket tersebut pada Zeline.
"Ini ... ada titipan dari Pak Arman," ucap Vera sembari menyodorkan bunga tersebut.
Zeline langsung menerima mawar yang diberikan oleh sang manager. Ia melihat bunga tersebut dengan seksama. Dan benar saja, bunga itu sangat mirip dengan bunga yang selama ini ia terima.
"Bagaimana? Apakah menurutmu ada sesuatu yang kurang meyakinkan dari bunga yang diberikan oleh Pak Arman?" tanya Vera.
Zeline sontak menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka jika si pengirim bunga tersebut adalah Arman. Ia mencari kartu ucapan yang biasanya terselip di mawar itu. Namun, Zeline tak menemukannya.
"Di mana kartu ucapannya?" gumam Zeline.
"Oh iya. Pak Arman berkata agar kamu selalu menjaga kesehatan. Ia sengaja tak menuliskan kartu ucapan untukmu karena tidak sempat," jelas Vera.
"Sekarang ... kamu tidak akan bertanya-tanya lagi, tentang si pengirim bunga yang selalu menyemangatimu setiap hari. Karena kamu telah melihat sendiri sosok si pengirim bunga tersebut," lanjut Vera.
Diam-diam, Gery menatap kedua gadis yang ada di belakang melalui spion tengah. Entah mengapa, kali ini tampaknya mata Gery seolah menyiratkan akan suatu kekecewaan yang mendalam.
Saat Zeline menyadari bahwa Gery tengah memperhatikannya, dengan cepat pria itu pun mengarahkan pandangannya kembali ke jalanan.
Zeline menatap bunga yang ada di pelukannya. Matanya melihat ke setiap inchi bunga yang ada ditangannya. Dan semua itu, memang benar adanya. Bunga tersebut tak berbeda sama sekali dengan bunga yang sering ia dapatkan. Dan merk toko bunga itu pun sama persis.
"Jika memang si pengirim bunga itu adalah Pak Arman, aku harus mengucapkan terima kasih padanya . Karena bunga yang aku dapatkan darinya, selalu membuat diriku bersemangat," batin Zeline.
Vera melirik jam tangannya. Perutnya merasa lapar. Ia pun berucap pada Gery, meminta pria itu membawanya ke salah satu restoran langganan yang sering mereka kunjungi.
"Ger, nanti mampir di restoran biasanya ya. Kalau di tempat makan yang lain, aku takut Zeline akan dikerubungi oleh orang-orang," ucap Vera pada Gery.
Gery menimpali ucapan Vera dengan sebuah anggukan pelan. Ia pun menginjak pedal gas mobilnya, untuk menambah kecepatan laju kendaraan tersebut.
Perjalanan di tempuh sekitar lima belas menit, mereka pun akhirnya sampai di tempat tujuan. Zeline dan yang lainnya langsung turun dari kendaraan tersebut. Tak lupa masker serta topi untuk melindungi wajah Zeline dari orang-orang yang mungkin akan mengenalinya sebelum masuk ke restoran tersebut.
"Kalian makanlah,aku ingin beristirahat di dalam mobil saja," ujar Gery yang tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Sontak membuat kedua gadis yang ada di depannya langsung menoleh ke arah pria tersebut.
"Kenapa?" tanya Vera mengernyitkan keningnya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak merasa lapar saja," timpal pria itu dan kembali masuk ke dalam mobil tersebut.
Sementara Zeline dan juga Vera hanya bisa saling melempar pandang, lalu kemudian mengendikkan bahunya.
"Sepertinya dia sedang putus cinta. Biarkan saja!" ujar Vera yang tak ingin ikut campur dengan urusan supir pribadinya itu.
Zeline dan Vera disambut oleh pelayan yang ada di sana. Salah satu pelayan tersebut membawa keduanya menuju ke privat room.
Zeline melepaskan topinya serta masker berwarna hitam, senada dengan topi yang ia kenakan tadi. Kedua gadis tersebut sibuk menatap buku menu yang ada di hadapan mereka.
"Aku pesan chargrilled chicken with barbeque sauce, minumnya lemon squash," ujar Vera. Pelayan itu pun langsung mencatat pesanan Vera.
Setelah mencatat pesanan yang Vera sebutkan, pelayan itu melemparkan pandangannya ke arah Zeline. Pelayan tersebut sangat kagum dengan kecantikan Zeline. Namun, karena ia harus profesional dalam bekerja, pria yang mengenakan seragam resto itu mampu menormalkan ekspresi wajahnya seperti biasa.
"Kalau aku pesan wagyu special with mozarella sauce, minumnya blue ocean soda," ucap Zeline sembari mengembangkan senyumnya ke arah Vera yang sedari tadi menatapnya dengan tajam.
"Sesekali aku ingin menikmati hasil jerih payahku dengan makan-makanan yang enak. Aku bosan jika hanya mengkonsumsi green juice atau pun salad," lanjut Zeline sembari terkekeh.
Vera ingin bersuara, akan tetapi ia membiarkan pelayan tadi pergi terlebih dahulu sebelum berucap kepada Zeline. Setelah pelayan itu benar-benar pergi, barulah Vera memarahi Zeline karena memesan makanan yang mengandung kalori tinggi.
"Tetap saja. Kamu masih memiliki banyak job pemotretan. Dan sebentar lagi kamu juga akan menjalani syuting. Harusnya kamu menjaga berat badanmu tetap ideal," tegur Vera dengan pelan akan tetapi penuh penekanan.
"Iya iya, aku tahu. Kamu tenang saja! Setelah ini aku akan berolahraga. Sebaiknya, untuk yang kali ini, biarkan aku makan-makanan yang enak terlebih dahulu," ujar Zeline.
"Terserah kamu saja, Nona Keras Kepala." Vera menghela napasnya, memutar bola matanya dengan malas melihat kelakuan Zeline.
Sementara Zeline, gadis itu mengabaikan peringatan dari Vera. Melihat sang manajer yang terus menerus memakan-makanan lezat, tentu saja ia juga menginginkan hal itu.
Setelah cukup lama menunggu, pintu pun kembali terbuka. Salah satu koki restoran mengantarkan makanannya tersebut secara langsung kepada Zeline.
Biasanya, koki yang sering mengantarkan hidangan untuk Zeline adalah seorang pria. Akan tetapi kali ini koki tersebut adalah wanita.
Wanita yang mengenakan seragam koki tersebut langsung menghidangkan makanan ke atas meja. Ia menatap ke arah Zeline, lalu kemudian mengembangkan senyumnya.
"Apakah kamu masih mengenalku?" tanyanya.
Zeline pun mengernyitkan dahinya, menatap wanita tersebut dengan seksama.
Bersambung ...