40 Days With You

40 Days With You
Bab 35. Day 3 (Bagian 1)



Zeline merebahkan dirinya di atas kasur. Perlahan matanya terbuka, ia bangkit dari pembaringannya sembari mengusap matanya perlahan. Tubuhnya menggeliat kecil, sementara mulutnya terbuka sempurna, menguap untuk melepaskan sisa kantuk yang menyerangnya.


Zeline mengembangkan senyum, mengingat saat kemarin, dimana dirinya menghabiskan waktu bersama dengan Ezra. Pria yang tiba-tiba datang dan mengaku sebagai tunangannya.


Zeline melirik ke arah mawar yang ia letakkan di vas keramik berwarna putih, tepatnya tak jauh dari jendela kamarnya. Ia menatap mawar itu dengan seksama, akan tetapi hatinya merasakan sakit yang luar biasa. Dan tiba-tiba air matanya menetes begitu saja. Tanpa sebab, dan akibat hanya melihat mawar pemberian dari Ezra, membuat dadanya terasa begitu sesak.


"Sebenarnya ada apa dengan semua ini? Kenapa air mataku jatuh begitu saja? Kenapa dadaku begitu sesak?," gumam Zeline yang tampak kebingungan sembari memegangi dadanya yang terasa sakit.


Zeline langsung beranjak dari tempat duduknya. Dengan segera ia berjalan menuju ke kamar mandi dan mengusap wajahnya dengan air. Gadis itu menatap pantulan dirinya di depan cermin. Matanya masih memerah, meninggalkan bekas air mata pada telaga bening tersebut.


.....


Di waktu dan alam yang berbeda, Arman masih setia menggenggam tangan Zeline. Ia melihat gadis pujaan hatinya dengan mata yang tertutup rapat, dan beberapa alat penopang hidup untuk si cantik yang telah mencuri hati pria tersebut.


"Bangunlah, Zeline. Ku mohon buka matamu. Jika sekiranya perasaanku sangat membebanimu, aku harap kamu menolakku secara langsung. Lebih baik aku mendengar penolakanmu dari pada melihatmu terbaring seperti ini," ujar Arman terdengar begitu tulus.


Ia melihat air mata jatuh di sudut mata gadis berbulu mata lentik itu. Dihapusnya bulir bening tersebut dengan pelan, bersamaan perasaan yang hancur, melihat gadis pujaan hatinya terbaring lemah tak berdaya.


Sedikit rasa sesal menyelimuti diri Gery saat itu. Andaikan saja, jika ia mengatakan kebenarannya lebih awal, mungkin keadaannya akan berbeda.


Dan kini, nasi sudah berubah menjadi bubur. Penyesalan tinggal lah penyesalan. Ezra telah pergi meninggalkan dirinya, dan Zeline pun terbaring sembari berjuang antara hidup dan mati.


"Apa yang kamu pikirkan, Nak?" tanya Bu Lasmi memegangi punggung putranya dengan tatapan kosong, menatap ke arah Zeline dan juga Arman yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya sempat berpikir, jika saja aku lebih cepat memberitahukan semuanya, mungkin yang terjadi tidak akan seperti ini," jawab Gery penuh sesal.


"Semuanya sudah diatur oleh yang di atas. Jadi, jangan menyalahkan dirimu sepenuhnya. Abangmu sangat menyukai Zeline. Ibu bisa melihat, Zeline pun juga merasakan hal yang sama. Mungkin, saat ini Zeline tengah dipertemukan dengan abangmu di alam bawah sadarnya. Dan ibu berharap, Zeline juga dapat kembali pulih seperti sedia kala, karena ada banyak yang menunggunya untuk sadar, terutama pria yang saat ini tengah bersama dengannya," tutur Bu Lasmi panjang lebar, sembari mengarahkan pandangannya pada Arman.


"Abang sangat mencintai gadis itu. Apakah ibu rela jika ia bersama dengan pria lain dan langsung melupakan Abang?" tanya Gery.


"Yang telah berpulang, biarlah berpulang. Yang masih diberi nyawa, sudah sepatutnya menjalani hidup seperti biasanya," jawab Bu Lasmi dengan bijak.


Bersambung .....