
"Aku adalah seorang pria pengecut yang tak pernah mengungkapkan perasaan ku padamu," gumamnya.
Zeline terdiam, ia tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ezra barusan. Ketika gadis itu hendak bertanya lebih banyak lagi, tiba-tiba ibunya datang sembari membawa nampan yang berisi makanan.
"Zeline, sebaiknya kamu makan dulu, Nak." Ibu Zeline meletakkan nampan yang berisi makan tersebut di atas meja.
"Iya, sebaiknya makan dulu," sambung Ezra.
Zeline menganggukkan kepalanya. Ezra pun mengambil piring yang ada di atas nakas, lalu kemudian mulai menyuapi Zeline dengan perlahan.
Zeline membuka mulutnya, membiarkan makanan tersebut masuk ke dalam mulutnya. Sesuatu yang hendak ia tanyakan lagi seakan dilupakan begitu saja.
.....
Sore harinya, Ezra dan Zeline pun berjalan-jalan di halaman belakang rumah. Zeline mendudukkan bokongnya di salah satu kursi. Melihat Zeline yang berhenti berjalan, membuat Ezra pun juga ikut duduk di kursi yang masih kosong, yang ada di tempat tersebut.
"Ternyata di sini benar-benar asri. Di halaman rumah terdapat banyak bunga, di belakangnya ada kebun sayur-sayuran," ujar Ezra sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut.
Zeline pun tersenyum simpul, " Semua ini karena ibuku seorang wanita yang sangat rajin. Ia melakukan semua ini karena termasuk hobinya untuk bertanaman. Tak heran, jika di sekitar rumah cukup banyak ditumbuhi bunga atau pun sayur-sayuran," tutur Zeline
"Lalu ... bagaimana denganmu? Apakah kamu juga suka berkebun?" tanya Ezra menatap Zeline.
"Aku?" Sesaat kemudian gadis itu pun terkekeh, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mendengar hal tersebut, tentu saja membuat Ezra juga ikut terkekeh geli. Ia baru tahu, jika Zeline adalah tipe gadis yang sedikit humoris.
"Aku juga suka rebahan. Sepertinya kita memiliki hobi yang sama," celetuk Ezra yang juga membuat Zeline langsung tertawa terbahak-bahak.
Setelah tertawa dengan perkataan tersebut, keduanya pun terdiam sejenak. Mereka menatap lurus ke depan, memperhatikan beberapa tanaman yang ada di sana. Sementara keduanya, sibuk bergelut dengan pikiran masing-masing.
"Apakah suatu saat nanti kamu akan meninggalkan aku?" tanya Zeline tiba-tiba. Entah mengapa, kalimat itu terlontar begitu saja di bibir gadis tersebut.
Awalnya Ezra yang masih mengembangkan senyumnya pun, perlahan senyum itu memudar setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh gadis yang ada di sebelahnya.
"Aku tidak tahu pasti, tetapi aku selalu berharap Tuhan akan memberikan sesuatu yang baik untuk kita berdua," timpal Ezra.
"Sebenarnya masih banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu. Namun, aku tahu, jika kamu tidak akan bisa menjawabnya," ujar gadis tersebut. Ia sedikit mendongakkan kepalanya, mencoba untuk menahan air matanya yang hendak keluar.
Mendengar hal itu, Ezra hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia juga ingin sekali mengatakan bahwa dirinya adalah pria penggemar misterius yang selalu mengirimkan bunga mawar padanya. Namun, hal itu tidak bisa ia ungkapkan. Selain akan menyakiti hatinya, kenyataan itu juga cukup pahit untuk diketahui oleh Zeline.
Tangan Zeline tiba-tiba menggenggam tangan Ezra dengan erat. Hingga mata mereka pun saling bersitatap satu sama lain.
"Aku tidak tahu, siapa yang pertama kali jatuh cinta. Tetapi, asal kamu tahu saat ini, aku mencintaimu. Sebagian ingatanku memang hilang, akan tetapi hatiku tidak bisa untuk ditipu," ujar Zeline sembari mengembangkan senyumnya.
Bersambung ....