40 Days With You

40 Days With You
Bab 44. Day 9



Zeline seolah di bawa ke sebuah lorong waktu oleh Ezra. Pria itu menggenggam tangan Zeline dengan erat.


"Jangan takut, dan cobalah untuk tetap tenang," ucap Ezra.


Zeline mencoba memejamkan matanya. Ia menuruti ucapan Ezra yang menyuruhnya agar tetap tenang.


Selang beberapa detik kemudian, ia merasakan kepalanya diusap dengan sangat lembut. Perlahan Zeline membuka matanya, satu hal yang pertama ia lihat adalah Ezra.


Zeline menatap ke sekitar ruangan. Dan ternyata, saat ini gadis tersebut sedang berada di dalam kamarnya. Ia melihat ibu dan ayahnya juga berada di sana, menatap Zeline dengan penuh kekhawatiran.


"Nak, kamu sudah sadar?" tanya ibu Zeline.


Zeline langsung mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. Ia melihat sekitarnya, dan menatap ketiga orang yang ada di dalam ruangan tersebut secara bergantian.


"Apa yang terjadi, Bu?" tanya Zeline kebingungan.


"Kamu sudah dua hari tertidur tak bangun-bangun," jelas ayah Zeline.


"Hah?! Dua hari? Kok bisa?" tanya Zeline sembari membelalakkan matanya.


"Entahlah. Ibu sudah sering membangunkan kamu, akan tetapi kamu tak kunjung membuka matamu," jelas ibu Zeline.


Mendengar hal tersebut, Zeline terdiam sejenak. Ia mengingat, bagaimana saat Zeline melihat dirinya sendiri di dalam mobil yang sudah hancur.


Sesaat kemudian, Zeline menolehkan pandangannya pada Ezra. Ia mengingat bagaimana saat Ezra membawanya ke sebuah lorong waktu.


Melihat tatapan dari Zeline, Ezra hanya bisa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Seolah memberikan isyarat pada gadis itu, bahwa mimpi tersebut memang benar-benar terjadi.


"Sekarang Ezra sudah ada di depan mata. Apakah kamu merasa tenang?" tanya ayah Zeline yang sengaja membahas tentang Ezra.


Ezra dan Zeline hanya bisa tersenyum simpul. Sementara ibu Zeline, ia langsung menyenggol lengan suaminya, karena telah membuat kedua pasangan tersebut tersipu malu.


Ayah Zeline pun menganggukkan kepalanya, lalu kemudian berjalan mengikuti langkah kaki istrinya yang telah lebih dulu keluar dari kamar putrinya itu.


Kini tinggallah Zeline dan juga Ezra saja yang ada di ruangan tersebut. Zeline kembali mengarahkan pandangannya pada Ezra.


"Yang tadi ... apa maksudnya?" tanya Zeline.


"Nanti kamu akan mengerti dengan sendirinya," ujar Ezra.


"Aku melihat diriku sendiri. Apakah tandanya aku sudah mati?" gumam Zeline.


"Aku tidak tahu pasti akan hal itu," timpal Ezra.


"Bagaimana denganmu? Aku bertemu denganmu di sini. Aku sadar, ibu dan ayahku telah tiada. Dan aku dipertemukan dengan mereka saat di sini. Jika memang begitu, bagaimana denganmu? Bagaimana awal mula aku bertemu denganmu? Dan bagaimana cara kita berpisah?" tanya Zeline dengan nada yang berat di akhir kalimatnya.


Ezra tersenyum getir. Ini di luar dugaannya. Ternyata Zeline lebih mengetahui semuanya lebih dulu.


"Aku bertemu denganmu sewaktu jam olahraga. Saat itu, kamu tengah bercanda bersama sahabatmu, dan mulai saat itu, aku merasa bahwa jantungku memompa darah lebih cepat, nadiku juga berdenyut lebih kencang dari biasanya," jelas Ezra sembari mengulas senyumnya.


"Berarti ... kita sudah cukup lama mengenal?" tanya Zeline.


"Lebih tepatnya adalah aku yang lebih lama mengenalmu," celetuk Ezra.


"Benarkah? Aku jadi penasaran. Lantas, bagaimana caramu mengungkapkannya padaku?" tanya Zeline.


Ezra terdiam, ia menundukkan pandangan ke bawah. Mendengar pertanyaan Zeline, membuat rasa penyesalan itu kembali muncul lagi dan lagi.


"Aku adalah seorang pria pengecut yang tak pernah mengungkapkan perasaan ku padamu," gumamnya.


Bersambung ....