
Setelah kejadian kemarin, Zeline lebih banyak diam. Isi kepalanya seakan bertabrakan dengan suasana saat ini. Sesekali ia mengingat sesuatu yang entah dia pun tak menyadari kapan itu terjadi. Namun, Zeline belum bisa mengingat saat dimana ia mengalami kecelakaan dan kenyataan bahwa Ezra telah meninggal dunia.
Fakta tentang kedua orang tuanya, Zeline sudah menyadari semuanya sedari awal. Hanya saja, untuk yang Ezra, ia belum sama sekali menyadarinya. Entah apa jadinya, jika Zeline tahu bahwa dirinya berada di bawah alam sadar dan dipertemukan dengan orang-orang yang sudah tiada.
Di dalam kamar, Zeline menghabiskan waktunya hanya dengan merenung. Beberapa kali ponselnya berbunyi, panggilan masuk dari Ezra tak kunjung ia terima. Mungkin, gadis itu masih merajuk karena masalah kemarin, tak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
Tokkk .... Tokkkk ....
Terdengar suara ketukan pintu. Ibu Zeline pun muncul dari balik pintu sembari membawakan nampan yang berisikan makanan serta segelas air putih.
"Nak, kamu makan dulu. Hari ini kamu tidak makan sama sekali," ujar ibu Zeline berjalan menghampiri putrinya, meletakkan nampan tersebut tepat di atas nakas.
"Aku tidak lapar, Bu." Zeline menjawab ucapan ibunya tanpa menatap lawan bicaranya.
"Tapi Nak, kamu harus makan walaupun sedikit. Nanti kamu sakit," ucap ibu Zeline.
Zeline menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia pun mengarahkan pandangannya pada wajah wanita yang telah melahirkannya itu. Kedua sudut terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman yang indah.
"Baiklah, Bu."
Zeline beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju nakas, tempat makanannya berada. Mengambil piring yang berisikan nasi serta lauk-pauk dan sayur-sayuran. Gadis itu memakan masakan ibunya dengan lahap.
Melihat Zeline memakan makanan yang dibawakannya membuat sang ibu mengulas senyumnya . Ia mengerti akan kegundahan hati putrinya, akan tetapi mau bagaimana lagi. Kehendak Tuhan yang mempertemukan mereka dalam keadaan seperti ini. Dan dengan kuasanya lah, momen yang sempat terlewatkan bisa terlaksana lagi. Hanya saja, Zeline tak menyadari hal itu.
Ibu Zeline masih memperhatikan putrinya yang menyantap makanannya begitu lahap. Tak terasa, air matanya mengalir begitu saja. Dengan cepat, ibu Zeline mendongakkan kepalanya, sembari menghapus air mata yang jatuh begitu saja. Ia tak ingin, jika putrinya menyadari bahwa dirinya tengah menangis.
Zeline memperhatikan ibunya. Ia menyadari ada jejak air mata yang tertinggal di pipi wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ibu menangis?" tanya Zeline menatap ibunya dengan lekat.
"Menangis? Ah, tidak. Ibu hanya kelilipan saja tadi," ujar ibunya berbohong. Ia menyeka jejak air mata yang tertinggal di pipinya.
Wajah Zeline menjadi sendu. Ia mengira, jika ibunya bersedih karena Zeline yang sedari tadi tidak keluar kamar sama sekali. Dan bahkan, untuk makan pun harus ibunya yang mengantarkan ke kamar.
Zeline beranjak dari tempat duduknya. Ia langsung memeluk sang ibunda yang tengah membelakanginya.
"Maafkan Zeline, Bu. Zeline tidak seharusnya membuat ibu bersedih seperti ini," ujar Zeline memeluk tubuh ibunya dari belakang. Mendekapnya dengan begitu erat.
Ibu Zeline mengusap tangan putrinya yang melingkar di pinggang rampingnya. Ia pun berbalik, saat menyadari punggungnya mulai basah karena tetesan air mata dari Zeline.
"Nak, jangan menangis. Lagi pula wajar jika kamu merasa kesal atau pun bingung," ucap ibu Zeline.
"Seharusnya Zeline tidak seperti ini, Bu. Seharusnya Zeline memperbaiki sikap Zeline, karena kehilangan ibu kemarin, benar-benar membuat Zeline merasa hancur," ujar Zeline.
Ibu Zeline tercengang mendengar penuturan dari anak gadisnya. "Nak, berarti kamu sudah mengetahuinya?" tanya ibunya dengan raut wajah yang penasaran.
Bersambung ....