
"Apakah kamu lupa? Dia Ezra, Nak. Tunanganmu!"
"Hah? Tunangan?!" ujar Zeline tercengang.
Zeline semakin bingung dengan situasi ini. Rasanya sedikit aneh jika mendapati dia telah bertunangan. Zeline berpikir keras, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Namun, saat kembali melihat wajah pria yang dengan setia mengembangkan senyumnya itu, ia merasa tidak asing dengan sosok yang ada di hadapannya.
"Apakah memang benar jika pria ini adalah tunanganku? Akan tetapi, jika memang benar, ini tidak lah buruk! Wajahnya benar-benar tampan," batin Zeline.
"Apakah kamu tidak akan mengizinkan aku masuk?" tanyanya seraya mengembangkan senyum. Memperlihatkan kedua lesung pipi itu, membuat Zeline jatuh cinta.
"Ah iya. Silakan masuk!" ucap gadis itu mempersilakan pria tersebut masuk ke dalam huniannya.
Ezra tersenyum, ia berlalu dari hadapan Zeline dan duduk di ruang tengah, ikut bergabung bersama ayah Zeline.
"Ku rasa dia sengaja menebar pesona padaku dengan memperlihatkan lesung pipinya itu," gumam Zeline pelan.
Zeline berjalan menuju ke dapur. Ia melihat ibunya yang tengah membuatkan minuman untuk Ezra.
"Ezra datang sendirian nak?" tanya ibunya saat menyadari keberadaan putrinya yang menatap ke arahnya.
"Iya, Bu." Zeline menimpali diiringi dengan anggukan kecil.
"Dapat bunga lagi?" tanya ibu Zeline sembari mengulas senyumnya.
"Iya, Bu."
"Dia sering mengirimkan bunga padamu, Nak. Kamu sangat senang jika mendapatkan bunga darinya. Apalagi terselip kartu ucapan pada bunga itu, yang membuat kamu selalu bersemangat," tutur ibu Zeline.
Zeline mengernyitkan keningnya. Dan benar saja, ia melihat sebuah kartu ucapan yang terselip diantara bunga-bunga itu.
"Letakkan lah bunga itu di kamarmu, dan gantilah bunga yang lama dengan yang baru," lanjut ibu Zeline.
Zeline mengangguk, ia berjalan menuju ke kamarnya untuk meletakkan bunga tersebut sesuai perkataan ibunya.
Setibanya di kamar, Zeline menatap pada vas bunga berisikan mawar yang hampir layu. Zeline pun langsung mengganti bunga tersebut dengan bunga yang baru. Ia melihat kartu ucapan yang terselip di antara bunga-bunga itu. Gadis itu langsung membuka kartu ucapan tersebut, dan membaca kalimat yang tertera di sana.
Apa kabar? Akhirnya kita dipertemukan lagi dalam situasi ini. Ku harap, kamu dapat melihatku sepuasnya dan aku juga dapat melihatmu sepuasnya.
Membaca kalimat yang tertera di sana, entah mengapa membuat kepala Zeline tiba-tiba berdenyut. Ia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Bukan hanya di bagian kepala saja, akan tetapi juga di dadanya.
Rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya, seolah menekan dengan begitu kuat, hingga membuat Zeline kesulitan untuk bernapas.
Air matanya mengalir dengan deras. Entah mengapa, ia seakan merindukan sesuatu dari tulisan ini. Tulisan tangan ini seakan menariknya, membawa dirinya pada satu hal yang pernah terjadi, akan tetapi Zeline belum tahu, apa sebenarnya yang terjadi.
"Ada apa denganku? Melihat tulisan ini ... rasanya benar-benar sakit. Dadaku sesak dan air mataku jatuh begitu saja. Yang aku ingat, aku kehilangan ibu dan ayahku, dan tiba-tiba dipertemukan dalam keadaan seperti ini lagi. Berarti dia ...."
Zeline kembali meneteskan air mata sembari menutup mulutnya. Jika memang benar begitu, maka ini benar-benar menyiksanya. Apakah dia saat ini dipertemukan dengan orang-orang yang telah tiada? Lantas ... pria ini juga berlaku sama halnya dengan kedua orang tuanya.
Zeline menyeka air matanya, saat mendengar pintu kamar di buka. Ia menoleh, melihat ibunya yang menyembulkan kepalanya di balik pintu itu.
"Kenapa lama sekali? Ayo turun! Tidak enak dengan Ezra jika kamu tidak keluar kamar," ujar ibu Zeline.
membuangnya begitu saja.
Zeline berjalan menuju ke ruang tengah. Ia mendapati kedua orang tuanya yang tengah berbincang-bincang dengan Ezra. Mereka tampak begitu akrab.
Ezra menatap Zeline, mengembangkan senyumnya yang terlihat begitu tulus. Matanya yang lembut dan teduh, memancarkan sebuah kedamaian dan juga kehangatan di dalamnya.
"Duduklah sini, Nak!" Ibu Zeline menyuruh agar Zeline duduk di samping Ezra.
Zeline pun menuruti ucapan ibunya. Ia langsung menjatuhkan bokongnya tepat di samping pria tersebut.
"Kalian ngobrol saja, ibu dan ayah sudah mengantuk," ucap ibu Zeline sembari menyenggol kaki ayah Zeline, memberikan isyarat bahwa mereka berdua harus segera pergi meninggalkan tempat itu dan membiarkan Zeline dan juga Ezra berbincang dengan leluasa.
"Ah iya. Ayah juga sudah sangat mengantuk," sambung ayah Zeline yang juga mendukung sandiwara istrinya.
"Selamat malam Om, Tante," ucap Ezra.
Ayah dan ibu Zeline hanya menanggapinya dengan tersenyum simpul, lalu kemudian meninggalkan tempat tersebut, membiarkan kedua anak muda itu leluasa berbincang.
Kini tinggal lah Zeline dan Ezra yang berada di ruang tengah. Ezra memperhatikan Zeline dengan begitu seksama. Zeline merasa sedikit malu ditatap oleh pria itu. Saat Zeline berbalik menatap Ezra, pria itu hanya mengulas senyum simpul.
"Silakan diminum tehnya," ujar Zeline berbasa-basi, mencoba untuk menghilangkan rasa canggungnya.
"Iya, terima kasih." Ezra pun langsung menuruti ucapan Zeline dengan menyesap teh yang dibuatkan oleh ibu Zeline tadi.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Zeline.
"Tanyakan saja, aku akan menjawabnya dengan senang hati," timpal Ezra yang kembali meletakkan gelas tehnya di atas meja.
"Tentang tulisan mu tadi ... seperti terselip sebuah makna di dalamnya. Apa maksudnya dengan kata yang dipertemukan lagi? Aku sungguh sulit memahaminya. Aku merasa ... sebagian ingatanku hilang begitu saja. Saat melihatmu, aku seakan tidak mengenalmu. Namun, aku tetap merasa bahwa kamu sosok yang tidak asing."
"Setelah aku membaca tulisanmu, entah mengapa air mataku jatuh begitu saja. Seolah kita pernah dipisahkan lalu dipertemukan kembali. Aku ...."
"Ssssttt ...." Ezra langsung meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Zeline. Pria itu memotong ucapan gadis yang ada di sebelahnya.
"Aku tidak ingin membuatmu banyak berpikir tentang tulisan yang ku buat. Aku hanya ingin, kamu menghabiskan waktu dengan bersuka cita, bersamaku dengan waktu yang telah ditentukan. Jangan tanyakan apapun selanjutnya, karena suatu saat nanti kamu akan mengetahui semuanya. Setelah kamu benar-benar siap menerimanya. Untuk saat ini, nikmati saja kebersamaan kita, hmmmm ...." Ezra mengatakan hal itu seakan membujuk Zeline untuk tidak terlalu memikirkan apa yang saat ini mengganggu pikirannya.
"Baiklah. Aku akan mengikuti saranmu," ucap Zeline menuruti ucapan pria itu.
Ezra tersenyum, ia menyentuh puncak hidung Zeline dengan lembut. Membuat wajah Zeline mendadak bersemu merah.
"Kamu sangat cantik," puji Ezra.
Kalimat itu pun langsung membuat wajah Zeline memerah dan panas, karena merasa malu. Ia memegangi kedua pipinya sembari tersenyum.
"Tersenyum lah seperti itu. Kamu lebih cantik saat tersenyum dari pada menangis. Ku harap, kamu akan tetap bahagia dimana pun kamu berada," tutur Ezra sembari membelai puncak kepala Zeline dengan lembut. Kata-kata yang memiliki begitu dalam diucapkan oleh pria berlesung pipi itu.
Bersambung .....