
Zeline perlahan membuka matanya. Ia melihat ke sekelilingnya, dan sadar bahwa kini dirinya tengah berada di dalam kamar. Di sana, ia tak sendirian, ada Ezra dan juga kedua orang tuanya yang tampaknya tengah menunggu dirinya terbangun dari tidur.
Saat melihat Zeline telah bangun dari tidurnya, semua orang pun segera menghampiri Zeline.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya ibu Zeline.
"Kamu baik-baik saja?" tanya ayah Zeline.
"Apakah ada sesuatu yang kembali kamu ketahui?" kali ini Ezra lah yang bertanya, membuat kedua orang tua Zeline langsung mengarahkan pandangannya pada pria tersebut.
"Apa yang kamu maksud, Nak Ezra?" tanya ibu Zeline.
"Zeline akan menemukan kepingan ingatan tentang dirinya saat ia tidur selama berhari-hari," jelas Ezra.
Kali ini, Zeline lah yang justru menatap ke arah Ezra. Gadis itu sedikit menganga dengan mata yang membulat.
"Memangnya ... sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Zeline.
"Malam kemarin kamu tidak bangun, pagi harinya kamu juga tidak bangun. Dan hari ini, tepatnya sore ini, kamu baru saja terbangun," jawab ayah Zeline.
Ezra dan ibu Zeline pun menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan ayah Zeline.
Zeline langsung beranjak dari tempat tidurnya, gadis itu pun meraih ponsel yang ada di atas nakas. Memeriksa tanggal yang ada di ponsel tersebut.
"Apakah aku tertidur kemarin malam?" tanya Zeline.
"Bukan. lebih tepatnya malam kemarinnya lagi." Ibu Zeline menimpali masih memperlihatkan raut wajah bingungnya.
"Memangnya ada apa sih? Ibu masih penasaran dengan ucapan Ezra di tambah dengan kami yang sedari tadi menanyakan berapa lama kamu tertidur," ujar ibu Zeline.
"Tidak apa-apa, Bu. Tidak ada masalah kok," ucap Zeline yang memilih untuk menyembunyikan semua itu. Jika Zeline menceritakan tentang mimpinya, akan pasti membuat kedua orang tuanya merasa sedih, begitu pula dengan Ezra.
Mungkin pada kenyataannya, mereka telah mengetahui segalanya. Namun, Zeline tetap saja menyembunyikan hal itu hingga nanti ia benar-benar siap untuk membuat keputusan barulah ia akan menceritakan semuanya.
Ezra dan kedua orang tua Zeline saling berpandangan . Mereka bingung dengan tingkah gadis tersebut. Dari ekspresi yang ditunjukkan oleh Zeline, terlihat jelas jika gadis tersebut tengah menyembunyikan sesuatu.
"Kalau begitu, Zeline mau mandi dulu ya, Bu. Intinya ayah dan ibu tidak usah memikirkan hal itu. Tidak ada yang terjadi selama aku tertidur," tutur Zeline mencoba menenangkan kedua orang tuanya.
"Begitu pula denganmu, Ezra." Zeline mengarahkan pandangannya pada Ezra. Pria itu hanya bisa mengangguk pasrah.
Zeline langsung pergi ke kamar mandi. Semua orang yang ada di sana pun segera pergi dari sana. Tak mungkin menunggui Zeline hingga selesai mandi. Apalagi di sana ada dua orang yang berbeda gender.
Setelah memastikan kepergian semua orang, Zeline pun menyenderkan tubuhnya tepat di pintu yang ada di kamar mandi. Tentang mimpinya semalam, tentu saja ia masih bingung akan keputusan yang ia buat nantinya.
"Saat ini, aku lebih berbahagia di sini. Apakah aku harus memilih untuk tetap tinggal saja dari pada kembali?" gumam Zeline.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. Ia segera melangkahkan kaki menuju ke shower dan menghidupkan benda tersebut hingga membasahi tubuhnya yang sudah polos tanpa sehelai benang pun.
"Apapun itu, semoga aku tidak salah mengambil keputusan nantinya," gumam Zeline
Bersambung ....