
"Kamu ...."
Zeline menutup mulutnya seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Pria yang menghilang begitu saja bagaikan di telan bumi, kini tengah berdiri di depannya.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Gery yang terkesan sedikit acuh tak acuh pada Zeline. Pria itu bukan menyambut Zeline dengan baik, justru malah kembali melanjutkan pekerjaannya. Menganggap Zeline sosok yang tak kasat mata.
"Kenapa kamu berada di sini?" tanya Zeline yang berjalan lebih mendekat ke arah Gery.
"Seharusnya aku yang bertanya. Apa hal yang membawamu kemari?" bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Zeline, justru pria tersebut kembali melemparkan pertanyaan yang lainnya pada Zeline.
Zeline melihat Gery yang memperlihatkan tatapan tak suka terhadapnya. Entah apa yang sebenarnya terjadi hingga pria tersebut begitu amat membenci dirinya.
"Sebenarnya, tujuan aku kemari adalah ingin mencari tahu tentang pengirim bunga itu. Dan aku menemukan toko bunga ini dari kartu ucapan yang sering aku terima," ujar Zeline yang memilih mengungkapkan maksud dan tujuan yang sebenarnya.
Gery tersenyum miring mendengar penuturan dari Zeline. Ia meletakkan bunga yang ada di tangannya. Lalu kemudian menatap gadis tersebut dengan seksama.
"Apakah butuh waktu yang lama untukmu menyadari semua ini?" tanya Gery dengan tatapan yang serius. Pria tersebut melangkahkan kakinya lebih mendekat ke arah Zeline, membuat Zeline pun berjalan mundur, sedikit takut ekspresi yang ditunjukkan oleh Gery saat ini.
"A-apa maksudmu?" tanya Zeline sedikit terbata-bata.
"Apakah kamu bodoh? Kenapa kamu baru menyadarinya sekarang, hah?! Apakah karena dia lebih kaya? Hingga kamu memilih pria itu yang jelas-jelas mengelabuimu dibandingkan mencari tahu yang sebenarnya?!" tukas Gery yang tampak emosi.
Gery menendang kursi yang tak jauh darinya. Membuat Zeline pun sedikit berteriak sembari memejamkan matanya. Tak hanya sampai di situ saja, bahkan Gery melemparkan beberapa bunga yang sudah ia susun rapi dan melemparkannya ke sembarang arah.
"Kamu tahu? Bagaimana hancurnya kami gara-gara ulahmu?! Hah?!!" bentak Gery.
Tubuh Zeline bergetar hebat, ia baru tahu jika mantan supir pribadinya itu sangat menyeramkan. Hari ini, ia dapat melihat sisi lain dari sosok Gery.
"Maafkan aku. Apakah kamu orang yang mengirimkan bunga itu?" tebak Zeline dengan sedikit takut. Melihat kemarahan yang diperlihatkan oleh Gery, membuat Zeline beranggapan bahwa bunga itu tak lain dari Gery.
"Ternyata, kamu hanya dianugerahi wajah cantik saja. Akan tetapi otakmu itu sangatlah bodoh!!" cecar Gery.
Melihat Gery yang semakin mendekat, membuat Zeline menjadi takut. Tatapan kemarahan yang diperlihatkan oleh pria itu, seakan hendak menelannya hidup-hidup.
"Sungguh! Aku tidak mengetahui ini sebelumnya. Maafkan aku karena kemarin tidak mencari tahu kebenarannya. A-aku hanya berharap, nantinya orang itu akan muncul di hadapanku, dan mengatakan secara langsung bahwa bunga itu darinya. Sebelumnya aku sempat mempercayai bahwa pria itu adalah Arman, karena dia mengaku bahwa ia selalu mengirimkan bunga-bunga itu padaku. Tolong maafkan aku," ujar Zeline dengan nada yang bergetar. Ia sangat ketakutan melihat kemarahan Gery.
"Percuma kamu meminta maaf, karena bagaimana pun juga dia tak akan kembali. Sekali pun kamu menangis darah, itu tak akan mengembalikan keadaannya seperti semula. Dan sekarang, apakah kamu puas menghancurkan kami?!" cecar Gery berkata dengan nada yang tinggi, akan tetapi matanya berkaca-kaca, seolah dirinya melampiaskan amarah serta kesedihan yang amat mendalam.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat ke arah keduanya. Seorang wanita paruh baya muncul diantara mereka. Mendengar kegaduhan dari luar, membuatnya segera mendekat pada sumber suara.
"Ada apa, Gery? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya pada putra bungsunya itu.
Gery langsung tertunduk, menyeka air mata yang sempat membasahi pipinya. Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir, menambah kesedihan sang ibunda.
"Kamu ... gadis itu." Wanita paruh baya itu menatap lekat ke arah Zeline.
Zeline terdiam, ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh wanita paruh baya itu, menyebut dirinya dengan ' gadis itu'.
Wanita paruh baya itu sedikit mendongak, seolah menahan air mata yang hendak tertumpah begitu saja. Ia pun tersenyum ke arah Zeline, sembari berucap
"Ayo, masuk dulu, Nak!" ajaknya memperlakukan Zeline dengan baik.
Zeline pun menganggukkan kepalanya. Ia berjalan menghampiri wanita paruh baya tersebut. Saat keduanya berjalan meninggalkan Gery, sesaat kemudian wanita paruh baya itu kembali berbalik dan menatap putra bungsunya yang masih menitikkan air mata.
"Berhentilah menangis, dan jangan memarahinya! Jika tak ingin membuat mendiang abangmu merasa kecewa!" ujarnya yang sesaat kemudian melanjutkan langkah kakinya. Sementara Zeline, mematung mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh wanita paruh baya itu.
Bersambung ....