40 Days With You

40 Days With You
Bab 68. Day 20



Aku hanya bisa mengakui bahwa kamu adalah tunanganku, akan tetapi tidak untuk memilikimu seutuhnya.


Kalimat itu masih terngiang-ngiang di telinga Zeline. Melihat tatapan Ezra yang sendu setelah mengatakan hal itu, membuat Zeline juga ikut merasa sedih.


Namun, mau bagaimana lagi. Meskipun Zeline ingin berusaha keras mewujudkan impian Ezra, akan tetapi pria itu tetap tak mengizinkannya.


Zeline merebahkan tubuhnya, menatap ke langit-langit rumah. Perasaan yang saat ini ia rasakan sangatlah kacau. Mencintai, akan tetapi tidak bisa untuk memiliki adalah sesuatu yang paling sulit untuk dilakukan.


Zeline meremas seprainya, ia kesal, sangat kesal karena takdir yang gak memihak kepadanya. Entah mengapa, jika suatu saat nanti perpisahan itu benar-benar terjadi diantara mereka, Zeline merasa tidak sanggup harus mengucapkan selamat tinggal pada Ezra dan juga kedua orang tuanya.


"Bagaimana jadinya aku tanpa mereka nantinya. Jujur saja, sampai saat ini, hatiku masih ingin untuk tetap berada di sini," gumam gadis tersebut.


Di waktu yang bersamaan, Ezra juga tengah berbaring sembari menatap ke langit-langit kamar. Bukan ia tak menginginkan untuk Zeline berada di sini bersamanya, akan tetapi jalan mereka memang sudah berbeda, dan dirinya hanyalah sekedar bunga tidur bagi Zeline, menemani gadis itu saat berada di alam bawah sadarnya.


Waktu tak bisa diulang kembali. Raga yang sudah mati terkubur juga tak bisa untuk kembali hidup. Permainan takdir memang kejam, akan tetapi inilah adanya. Sekuat apapun Ezra menentangnya, hal itu akan tetap berjalan sebagaimana mestinya.


Kali ini, Ezra hanya bisa berpasrah. Bagaimana pun juga, Sang Maha Pencipta sudah memberikan keadilan bagi dirinya, dengan mempertemukan Zeline walaupun itu hanya sekedar di alam bawah sadar gadis tersebut.


"Selama waktu 40 hari lamanya, yang tersisa tinggal 21 hari. Dan terhitung mulai besok, ada 20 hari lagi yang tersisa. Aku juga ingin membuat beberapa momen manis untuk gadis itu, meskipun besar kemungkinan ia akan melupakan momen yang ada di bawah alam sadarnya saat ia sadar dari komanya nanti," gumam Ezra.


Pria itu beranjak dari tempat tidurnya. Ia membuka koper, mengambil sebuah buku kecil yang biasa ia bawa untuk mencatat sesuatu. Pria itu pun mulai menuliskan daftar-daftar keinginan apa saja yang akan ia lakukan sebelum Zeline benar-benar pergi meninggalkannya.


"Ku harap, di 20 hari ini, tidak ada lagi mimpi yang mendatanginya selama 2 atau sampai 3 hari lamanya. Dengan begitu, aku tidak menghilangkan waktu berharga dan selalu menciptakan momen indah pada Zeline, cinta pertama dan terakhirku," ucap Ezra.


Ezra kembali melanjutkan tulisannya. Membuat beberapa daftar yang akan ia lakukan nantinya selama Zeline masih bersama dengannya. Setelah di rasa cukup, Ezra pun langsung menutup bukunya dan kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk tersebut.


...****************...


Keesokan harinya, suasana rumah pun terlihat lebih damai. Usaha yang dilakukan oleh ayah dan ibu Zeline ternyata membuahkan hasil. Melihat Zeline dan Ezra kembali berbaikan, membuat mereka pun jadi merasa damai.


Pagi ini, mereka melakukan aktivitas seperti biasa, yaitu memasak sarapan yang lezat untuk pengganjal perut mereka. Sama seperti kemarin, Zeline membantu ibunya memasak di dapur. Bedanya, kali ini gadis tersebut telah berpenampilan rapi, tak ingin tampil acak-acakan lagi di depan Ezra.


Sementara Ezra dan juga ayah Zeline berada di ruang tengah, kedua pria tersebut asyik berbincang-bincang sembari menyetel televisi.


"Bagaimana berada di sini? Apakah menyenangkan?" tanya ayah Zeline.


"Tentu saja, Om. Saya merasa memiliki keluarga yang utuh lagi," jawab Ezra.


Ayah Zeline langsung menanggapi perkataan lawan bicaranya dengan tersenyum simpul. Ia membenahi kacamata yang bertengger di batang hidungnya.


Ezra menganggukkan kepala," Iya, Om. Perlahan ingatan Zeline sudah mulai kembali," balas Ezra.


"Lalu bagaimana? Apakah dia akan melanjutkan hidupnya?" tanya ayah Zeline yang memang sudah tahu jika sebenarnya Zeline mengalami koma.


"Saya belum tahu pasti Om. Tetapi, bagaimana pun caranya, saya akan tetap membujuk Zeline untuk kembali. Saya tidak ingin jika Zeline harus mengorbankan nyawanya hanya untuk orang-orang seperti kita, manusia yang sudah tak memiliki raga lagi," ujar Ezra panjang lebar.


Ayah Zeline mengangguk paham, " Lantas bagaimana denganmu nantinya? Apakah kamu juga sudah siap menerima kenyataan bahwa kamu dan Zeline tak akan pernah bersatu?" tanya ayah Zeline lagi.


Pertanyaan kali ini cukup lama membuat Ezra terdiam, dan sebelum akhirnya ia pun menganggukkan kepala. "Siap tidak siap, saya harus menerima hasil akhirnya, Om. Lagi pula, jika takdir kami memang tidak untuk bersatu, mungkin Tuhan sedang mempersiapkan jalan terbaik dibalik perpisahan ini nanti. Hanya saja, untuk merelakannya secepat itu, rasanya akan sangat berat," tutur Ezra yang sudah berani mengeluarkan uneg-uneg di hadapan ayah Zeline.


Ayah Zeline mengerti bagaimana perasaan Ezra. Hal itu tentu juga sama ia rasakan ketika mereka harus berpisah nantinya. Namun, bagaimana pun juga, semua sudah ditentukan, sebagai manusia kita hanya bisa menerima apapun hasilnya nanti.


"Om tahu ini akan terasa sangat berat. Om juga merasakan apa yang kamu rasakan. Berpisah dengan anak setelah sekian tahun lamanya, lalu kembali dipertemukan di alam bawah sadarnya saat ini, om sudah merasa sangat bersyukur sekali, karena setidaknya Om bisa menyalurkan rasa rindu Om dan melihat wajah Zeline secara langsung," papar ayah Zeline.


"Om yakin, kita pasti bisa menghadapi semua ini. Mulai sekarang, kita tidak boleh memperlihatkan kesedihan kita di hadapan Zeline. Om takut, jika nanti ia akan memilih untuk tidak kembali ke raganya. Maka Om akan merasa lebih hancur jika hal itu terjadi," sambung ayah Zeline seraya menepuk pundak Ezra, berusaha menenangkan pria tersebut.


"Iya, Om." Ezra menganggukkan kepalanya.


Di dapur, Zeline dan juga ibunya baru selesai memasak. Kedua wanita berbeda generasi itu menyiapkan peralatan untuk makan di atas meja, serta menghidangkan masakan yang sedari tadi mereka masak.


"Panggil ayah dan Ezra di ruang tengah, Nak." ibu Zeline yang tengah menyusun piring pun langsung memerintahkan kepada anak gadisnya untuk memanggil para lelaki yang sedang berbincang di ruang tengah.


Zeline melangkahkan kakinya beberapa langkah, akan tetapi langkahnya terhenti saat melihat Ezra dan juga ayahnya sudah berjalan menuju ke ruang makan.


Zeline mengembangkan senyumnya saat mata mereka saling bertemu pandang. Pria itu sangat senang melihat Zeline lagi ini. Tampil cantik dengan apron berwarna maroon yang sedari tadi ia kenakan.


"Anak ayah hari ini cantik sekali," puji ayah Zeline.


" Apalagi sudah memakai celemek seperti itu, seolah kecantikannya terpancar dengan begitu jelas," sambung ayah Zeline.


"Yang om katakan itu benar, kamu sangat cantik hari ini," ucap Ezra yang juga ikut memuji.


Blushhh ...


Pipi Maya langsung bersemu merah mendapatkan gombalan manis seperti itu. Mereka bertiga berjalan beriringan menuju ke ruang makan, karena ibu Zeline sudah menunggu di sana terlebih dahulu.


Bersambung....