
"Silakan duduk, Nak!" ujar wanita paruh baya tersebut mempersilakan Zeline untuk duduk.
Zeline pun menjatuhkan bokongnya di kursi, melihat sekeliling ruangan. Rumah yang minimalis, akan tetapi amat sangat nyaman dihuni.
Zeline menatap ke arah rak yang ada di ruang tamu itu. Rak yang dipenuhi akan foto-foto pemandangan yang begitu indah.
Sesaat kemudian, wanita itu pun datang sembari membawakan segelas teh hangat. "Ini nak, minumlah! Ibu hanya menghidangkan seadanya saja," ujarnya.
"Tidak perlu repot-repot, Bu. Ini saja sudah lebih dari cukup," ucap Zeline sembari mengulas senyumnya.
"Saya Bu Lasmi, ibunya Ezra dan Gery." Ia memperkenalkan dirinya pada Zeline.
"Saya Zeline, Bu. Dan Gery adalah rekan kerja saya dulu," ucap Zeline yang juga memperkenalkan dirinya.
Bu Lasmi menganggukkan kepalanya, "Saya tahu sejak lama. Melihat nak Zeline mengingatkan ibu pada putra sulung ibu yang sudah tiada," tuturnya.
Zeline tersenyum simpul, ia masih belum sedikit mengerti akan kalimat yang diucapkan oleh Bu Lasmi.
"Anak sulung ibu, dia sangat mengagumi Zeline. Bahkan menyempatkan dirinya untuk bertemu Zeline sebelum ia benar-benar pergi selama-lamanya," lanjut Bu Lasmi.
Deggg ....
Zeline tertegun dengan ucapan Bu Lasmi. Gadis itu langsung menatap wajah Bu Lasmi dengan seksama. "A-apa?" tanya Zeline terbata-bata.
"Ezra, dia berpamitan dengan ibu hendak menemui Zeline sebelum ia pergi untuk selama-lamanya," jelas Bu Lasmi.
Mata Zeline berkaca-kaca, entah mengapa ia merasakan sesak pada rongga dadanya. Zeline kembali mengingat bagaimana saat ia menemukan bunga yang dibuang oleh Dira. Dan dari situ ia bisa menebak, bahwa bunga tersebut akan diberikan oleh Ezra untuknya. Hanya saja, karena saat itu Arman sedang bersama dengan dirinya, membuat pria itu pun memberikan bunganya kepada Dira.
"Maafkan aku, Bu. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Akan tetapi aku benar-benar bodoh, karena tak mencari tahu sejak dulu," ucap Zeline yang mulai menitikkan air mata.
"Tidak apa-apa, Nak. Namanya juga takdir. Bagaimana pun juga, kita tidak bisa merubah garis takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Ibu senang kamu berada di sini, yang berarti kamu telah menemukan Ezra. Meskipun sedikit terlambat, akan tetapi ibu yakin, Ezra tahu dan Ezra merasa sangat bahagia melihat kedatanganmu kemari," papar Bu Lasmi.
"Tapi kenapa Gery menyembunyikan semuanya dariku? Seharusnya Gery tahu, bagaimana aku merasa penasaran akan sosok pengirim bunga itu," ucap Zeline.
"Sedari awal, Gery sudah ingin mengatakannya pada Nak Zeline. Hanya saja, Ezra selalu melarang Gery, karena mengingat bahwa ia tidak memiliki waktu yang lama. Dan takut, jika nantinya sosoknya diketahui oleh Zeline, maka Zeline akan bersedih," jelas Bu Lasmi.
"Ezra memiliki sakit yang parah, maka dari itu ia memilih untuk tetap menjadi pengagum rahasia Zeline," lanjut Bu Lasmi.
Zeline kembali terisak, air matanya tak bisa ia bendung. Ia sudah sangat lama ingin bertemu dengan orang yang selalu mendukungnya. Akan tetapi, Zeline menemukan orang itu dengan waktu yang tidak tepat.
"Sudah, Nak. Tidak usah menangis lagi. Tehnya diminum, nanti keburu dingin," ujar Bu Lasmi.
Zeline mengangguk, ia menyeka air matanya dengan jaketnya. Bu Lasmi tersenyum melihat tingkah Zeline. Ia pun mengambil tisu yang tak jauh dari jangkauannya, lalu kemudian menyerahkannya kepada gadis yang dikagumi oleh putra sulungnya.
"Hapus air matamu dengan ini," ucap Bu Lasmi.
"Terima kasih, Bu." Zeline menerima tisu tersebut, lalu kemudian menghapus air matanya. Ia juga meminum teh hangat yang disuguhkan oleh Bu Lasmi.
"Bu, bolehkah aku melihat foto putra sulung ibu?" tanya Zeline meletakkan kembali cangkir teh hangat yang baru saja diseruputnya.
"Apa itu?" tanya Zeline.
"Ezra sudah menyukaimu sejak kalian duduk di bangku SMA," ujar Bu Lasmi.
"Menyukai ku sejak di bangku SMA? Maksudnya ... dia satu sekolah denganku?" tanya Zeline seakan tak percaya.
Bu Lasmi pun menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang diucapkan oleh gadis yang ada di hadapannya.
Hal itu tentu membuat rasa penasaran Zeline semakin bertambah. Siapa sebenarnya sosok Ezra? Saat duduk di bangku SMA, Zeline saat itu masih menjadi bullyan banyak orang. Karena selain memiliki kulit hitam, paras yang tidak cantik, ia juga sering kali diejek anak orang miskin oleh teman-temannya terdahulu, kecuali Erika.
Setelah menceritakan hal tersebut, Zeline pun dibawa oleh Bu Lasmi. Dan mereka berhenti tepat di depan pintu yang masih tertutup rapat.
"Ini adalah kamar Ezra. Kamu akan mengetahui semuanya saat di dalam sana. Entah mungkin kamu masih mengingatnya atau tidak. Tetapi ibu yakin, kepingan kenangan tentang masa sekolah itu mungkin sedikit demi sedikit masih kamu ingat," papar Bu Lasmi.
Zeline melangkahkan kakinya, ia sedikit ragu. Tangannya telah memegang handle pintu, akan tetapi ia sudah merasakan kesedihan yang mendalam sebelum masuk ke dalam kamar itu.
Zeline menoleh, kembali menatap Bu Lasmi yang ada di belakangnya. Wanita paruh baya itu mengangguk, mengizinkan Zeline untuk masuk ke dalam kamar putranya itu.
Zeline kembali memusatkan pandangannya ke depan. Ia menghirup oksigen dengan rakusnya, mencoba untuk tetap tegar dengan apa yang akan dia lihat di dalam nanti.
Ceklekk ...
Pintu pun dibuka, Zeline mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dengan dinding bercat abu-abu itu. Kamar yang tampak sangat rapi. Zeline mengedarkan pandangannya, satu hal yang mencuri perhatiannya. Sebuah foto yang ada di atas nakas. Foto pria yang tengah tersenyum menatap kamera sembari memeluk Bu Lasmi dan juga Gery.
Dadanya langsung sesak, saat mengetahui pria yang ada di foto tersebut.
" Dia ...." tangan Zeline bergetar, meraih foto tersebut. Melihat dengan seksama, pria yang berada di tengah. Seolah memastikan penglihatannya tidak salah.
"Ini tidak mungkin," gumam Zeline menutup mulutnya. Air matanya mengalir kembali. Namun, kali ini lebih deras dari sebelumnya.
Pria yang menganguminya selama ini adalah pria yang pernah ia kagumi saat duduk di bangku SMA dulu. Si ketua OSIS yang selalu mencuri perhatiannya. Pria yang terkenal dengan sebutan nama 'Ejak' itu ternyata adalah Ezra. Pria yang selalu mengirimkan bunga-bunga dan juga kata-kata manis untuknya.
Zeline kembali mengedarkan pandangannya, dan ia lagi-lagi terpana dengan foto-foto yang ada di kamar itu. Foto-foto hasil jepretan Ezra yang ia gantung secara rapi dan berjejer, yang ternyata semua foto itu adalah foto Zeline.
Foto yang diambil secara diam-diam semasa Zeline memakai seragam SMA. Sedari penampilan Zeline biasa-biasa saja, dan hingga ia menjadi artis terkenal yang memiliki paras cantik seperti sekarang ini.
Melihat semua itu, membuat lutut Zeline melemas. Ia seakan tidak bisa menopang berat badannya. Sesaat kemudian, gadis itu pun luruh ke lantai, sembari menangis tersedu. Seolah takdir saat ini tengah mempermainkan dirinya. Di saat ia sudah mencintai penggemarnya, pria yang juga ia kagumi lebih dulu. Dan ternyata, ia menemukan fakta bahwa pria itu telah tiada. Ia telah pergi meninggalkan Zeline selamanya.
"Kenapa ... kenapa baru sekarang Tuhan memperlihatkan kebenarannya? Kenapa ... kenapa baru sekarang aku mengetahui semuanya, di saat kamu telah pergi meninggalkan aku untuk selamanya."
"Ini sangat menyesakkan bagiku! Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa melihatmu dengan nyata, aku juga tidak bisa menyapamu dan tersenyum menatapmu. Kenapa kamu harus menyembunyikan semua ini sebelumnya?" ucap Zeline sembari menangis pilu. Ia benar-benar menyesal karena telah terlambat mencari tahu kebenarannya.
Dari kejauhan, Gery dan Bu Lasmi memperhatikan Zeline. Bu Lasmi hendak masuk, akan tetapi langsung ditahan oleh Gery.
"Biarkan saja dulu dia seperti itu, Bu. Biarkan dia menumpahkan semua kesedihannya di sana," ujar Gery.
Bersambung ....