
Setelah berbincang mengenai hal tadi, tidak ada lagi pembicaraan apapun diantara kedua orang tersebut. Ezra memandang ke depan, fokus mengendalikan setirnya. Sementara Zeline, gadis itu bersandar pada jok sembari memejamkan mata.
Ezra mengira, bahwa Zeline terlalu kelelahan karena menempuh perjalanan yang cukup jauh. Namun, sesungguhnya Zeline tidak tidur sama sekali. Telinganya masih mendengar jelas apapun yang ada di sekitarnya. Hanya mata saja yang terpejam, mencoba untuk menjernihkan pikirannya yang mulai kusut, akan tetapi hal tersebut tak sama sekali membantu.
Bagaimana caraku berpisah dengannya kemarin?
Sehancur apakah aku?
Bagaimana duniaku setelah kehilangannya?
Pertanyaan demi pertanyaan banyak bermunculan di benak Zeline. Gadis itu mencoba untuk tetap berpikiran positif, akan tetapi tetap saja pemikiran serta pertanyaan itu selalu mengganggu isi kepalanya.
Setelah menempuh perjalanan hampir 5 jam lamanya, mobil yang dikendarai oleh ayah Zeline pun terhenti di sebuah bangunan dua tingkat, tepatnya setelah melewati banyak pepohonan yang disertai dengan angis sepoi-sepoi.
Jam 5 sore, tepatnya mereka tiba di tempat itu. Zeline menyadari mobil berhenti. Hingga akhirnya, gadis bersurai panjang itu pun membuka matanya.
Satu hal yang ia lihat saat matanya perlahan terbuka, seorang pria tampan yang tengah menatapnya dengan pandangan yang sendu. Saat menyadari jika Zeline telah membuka mata, membuat Ezra langsung mengulas senyum, dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Zeline tahu tatapan itu. Namun, Zeline berpura-pura untuk tidak mengetahuinya. Jujur saja, ini juga menyakitkan baginya. Seolah apa yang ada di pikirannya tadi adalah sesuatu yang benar. Ezra sesungguhnya telah meninggalkan dirinya, sama seperti yang terjadi dengan kedua orang tua Zeline.
"Wah, ternyata kita sudah sampai," ujar Zeline yang sengaja membuka pembicaraan.
"Iya. Aku kira kamu masih ingin tidur," balas Ezra yang mulai memberanikan dirinya menatap ke arah Zeline.
"Aku sudah terbangun. Hehehe ...." Zeline tertawa renyah, lalu kemudian melepaskan sabuk pengamannya.
"Tunggu sebentar!" Ezra langsung mencegah Zeline saat tangan gadis itu hendak membuka pintu.
Dengan cepat, Ezra turun dari mobil tersebut, lalu kemudian membukakan pintu mobil untuk Zeline. Dengan wajah bahagianya, Ezra membukakan pintu tersebut. Zeline mendapati perlakuan akan sikap manis yang ditunjukkan oleh Ezra, membuat gadis itu merasa benar-benar sakit. Jika memang benar, pemikiran yang selama ini adalah sesuatu yang memang terjadi, maka rasanya Zeline akan merasakan hancur bak serpihan. Dan itu akan terjadi untuk kedua kalinya.
"Terima kasih," ucap Zeline sembari memperlihatkan senyum simpulnya.
Ezra menanggapi ucapan gadis itu dengan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Ia pun langsung bergegas menuju ke belakang, mengeluarkan koper yang ditaruhnya di bagasi.
Diam-diam Zeline memperhatikan Ezra. Rasa sedih langsung menjalar ke hatinya, membuat Zeline menitikkan air mata, dengan cepat ia menghapusnya, agar pria yang ia dambakan itu tak mengetahui bahwa dirinya saat ini tengah menangis.
"Jika memang benar, apa yang ku pikirkan itu memang terjadi, bagaimana aku menjalani kehidupanku yang selanjutnya? Ku mohon, semua ini tak terjadi. Aku sangat menginginkan Ezra bersamaku," batinnya berbicara.
"Kenapa kamu melamun?" tanya Ezra.
Pikiran Zeline yang awalnya melalang buana, tiba-tiba langsung buyar begitu saja saat mendengar teguran dari Ezra.
"Ah tidak apa-apa. Ada sesuatu yang aku pikirkan," balas Zeline.
"Apakah ada hal yang mengganggumu?" tanya Ezra dengan penuh curiga.
"Iya, pikiranku saat ini benar-benar menggangguku. Namun, ku harap ... aku tetap bersikap tenang," timpal Zeline sembari mengulas senyumnya.
"Ezra, ... Zeline, ... Ayo masuklah!!" seru ibu Zeline dengan sedikit berteriak.
Kedua orang itu pun langsung mengarahkan atensinya ke sumber suara. Ia melihat ibu Zeline melambaikan tangannya, menyuruh agar kedua orang itu masuk ke dalam bangunan dua tingkat itu.
"Iya, Ma." Zeline menarik salah satu koper yang ada di tangan Ezra.
"Ini berat, biar aku saja," ujar Ezra yang mencoba melarang Zeline melakukan hal tersebut.
Zeline pun tetap membawa koper tersebut masuk ke dalam villa. Sementara Ezra, pria itu mengekor di belakang Zeline. Memperhatikan gadis pujaannya dengan wajah yang khawatir. Ezra tak ingin Zeline terluka sedikitpun. Ia ingin tetap melindungi gadis itu sampai nanti, sampai ia benar-benar telah siap menghadapi kenyataan yang kemungkinan akan terasa pahit, dan bisa saja kenyataan itu akan membuatnya bahagia. Ezra masih tidak mengetahuinya, karena hal tersebut masih menjadi misteri.
Bangunan dua tingkat yang telah lama tidak dihuni. Bangunan dengan interior yang bertema klasik. Zeline merasa tak asing dengan bangunan ini.
"Ezra dan Zeline tidur di kamar atas. Ayah dan ibu yang akan mengisi kamar bawah," ucap ibu Zeline.
"Ehemmm. Ma-maksudnya Tante?" tanya Ezra yang sempat salah arti dengan kalimat yang diucapkan oleh ibu Zeline.
"Maksud Tante, kamu isi kamar kosong yang ada di sebelah kamar Zeline. Bukan berarti tidur sekamar," ralat ibu Zeline seraya tersenyum penuh arti.
"Apa yang kamu pikirkan, Ezra." Ayah Zeline menatap pria itu dengan tatapan tajam.
"Maafkan saya, Om." Ezra menunduk malu.
"Sudah-sudah, sekarang kamu ajak Ezra naik ke atas dan kalian beristirahat lah!" titah ibu Zeline.
"Di kamar masing-masing," sambung wanita paruh baya tersebut.
"Iya, Bu. " Zeline ikut terkekeh, karena kesalahpahaman Ezra, membuat Zeline juga ikut merasa malu.
"Ajaklah Ezra ke atas, dia pasti lelah karena menyetir sedari tadi," ujar ayah Zeline yang juga ikut membuka suara.
"Iya, Yah."
"Ayo!!" ajak Zeline mengarahkan pandangannya pada Ezra.
Ezra mengangguk, ia pun langsung berjalan mengikut Zeline. Sesampainya di atas, Zeline langsung mengantarkan Ezra menuju ke kamarnya.
"Di sini kamarmu. Silakan beristirahat," ujar Zeline mempersilakan Ezra.
"Kamu tidur di sana?" tanya Ezra seraya menunjuk ruangan yang ada di sebelah kamarnya.
"Iya." Zeline menjawab seraya menganggukkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Zeline
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya saja," jawaban konyol itu pun terlontar dari mulut Ezra.
"Kalau begitu, kamu juga beristirahatlah! Aku yakin, kamu juga pasti merasa kelelahan," sambung pria itu.
Zeline menekuk bibir bawahnya ke dalam, lalu kemudian menganggukkan kepala. Gadis itu pun menarik kopernya dan berjalan masuk menuju ke ruang sebelah.
Ezra menatap Zeline seraya tersenyum, hingga akhirnya pintu kamar Zeline tertutup, barulah pria itu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamar tersebut.
Di dalam kamar, Zeline langsung merebahkan tubuhnya menuju ke kasur yang berukuran king size tersebut. Pandangannya menatap ke arah langit-langit, pikiran yang sedari tadi menganggu pun kembali menghinggapi dirinya.
Tak terasa, air mata kembali menetes di sudut matanya.
"Jika biasanya aku merasa penasaran dengan apa yang telah terjadi, untuk yang satu ini, aku lebih memilih untuk tidak mengetahuinya sama sekali," gumam Zeline sembari memejamkan matanya. Bersamaan dengan itu, air matanya pun kembali jatuh dari sudut matanya.
Bersambung .....