
Zeline melepaskan genggaman tangan Arman. Pria itu pun langsung berbalik, dan menatap gadis pujaannya. Ia melihat pipi Zeline yang tampak merah akibat tamparan yang diberikan oleh Dira tadi.
"Pipimu ... apakah tadi dia menamparmu?" tanya Arman yang memang tidak mengetahui kejadian sebelumnya, karena saat Dira melayangkan tamparan untuk Zeline, pria itu belum berada di sana.
"Tidak apa-apa. Ku harap, kamu jangan memperpanjang masalah ini," ucap Zeline.
"Tapi apa yang ia lakukan itu sudah benar-benar keterlaluan," ujar Arman.
"Ku mohon untuk tidak mencampuri urusanku!" tegas Zeline.
Gadis itu hendak pergi dari hadapan Arman, akan tetapi dengan cepat, Arman menahan Zeline dengan cara memegang tangannya.
"Ada apa denganmu? Mengapa tiba-tiba sikapmu berubah seperti ini?" tanya Arman yang sedikit heran dengan perubahan sikap Zeline.
"Maafkan aku, aku sedang tidak mau diganggu," gumam Zeline.
"Bukankah sudah ku katakan sebelumnya? Bahwa aku akan tetap mendekatimu. Aku akan tetap mengganggumu sekalipun kamu berkata kasar padaku," ujar Arman yang tidak menerima penolakan dari Zeline.
Zeline memberanikan diri menatap wajah Arman dengan lekat, " Kamu ... bukanlah pria yang mengirimkan bunga itu padaku," ucap gadis tersebut.
"Apa maksudmu? Aku bersumpah, bahwa aku selalu mengirimkan bunga padamu. Apakah kamu meragukanku?" tanya Arman yang juga menatap lekat wajah Zeline.
Zeline menyerah, ia tidak ingin berdebat dengan masalah ini. Apalagi posisi mereka sekarang sedang berada di lokasi syuting.
"Semuanya ... ayo kumpul!" terdengar suara teriakan sang sutradara mengumpulkan seluruh orang karena pengganti dari Dira telah ditemukan.
Zeline melihat ke arah semua orang berkumpul sejenak, lalu kemudian melemparkan pandangannya pada Arman yang masih mematung di depannya.
"Aku akan ke sana. Sebaiknya kamu kembali lah ke kantor," ucap Zeline.
"Baiklah," balas Arman mengangguk pasrah. Ia pun membiarkan Zeline melangkahkan kakinya pergi dari sana, meninggalkan dirinya untuk ikut bergabung dengan rekan kerjanya.
Perlahan, Arman pun membawa langkah kakinya pergi dari tempat itu. Hatinya bertanya-tanya, mengapa Zeline meragukan tentang pengirim bunga tersebut. Yang nyatanya dia jugalah salah satu diantara banyak orang yang menjadi penggemar Zeline. Namun, sayangnya bukanlah bunga dari Arman yang ia idamkan selama ini.
Hanya saja, pria itu mengira bahwa bunga yang dimaksudkan oleh Zeline adalah bunga darinya. Maka dari itu, Arman penuh percaya diri untuk mengatakan bahwa ia akan memperjuangkan Zeline.
Zeline menoleh sejenak, melihat Arman yang juga pergi dari tempat itu. Mendengar ucapan Arman, membuat Zeline menjadi tahu, mungkin memang benar selama ini Arman juga selalu mengirimkan bunga kepadanya. Akan tetapi, bukan bunga dari Arman lah yang dimaksudkan oleh Zeline.
Vera menghampiri Zeline, wanita itu menyodorkan minuman dingin pada Zeline, menyuruhnya agar menempelkan botol tersebut ke pipi Zeline yang sedikit merah. Gadis itu pun menuruti apa yang diperintahkan oleh manajernya dan kembali memperhatikan ucapan yang disampaikan oleh Pak Subagyo.
"Ingin sekali aku mencabik-cabik nenek lampir itu, jika aku tahu dia menampar pipi Zeline. Lagi pula anak-anak terlalu lambat memberitahukan kepadaku. Jika dia masih di sini tadi, sudah kutarik rambutnya hingga rontok semua," gerutu Vera yang merasa kesal dengan perbuatan Dira.
"Tapi aku juga bersyukur dia diberhentikan oleh Pak Subagyo. Biar mamp*s sekalian!" geramnya.
....
Dengan memiliki teman yang akur, pekerjaan pun terasa ringan meskipun sedikit berat. Jujur saja, memainkan genre action adalah pertama kalinya bagi Zeline. Dan tentunya, semua hal-hal tersebut sedikit membahayakan baginya.
Zeline memainkan peran seorang gadis nakal yang pandai bela diri. Selain itu, karakter yang diperankannya juga sangat kuat. Karena selain pandai bela diri, tentunya peran Zeline juga di sini adalah gadis yang memiliki pergaulan yang sedikit bebas, yang hobi melakukan balap liar menggunakan mobilnya.
Intinya, peran Zeline kali ini sangat berbanding terbalik dengan sifat aslinya. Namun, Zeline membawakan peran tersebut sealami mungkin, dan seolah melihat dirinya yang terlalu bebas.
Syuting hari ini dirasa sudah cukup. Beberapa dari mereka pun saling menyemangati saling berjabat tangan dan melemparkan senyum.
Meskipun Casey adalah pemeran pengganti, akan tetapi kemampuan aktingnya jauh lebih mumpuni ketimbang Dira. Kemarin, Pak Subagyo memberikan peran itu kepada Dira, karena gadis tersebut sempat memohon kepada Pak Subagyo agar ia dapat bekerja sama. Namun, belum rampung syuting, ia sudah mendapat masalah lebih dulu dengan adanya rumor tentang keburukan dirinya yang terkuak.
Zeline berjalan menuju mobil Van yang terparkir di ujung sana. Sesampainya di depan mobil, Zeline pun melihat dari kaca mobil, Vera yang tampak tertidur pulas di dalam sana. Sang manajer menunggunya selesai syuting di dalam mobil.
Melihat hal tersebut, membuat Zeline merasa kasihan pada Vera. Menghilangnya Gery, membuat Vera pun melakukan semuanya sendirian.
Tokkk ... Tokkk ...
Zeline mengetuk jendela kaca mobil, dimana tempat Vera menyandarkan kepalanya di sana. Vera pun langsung terbangun.
Gadis itu dengan mata yang sedikit menyipit, melihat Zeline yang tengah melambaikan tangannya dari luar. Vera pun segera membukakan pintu mobil untuk Zeline.
"Sepertinya kamu sangat kelelahan," ucap Zeline sembari menduduki jok mobil.
"Kamu juga," balas Vera.
"Apakah kita harus mencari pengganti Gery? Supaya kamu bekerja lebih santai," ucap Zeline memberikan saran pada manajernya itu.
"Apakah tidak apa-apa?" tanya Vera yang mencoba meyakinkan Zeline.
"Tentu saja tidak apa-apa. Dalam kondisi lelah seperti itu, kamu harus menyetir. Dan aku takut mati muda karenamu," celetuk Zeline yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Vera.
"Baiklah, kita akan mencari orang lain besok. Lalu, bagaimana jika Gery kembali? Apakah kita tidak usah menerimanya?" tanya Vera lagi.
Zeline tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Vera. "Tidak apa-apa jika dia ingin kembali bekerja. Kita terima saja, dan tempatkan dia dibagian lain," usul Zeline.
"Sepertinya kamu terlalu dermawan pada pria itu. Lihat saja jika aku kembali melihat batang hidungnya. Ingin sekali aku telan bulat-bulat dia," geram Vera yang mampu membuat Zeline terkekeh geli.
"Bagaimana bekerja dengan Casey, apakah menyenangkan?" tanya Vera.
"Hmmm ... jauh lebih menyenangkan. Doa membimbing ku layaknya seorang adik. Meskipun dia baru bergabung, akan tetapi dia bisa langsung mendalami karakter yang ia bawakan. Dan itu memudahkan kami untuk menyelesaikan adegan yang pernah dilakukan," papar Zeline.
"Syukurlah kalau begitu. Baiklah, penglihatan ku sudah mulai jelas, dan waktunya kita untuk pulang!" seru Vera kembali memakai sabuk pengamannya, membawa kendaraan tersebut menuju ke jalanan.
Bersambung ....