
Ezra membawa langkah kakinya pergi dari tempat tersebut. Ia menatap bunga mawar yang masih berada di genggamannya, bunga yang hendak ia berikan pada sang gadis pujaan, akan tetapi niat tersebut tak tersampaikan.
Sesaat kemudian, dirinya melihat seorang gadis yang tengah menyendiri. Gadis yang juga merupakan seorang artis karena dulu Ezra pernah melihat wajahnya di beberapa poster iklan.
Ezra tak mungkin membawa kembali bunga itu. Ia pun memilih untuk memberikannya pada gadis tersebut.
"Maaf, aku membawa bunga. Ku harap, kamu bersedia menerimanya," ujar Ezra menyodorkan bunga tersebut kepada gadis yang masih membelakanginya.
Gadis itu pun mengarahkan pandangannya pada Ezra, yang tak lain adalah Dira, wanita yang selalu merasa iri pada Zeline.
Dira memindai penampilan Ezra dari atas hingga ke bawah, melihat penampilannya yang sederhana, membuat Dira pun mencibir di dalam hatinya. Namun, karena ia tak ingin ada rumor jahat tentang dirinya, dengan terpaksa Dira pun menerima mawar tersebut.
"Terima kasih," ucapnya yang sedikit angkuh.
Ezra tersenyum, memperlihatkan kedua lesung pipinya, sangat manis untuk ukuran seorang pria. Ia pun meninggalkan Dira begitu saja seusai memberikan bunga tersebut. Membawa luka hati yang masih ia tahan hingga sampai saat ini.
Ezra memasang helmnya kembali, mengendarai motornya dan pergi dari tempat itu. Sementara Dira, ia berdecak sembari tersenyum remeh melihat Ezra yang hanya mengendarai sepeda motor.
"Untuk ukuran wajah, dia cukup manis. Namun, dia bukanlah tipeku," gumam Dira yang juga pergi meninggalkan tempat tersebut, kembali ke lokasi syuting.
Sembari berjalan, gadis itu membaca kalimat yang tertulis di kartu ucapan tersebut.
Semangat dan sukses selalu.
"Apa ini? Kalimat yang begitu murahan," cecar Dira.
Gadis tersebut membuang kartu ucapannya begitu saja. Tak jauh dari tempatnya berada, ia melihat tong sampah. Dira pun segera mendekati tong sampah tersebut dan membuang bunga pemberian dari Ezra tadi.
"Jika bunga itu pemberian dari orang seperti modelan Pak Arman, mungkin aku akan senang hati membawanya pulang," cibirnya kembali melangkahkan kakinya.
Sementara dari kejauhan, Gery melihat perbuatan Dira. Ia sangat marah, karena Ezra sudah dua kali dianggap remeh oleh wanita. Diam-diam, Gery mengambil gambar dari ponselnya saat melihat Ezra memberikan bunga tersebut. Dan ia pun juga memotret Dira yang membuang bunga tersebut secara terang-terangan.
"Lihatlah! Sebentar lagi karirmu akan hancur, Dira! Terlalu rendah memperlakukan abangku seperti itu, padahal kamu tidak tahu, jika bunga itu hendak ia berikan untuk Zeline. Namun, karena melihatmu termenung, abangku berbesar hati memberikan bunga itu padamu," gerutu Gery yang kembali memeriksa beberapa gambar di ponselnya.
....
Zeline dan yang lainnya kembali menjalankan proses syuting. Mereka mendalami peran yang dilakoni, dan hal tersebut juga tak luput dari kesalahan dalam pengucapan dari para pemain.
Beberapa kali mereka mengambil ulang adegan syuting. Hingga akhirnya, hari itu pun syuting mereka sudahi dan akan berlanjut di keesokan harinya.
Zeline berjalan menuju ke mobil, sembari menggertakkan lehernya yang terasa pegal. Ia melihat dari kejauhan Vera datang menghampirinya sembari memberikan sebotol air mineral untuk Zeline.
"Hari ini kamu terlihat sangat keren. Seakan peran yang kamu bawakan itu menyatu dengan dirimu. Berbeda dengan wanita yang ada di ujung sana, beberapa kali melakukan take ulang karena salah pengucapan serta aktingnya yang terlihat sangat buruk!" cecar Vera.
Zeline menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa heran pada Vera yang seakan menyimpan sebuah dendam amat dalam pada Dira.
"Sepertinya kamu benar-benar dendam dengannya," ujar Zeline.
"Tentu saja. Siapa pun yang menyakitimu, maka dia akan berhadapan denganku," balas Vera sembari menepuk dadanya dengan yakin.
"Baiklah, terima kasih atas perhatiannya. Kalau begitu, ayo kita pulang!"
Saat berjalan beberapa langkah, ponsel Vera berbunyi. Gadis itu pun menyuruh Zeline lebih dulu karena ia hendak menerima telepon terlebih dahulu.
Zeline menimpalinya dengan sebuah anggukan. Ia menuju mobil Van yang terparkir di ujung sana. Namun, pandangannya tertuju pada sesuatu, sebuah kartu ucapan yang tergeletak di tanah mencuri perhatiannya.
"Ini ...." Zeline menunduk, mengambil kartu ucapan tersebut.
Ia membaca pesan yang ada di dalam sana, dan benar saja, Zeline mengenal tulisan tangan itu. "Bukankah ini ...."
Tak jauh dari sana, Zeline juga menemukan buket mawar yang sudah tampak layu akibat terlalu lama terpapar sinar matahari. Zeline memungut bunga tersebut, matanya berkaca-kaca karena tak menyadari jika pria itu datang.
"Sepertinya kamu memang memiliki hobi sebagai pemulung! Aku sudah membuang bunganya, akan tetapi kamu memungutnya kembali di tong sampah yang berbau itu," cecar seseorang dari belakang.
Zeline berbalik, melihat Dira bersama dengan asistennya yang sedang memperhatikannya secara seksama.
Zeline menghapus air mata yang jatuh di pipinya. Ia pun langsung menghampiri wanita tersebut. "Apakah seseorang yang memberikan ini padamu?" tanya Zeline.
"Ya ... tentu saja! Memangnya kamu pikir aku tidak memiliki penggemar sama sekali?!" ketus Dira.
"Bisakah kamu memberitahukan padaku ciri-cirinya?" tanya Zeline lagi.
Dira berdecak, ia tak habis pikir Zeline melayangkan semua pertanyaan konyol tersebut pada dirinya. "Sepertinya kamu sudah tidak waras! Apa pemberian Pak Arman masih kurang? Dasar serakah!" cecar gadis itu yang hendak berlalu pergi meninggalkan Zeline.
Namun, beberapa saat kemudian Zeline justru mencekal tangan Dira, meminta jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan tadi.
"Tolong jawab dulu pertanyaanku, ku mohon!" Zeline menangkupkan kedua tangannya ke depan. Memohon agar Dira memberitahukan padanya tentang ciri-ciri si pemberi bunga tersebut.
"Hei! Apa yang kamu lakukan!" seru Vera yang menyaksikan hal tersebut dari kejauhan. Emosinya memuncak saat melihat Zeline yang memohon kepada Dira.
"Kenapa kalian selalu menindasnya, hah?! Apakah tidak cukup dia mengalah selama ini karena menghormatimu?" lanjut Vera yang kembali meninggikan suaranya.
Hal tersebut tentu saja memancing perhatian semua orang yang ada di sana. Para kru yang saat itu tengah membereskan properti syuting pun langsung memberhentikan aktivitasnya dan mendekat pada Dira dan juga Vera.
"Kamu gila?! Aku tidak menindasnya! Wanita ini sendiri yang selalu saja memaksaku untuk menjawab pertanyaannya yang tidak jelas itu!" balas Dira yang juga tak kalah lantang.
"Sudah, Ver. Memang aku yang mendekatinya. Sebaiknya tidak usah memperpanjang masalah ini. Malu dengan semua orang yang melihat kita," ujar Zeline yang berusaha menarik Vera dari sana.
"Awas saja kamu! Jika sampai aku melihat Zeline disakiti lagi, akan ku pastikan kamu mendapatkan ganjarannya!" tukas Vera sembari menunjuk wajah Dira.
"Apa hah?! Apa?! Kamu pikir aku takut? Silakan saja, akan ku nantikan ganjaran darimu itu!" seru Dira.
Beberapa orang pun langsung menengahi mereka. Sementara Zeline, ia masih berusaha menarik Vera dari sana. Hingga akhirnya, sang manajer pun ikut bersamanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu sampai memohon padanya seperti itu?" tanya Vera yang masih merasa penasaran.
"Akan ku ceritakan di mobil saja," ujar Zeline berjalan menuju ke mobil.
Ia membuka pintu mobil tersebut. Hingga mengetuk-ngetuk kaca bagian depan, mengira bahwa Gery ketiduran karena menunggunya sedari tadi.
"Gery tidak ada," celetuk Vera mengeluarkan kunci mobil yang ada di dalam sakunya.
"Kenapa? Bukankah tadi dia datang?" tanya Zeline.
"Iya. Tetapi tadi siang kakaknya mengalami kecelakaan, maka dari itu dia minta izin pulang," jelas Vera.
"Lalu bagaimana kondisinya?" tanya Zeline lagi.
"Aku belum tahu. Besok kita tanya langsung dengan Gery. Sekarang masuklah! Karena besok kita akan kembali mulai syuting pagi-pagi sekali," ujar Vera yang langsung membukakan pintu untuk Zeline. Gadis itu pun segera masuk ke dalam kendaraan tersebut.
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil. Vera melajukan kendaraan tersebut menuju ke jalanan.
"Aku salah. Aku menatap bunga yang palsu dan membuang bunga yang sesungguhnya," batin Zeline.
Bersambung ....