40 Days With You

40 Days With You
Bab 46. Day 9 (bagian 3)



"Aku tidak tahu, siapa yang pertama kali jatuh cinta. Tetapi, asal kamu tahu saat ini, aku mencintaimu. Sebagian ingatanku memang hilang, akan tetapi hatiku tidak bisa untuk ditipu," ujar Zeline sembari mengembangkan senyumnya.


Mendengar ucapan gadis yang ada di sampingnya, membuat hati Ezra menghangat. Ia menatap ke langit, agar air matanya tak jatuh dan dianggap pria cengeng oleh gadis yang ada di sebelahnya.


Dulu, Ezra hanya bisa mengagumi Zeline dari jarak jauh. Dan sekarang, mendengar perkataan Zeline tadi, membuat Ezra merasa senang dan sekaligus terharu.


"Ada apa?" tanya Zeline yang sedari tadi memperhatikan Ezra mengulas senyumnya.


"Tidak apa-apa. Aku ... aku merasa sangat bahagia mendengar ucapanmu tadi," ungkap Ezramengarahkan pandangannya pada gadis yang ada di sebelahnya.


Zeline terkekeh geli, ia pun melihat Ezra dengan seksama. Pria yang memiliki lesung pipi itu, selalu saja membuatnya terpukau, dan jatuh cinta berkali-kali.


"Tapi ... Kurasa, aku juga teramat menyukaimu dulu. Entah mengapa, jantungku selalu berdetak dengan kencang disetiap kali aku melihatmu," tutur Zeline.


Keduanya pun saling menatap, setiap inchi wajah Zeline, diperhatikan oleh Ezra dengan seksama. Gadis bersurai panjang, memiliki hidung yang tinggi dan lancip, bibir yang tipis, serta tatapan yang cukup tajam, mampu menghipnotis Ezra akan kecantikan yang dimiliki oleh Zeline.


Dan bibir itu, bibir tipis yang selalu lembap, membuat pikiran Ezra menjadi kacau balau disetiap kali menatap sesuatu yang indah dan sedikit basah itu.


Ezra dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dan ia pun mencoba memalingkan wajahnya dan mengubah topik pembicaraan. Agar perhatiannya teralihkan pada bibir seksi milik gadis yang ada di sampingnya itu.


"Ayo sebaiknya kita masuk! Mungkin kamu ingin beristirahat," ujar Ezra yang mulai salah tingkah.


"Aku sudah cukup beristirahat. Bahkan baru bangun dari tidur setelah dua hari lamanya," balas Zeline sembari mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Emmmm ... kalau begitu ... ayo kita temui om dan tante. Aku merasa tidak enak jika meninggalkan mereka begitu saja," ujar Ezra yang kembali mencari alasan.


"Ya sudah, baiklah kalau begitu." Zeline pun beranjak dari tempat duduknya, diikuti oleh Ezra.


Namun, Zeline diam-diam tersenyum tipis, dia tahu betul saat ini Ezra tengah gelisah karena salah tingkah. Akan tetapi, Zeline tidak tahu jika kegelisahan Ezra itu bermula karena melihat bibir seksi miliknya yang begitu sangat menggoda iman Ezra.


Kedua orang tersebut berjalan menuju ke ruang tengah. Mereka ikut bergabung pada ibu dan ayah Zeline yang tengah duduk sembari menyaksikan televisi yang menayangkan sinetron kesayangan ibunya.


"Yah, kita sudah lama tidak jalan-jalan," celetuk ibu Zeline saat putrinya serta Ezra mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di sana.


"Apakah kamu ingin jalan-jalan?" tanya ayah Zeline sengaja mengulangi ucapan sang istri.


Ibu Zeline langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias. Pandangan sang ayah pun langsung mengarah ke putrinya, dan Zeline juga memberikan respon yang sama, bahwa ia juga ingin jalan-jalan.


"Baiklah, jika memang begitu besok kita akan jalan-jalan. Kalian ingin kemana?" tanya ayah Zeline.


Ibu Zeline berpikir keras, ia pun melemparkan tatapannya pada putri semata wayangnya yang ada di sebelah.


"Kira-kira Zeline punya usul, Nak?" tanya Ibu Zeline.


"Bagaimana jika kita jalan-jalan ke villa saja. Kita menginap beberapa hari di sana," ujar Zeline memberikan usul.


"Ayah setuju," celetuk ayah Zeline.


"Ibu juga setuju," sambung ibu Zeline.


"Ezra ikut ya?" ajak Ibu dan ayah Zeline dengan serentak.


Zeline melemparkan pandangannya pada Ezra, menunggu jawaban dari pria manis yang memiliki lesung pipi itu.


Ezra mengerjapkan matanya beberapa kali. Melihat tatapan semua orang yang mengarah padanya. "Tapi ... apakah saya tidak mengganggu?" tanya Ezra dengan tatapan yang serius.


Pria itu tahu, jika Zeline baru saja bertemu dengan keluarganya kembali dalam keadaan seperti ini. Pandangannya terarah pada Zeline, gadis itu menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa dirinya tidak merasa terganggu dengan keberadaan Ezra di tengah-tengah keluarganya. Bahkan sebaliknya, Zeline merasa senang jika bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya dan juga Ezra.


"Kami merasa tidak terganggu sama sekali dengan keberadaanmu, Nak. Justru Om merasa senang jika kamu juga ikut bersama kami. Dengan adanya Ezra, pasti Zeline lebih ceria," tutur ayah Zeline menepuk pundak Ezra dengan pelan.


"Full senyum," celetuk ibu Zeline sembari menaik turunkan alisnya. Sengaja untuk membuat kedua pipi anak gadisnya menjadi merah merona.


"Ihhh! Ibu!! Zeline malu!!" Zeline langsung menutupi kedua pipinya yang terlihat memerah bak kepiting rebus.


Kedua orang tua Zeline langsung tertawa terbahak-bahak. Sementara Ezra, pria itu hanya bisa mengulum senyumnya. Sejujurnya ia juga merasa malu, karena bagaimana pun juga, ucapan ibu Zeline tadi juga menyangkut tentang dirinya. Dia juga akan selalu tersenyum jika berada di dekat Zeline.


"Bagaimana? Ayo ikut saja!" ajak ayah Zeline dengan sedikit bujukan dan setengah memaksa.


Tak lama kemudian Ezra pun menganggukkan kepalanya, pertanda setuju dengan ajakan tersebut. "Baiklah, Ezra akan ikut," ucapnya seraya melemparkan senyum.


Mendengar persetujuan dari Ezra, membuat Zeline langsung diselimuti rasa bahagia. Ia ingin menciptakan momen indah dengan Ezra, sebelum ingatannya perlahan akan kembali dan bisa jadi, itu akan menyakitkan bagi Zeline.


"Baiklah kalau begitu. Besok, kamu segera kemasi pakaianmu secukupnya karena kita akan menginap mungkin sekitar satu Minggu di sana," ujar ayah Zeline.


"Satu minggu?" tanya Zeline sedikit membelalakkan matanya.


"Kalau ibu sih, tidak merasa keberatan sama sekali. Justru ibu sangat senang jalan-jalan dengan waktu yang lama," ujar ibu Zeline.


"Zeline juga tidak merasa keberatan, Yah." Zeline menimpali ucapan ayahnya.


"Bagaimana dengan Ezra?" ayah Zeline pun melemparkan pandangannya ke arah pria tampan tersebut.


"Saya ikut saja, Om." Ezra menjawab pertanyaan ayah Zeline.


"Baiklah, kalau begitu sudah deal ya!"


"Iya," timpal semua orang secara serentak.


Tak terasa, hari pun sudah mulai larut. Ezra segera berpamitan dengan kedua orang tua Zeline. Pria itu menyalami tangan ayah dan ibu Zeline secara bergantian.


"Ezra pamit pulang dulu ya, Om, Tante."


"Iya, hati-hati, Nak." Ayah Zeline membuka suara.


"Besok jangan lupa ya. Datang ke sini jam 7 pagi," ucap ibu Zeline yang sudah memasang waktu untuk bersiap berangkat besok.


"Baik, Tante." Ezra menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah. Zeline, kamu antar Ezra sampai ke depan," ujar ibu Zeline.


Zeline pun mengangguk patuh. Ia segera mengikuti langkah Ezra dari belakang, berjalan menuju ke pintu utama.


Sesampainya di luar, Ezra mengarahkan pandangannya pada Zeline. "Aku pamit pulang dulu," ucap Ezra.


"Hmmm ...." Zeline menganggukkan kepalanya, ia menekuk bibirnya ke dalam dan itu membuat Ezra semakin gemas dengan gadis imut yang satu ini.


"Hati-hati di jalan. Jangan lupa besok banyak-banyak kemasi pakaianmu," lanjut Zeline sembari terkekeh.


"Iya. Kamu juga," balas Ezra seraya mengembangkan senyumnya.


Keduanya pun tersenyum canggung. Zeline menyelipkan sedikit rambutnya ke belakang telinga, pertanda bahwa gadis itu saat ini juga tengah salah tingkah.


Cukup lama mereka saling pandang sembari melemparkan senyum. Sesekali mereka pun tertawa karena kekonyolan yang mereka perbuat.


"Aku pulang dulu," ujar Ezra yang kembali mengucapkan kata tersebut, akan tetapi sedari tadi pria itu tak berjalan satu centi pun dari tempatnya.


"Iya. Hati-hati di jalan," balas Zeline tersenyum malu.


"Ck! Sepertinya aku tidak ingin pulang saja," gumam pria tersebut dengan pelan.


"Apa katamu tadi?" tanya Zeline yang meminta agar Ezra mengulangi ucapannya, karena gadis itu tak mendengar perkataan pria yang ada di hadapannya dengan jelas.


"Ah tidak. Kalau begitu ... aku pulang dulu," ucap Ezra.


"Dan kamu sudah mengatakan kalimat itu untuk yang ketiga kalinya," tutur Zeline seraya terkekeh geli.


Ezra mengusap tengkuknya yang tak gatal. Mencoba mengusir rasa malu yang hinggap di dalam dirinya.


"Dahhh ...." Pria itu pun mulai melangkahkan kakinya, pergi dari tempat itu sembari melambaikan tangannya.


Zeline membalas lambaian tangan Ezra. Menatap kekasih hatinya yang mulai masuk ke dalam kendaraannya itu.


Ezra menghidupkan mesin mobilnya. Lalu kemudian meneriakkan klakson sebelum benar-benar pergi dari tempat tersebut.


Sementara Zeline, gadis itu menganggukkan kepalanya dengan tangan yang sedari tadi terus melambai.


"Besok jangan lupa!!" serunya saat mobil yang dikendarai oleh Ezra mulai menjauh dari halaman rumah.


Ezra mengulurkan tangannya melalui jendela, lalu kemudian mengacungkan ibu jarinya untuk membalas ucapan Zeline tadi.


Sepeninggal Ezra, Zeline kembali mengembangkan senyumnya.


"Satu minggu penuh bertemu dengan Ezra, aku tidak bisa membayangkan hal yang sangat menyenangkan itu," gumamnya sembari memegangi kedua pipinya yang mulai memerah karena merasa salah tingkah.


Gadis itu pun masuk ke dalam rumahnya, tak sabar menyambut hari esok, saat mereka berangkat ke villa dan menatap wajah Ezra sepuasnya dalam satu minggu penuh itu.


Bersambung ....