40 Days With You

40 Days With You
Bab 71. Day 20 (Bagian 4)



"Apakah kita tidak akan pulang?" tanya Zeline menatap Ezra yang tengah memejamkan matanya sembari memeluk Zeline.


"Tidak." Ezra menimpali dengan mata yang masih terpejam.


"Bagaimana jika nantinya kita dimarahi oleh ayah dan ibu karena telah pulang terlambat?" tanya Zeline yang masih takut jika nanti kedua orang tuanya akan murka melihat mereka yang belum juga pulang.


"Tidak. Mereka tidak akan marah," jawab Ezra lagi.


"Bagaimana bisa kamu sampai sepercaya diri itu?" tanya Zeline lagi.


Hal itu membuat Ezra membuka mata, lalu kemudian menatap gadis yang ada di dalam dekapannya, tengah mengharapkan jawaban yang pasti dari Ezra.


"Sebelum berangkat, aku sudah meminta izin terlebih dahulu. Dan mereka mengizinkannya, dan bahkan jika kita tidak pulang hari ini pun mereka tidak akan khawatir, karena aku sudah membujuk kedua orang tuamu dan mengatakan bahwa jika bersamaku, maka Zeline adalah tanggung jawabku," jelas Ezra panjang lebar.


"Oohhh ...." Zeline menganggukkan kepalanya, mengerti akan ucapan Ezra. Ia bersyukur akan kepercayaan yang diberikan oleh kedua orang tuanya kepada Ezra. Dengan begitu, Zeline bisa menghabiskan waktu dengan leluasa pada pria tersebut, akan tetapi dengan masih menjaga amanat kedua orang tuanya.


"Ternyata kamu sangat dekat dengan kedua orang tuaku." Zeline kembali membuka suara dengan mengulas senyum simpulnya.


"Tentu saja, dengan begitu aku mudah untuk mendekati putri mereka," ucap Ezra dengan penuh percaya diri.


Mendengar hal tersebut, tentu saja membuat Zeline terkekeh geli. Sisi percaya diri dari pria yang ada di sampingnya itu mulai tampak, membuat Zeline semakin gemas dibuatnya.


Hari semakin malam, udara malam itu pun semakin dingin dan menembus ke kulit. Ezra melirik Zeline yang semakin erat memeluk tubuhnya, pertanda bahwa gadis itu sudah mulai merasa kedinginan.


"Ayo kita cari makan terlebih dahulu, dan setelah itu kita cari penginapan," ajak Ezra.


"Hah? Penginapan?!" tanya Zeline sembari membelalakkan matanya, ia terkejut mendengar Ezra berucap demikian.


"Iya. Memangnya kita mau tidur di mana kalau bukan di penginapan?" tanya Ezra.


Zeline masih tertegun dengan bermacam pikiran kotor yang ada di kepalanya. Dia berpikir, jika pria dak wanita berada di dalam satu ruangan, pasti akan muncul setan sebagai orang ketiganya.


"Apa yang kamu pikirkan, hah?!" tanya Ezra seraya mencubit puncak hidung Zeline dengan gemas. Ia yakin, jika Zeline saat ini tengah memikirkan hal yang tidak-tidak tentangnya.


"Tidak apa-apa," ucap Zeline dengan wajah yang memerah.


"Aku akan menyewa dua kamar, kamu tidak perlu khawatir akan hal itu," ujar Ezra yang kemudian beranjak dari tempat duduknya. Pria itu mengulurkan tangannya pada Zeline.


"Bangunlah! Kita cari makan terlebih dahulu karena aku sudah merasa lapar," lanjut Ezra.


Zeline pun meraih tangan Ezra, dan kemudian mereka mencari tempat mengisi perut mereka yang mulai terasa lapar.


....


Saat ini, keduanya tengah berada di sebuah kedai yang tak jauh dari pantai tersebut. Zeline tak melepaskan tangan Ezra, menggenggam tangan pria itu dengan begitu erat.


"Apakah kita tidak akan makan?" tanya Ezra.


"Kalau memang tidak makan, untuk apa kita berada di sini?"


Ezra melirik tangan kanannya yang masih digenggam oleh Zeline. Gadis itu pun mengikuti arah pandang Ezra. Ia tersenyum, lalu kemudian melepaskan genggaman tangannya.


"Maaf," ucap Zeline mengedipkan matanya beberapa kali.


Ezra hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepala. Jauh dari perkataannya jika Zeline akan semanja ini pada dirinya.


Keduanya pun menyantap makanan yang tersaji. Aroma dari kuah seafood tersebut, tercium menyengat, akan tetapi sangat menggugah selera. Mereka menikmati makanan hangat itu sembari mengobrol santai.


Setelah mengisi perut mereka, kini keduanya menuju ke sebuah penginapan. Salah satu resepsionis yang berjaga pun melayani mereka dengan sangat ramah.


"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?" ucap resepsionis tersebut.


"Kami mau pesan dua kamar," ujar Ezra.


"Baik, Pak. Tunggu sebentar," balasnya sembari mengecek kamar yang kosong.


"Maaf, Pak. Untuk kamar yang tersedia hanya tersisa satu kamar saja," ucap resepsionis tersebut.


Sontak Zeline dan Ezra pun saling menatap, lalu kemudian mengedipkan matanya beberapa kali. Mereka bingung, jika tidak mengambil kamar tersebut, maka mereka tidak ada tempat untuk tidur. Sementara saat ini, hari sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Mendengar jawaban dari Ezra, Zeline langsung membelalakkan matanya. Pikirannya kembali melalang buana, tentang pria dan wanita yang disatukan dalam satu ruangan tanpa ikatan sama sekali.


Melihat Zeline yang hanya termenung sedari tadi, sementara kunci telah diberikan oleh resepsionis, membuat Ezra pun langsung menarik tangan gadis tersebut.


Zeline terkejut, gadis itu mengikuti langkah Ezra, kemana pria itu akan membawanya. Setibanya di depan pintu kamar mereka, Zeline pun langsung menyentuh lengan Ezra dengan pelan.


"Ada apa?" tanya Ezra. Pria itu bisa membaca ekspresi wajah yang menyiratkan akan keraguan, karena mereka akan tidur dalam satu kamar itu.


"Apakah kamu yakin dengan ini? Kita akan tidur dalam satu ruangan," ujar Zeline yang mengeluarkan uneg-uneg yang sedari tadi mengganggu pikirannya.


"Apakah kamu tidak yakin padaku?" tanya Ezra seraya mengangkat sebelah alisnya.


"Bu ... bukan seperti itu ...."


Greppp ...


Ezra langsung menarik masuk Zeline, dan kemudian mengunci pintu kamar itu. Ia membuat Zeline tersandar di belakang pintu. Sementara pria itu sengaja mengunci posisi Zeline, dengan jarak tubuh yang saling berdekatan.


"Apakah kamu tidak yakin padaku?" tanya Ezra dengan nada beratnya.


Bulu kuduk Zeline langsung merinding disko. Bukan karena ia takut Ezra adalah hantu, akan tetapi suara itu membuatnya seakan terlena dan terdengar tampak seksi.


"Bu-bukan seperti itu," timpal Zeline dengan sedikit terbata-bata. Ia benar-benar nervous berada sedekat ini dengan Ezra. Meskipun keduanya sudah sempat saling bertemu bibir, akan tetapi posisi kali ini berbeda. Jika dibiarkan, maka yang terjadi akan lebih dari sekedar berciuman saja.


"Apakah kamu sungguh meragukanku? Atau aku kurang tampan?" tanya Ezra yang semakin lama semakin berani, dan juga semakin menantang.


"Tidak, aku bukan bermaksud mengataimu jelek. Tapi sungguh! Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja ini ...."


"Apa kamu takut jika aku memakanmu?" tanya Ezra yang langsung memotong pembicaraan Zeline.


Glekkk ...


Zeline meneguk salivanya dengan kasar. Itulah yang ia takutkan. Ezra akan memakannya malam ini, dan membuatnya lupa akan jalan pulang ke villa.


Wajah Ezra semakin mendekat, seolah sudah mengambil ancang-ancang untuk kembali meraup bibir tipis dan manis yang membuatnya candu itu.


Meskipun dalam keadaan ketakutan setengah mati, akan tetapi naluri Zeline berbeda dengan akal sehatnya. Bukannya Zeline mendorong dan menyadarkan Ezra, malah lebih gilanya, Zeline justru memejamkan matanya, seolah pasrah aja apa yang dilakukan oleh pria berlesung pipi itu terhadap dirinya.


Embusan napas Ezra semakin kian terasa menyapu kulit wajah Zeline. Seiring dengan hal itu terjadi, detak jantung Zeline semakin menggila. Berdetak kencang tak karuan sehingga membuat Zeline juga hampir kewalahan.


Namun, sesaat kemudian, Zeline merasakan nyeri di keningnya. Pria yang ada di hadapannya itu terkekeh geli setelah menyentil kening Zeline.


"Dasar gadis nakal! Kamu mengharapkan apa?" tanya Ezra sembari tertawa kecil.


Mendengar kalimat tersebut, membuat Zeline langsung menggosok keningnya seraya meringis kesakitan. Hal itu ia lakukan untuk menghilangkan rasa malunya karena ternyata dialah yang berharap lebih dan sesuatu itu akan terjadi.


"Sakit tau!!" protesnya sembari mencebikkan bibirnya.


"Sudah, sekarang kamu istirahatlah! Kamu pasti lelah karena seharian ini pergi bersamaku," ucap Ezra yang kemudian membuka pintu hendak pergi dari tempat tersebut.


"Kamu mau kemana?" tanya Zeline menatap pria itu dengan heran.


"Aku akan tidur di dalam mobil saja. Kamu istirahatlah di kamar ini," jawab Ezra.


"Lagi pula aku takut jika nanti kamu akan memakanku di saat aku tertidur pulas," lanjut pria itu yang langsung membuat wajah Zeline merah padam karena menahan malu.


"Ezra!!"


"Tidurlah! Selamat malam!" Ezra menghadiahi sebuah kecupan lembut di kening Zeline sebelum pria itu pergi meninggalkannya.


Sementara Zeline, ia mematung, menatap punggung Ezra yang semakin lama semakin menjauh darinya.


"Dia sungguh pria yang baik. Rela berkorban dengan tidur di mobil hanya tidak ingin aku merasa tak nyaman. Bagaimana ini? Aku semakin mencintainya. Bagaimana nantinya setelah aku kehilangan sosok itu?" gumam Zeline menatap Ezra yang sudah menghilang dari pandangannya.


Bersambung....