
"Namun, sayangnya aku menyadari semua itu saat aku tengah dalam perjalanan menuju pulang. Aku berencana untuk memutar balik, mengatakan bahwa pria yang mengirimkan bunga untukmu itu adalah aku. Pria yang menuliskan surat-surat itu adalah aku. Akan tetapi, saat itu takdir berkata lain. Ketika aku hendak memperjuangkan mu, di saat itu pula Tuhan menyuruhku untuk berpulang. Aku mengalami kecelakaan saat hendak berbalik untuk menemuimu," tutur Ezra dengan raut wajah yang sendu.
Mendengar semua itu, membuat Zeline pun sadar. Apa alasan pria itu tidak memperjuangkannya. Dan bagaimana pilunya saat Ezra berpulang dalam keadaan ingin memperjuangkan Zeline.
Kepingan ingatan yang bak puzzle pun kini perlahan mulai tersusun, mendapatkan jawabannya satu persatu. Zeline mengingat, dimana saat dia tiba-tiba pergi ke toko bunga, Zeline juga teringat saat ia menangis tersedu di kamar Ezra, tepatnya saat gadis itu melihat koleksi foto sedari ia masih sekolah, hingga ia sudah terkenal menjadi seorang artis.
Dan satu hal yang Zeline teringat, dimana saat ia menangis dihadapan pusara Ezra, berdoa agar waktu bisa diputar kembali, supaya ia bisa memberikan seluruh perhatian dan cintanya pada pria yang juga tak lain adalah cinta pertamanya.
"Aku berdoa pada Tuhan, agar aku dipertemukan suatu hari nanti denganmu dalam keadaan apapun," ucap Ezra selanjutnya.
Hal itu tentu saja membuat Zeline langsung menoleh ke arah pria tersebut. Bagaimana tidak? Doa Zeline juga sama halnya dengan doa Ezra. Ia juga meminta agar waktu diputar kembali dan ia dipertemukan dengan pria tersebut.
"Doaku dan doamu sama," gumam Zeline.
Ezra tersenyum, itu tandanya cinta pria itu akhirnya berbalaskan. Bukan hanya di alam bawah sadar Zeline saja, akan tetapi kenyataannya Zeline juga membalas cintanya sebelum itu.
"Satu hal yang perlu kamu tahu, Ezra." Zeline melanjutkan ceritanya dengan pandangan ke depan.
Mendengar hal tersebut, tentu saja membuat Ezra langsung merasa senang. Bagaimana tidak? Penantian serta keberanian pria itu hanya di dapat saat dirinya berada di alam bawah sadar Zeline. Dan sekarang, Zeline mengutarakan semuanya, membuat Ezra bahagia bukan kepalang.
"Ternyata ... kita sudah saling menyukai sejak lama. Hanya saja, kita baru menyadarinya sekarang," ucap Ezra tersenyum lalu kemudian menundukkan pandangannya.
"Aku juga tidak tahu, kenapa kita tidak jujur sedari awal. Andaikan dulu diantara kita bisa saling terbuka, mungkin tidak akan cerita semenyakitkan ini. Sungguh, aku benar-benar terpukul saat menyadari semuanya. Dan sekarang, aku mengetahui segalanya," ujar Zeline seraya menyeka air matanya. Ia benar-benar tak kuasa menahan rasa sesak di dalam dadanya.
Sementara di waktu yang bersamaan, ibu dan ayah Zeline mendengar pembicaraan keduanya. Sedari awal, mereka sudah berada di sana dan mendengar cerita dari kedua insan yang saling mendamba itu.
Ibu Zeline sedari tadi menitikkan air matanya. Sementara ayah Zeline, ia berusaha untuk tetap tegar dan memfokuskan telinganya untuk mendengar pembicaraan kedua orang tersebut.
"Mereka adalah dua insan yang sama-sama tersakiti. Mengapa takdir begitu kejam untuk keduanya? Haruskah aku membiarkan Zeline untuk tinggal dan menetap di sini bersama Ezra?" batin ayah Zeline.
Bersambung .....