40 Days With You

40 Days With You
Bab 70. Day 20 (Bagian 3)



Zeline baru saja terbangun dari tidurnya. Gadis itu melirik ke sekitar, mendapati bahwa ia tengah berada di dalam mobil. Ia mengusap matanya beberapa kali, melihat langit yang mulai berwarna jingga.


"Wah, indah sekali!" gumam Zeline merasa takjub. Gadis itu mengulas senyumnya, saat mendapati dirinya tengah berada di pantai.


"Dia benar-benar pria yang romantis. Aku tidak menyangka jika dia akan membawaku ke tempat ini," ucap Zeline lagi.


Ia melirik ke kursi sebelah, tak mendapati keberadaan Ezra di sana. Hal tersebut membuat Zeline bertanya-tanya kemana perginya pria itu.


Zeline memutuskan untuk keluar dari mobil. Ia mengedarkan pandangannya, samar-samar gadis itu melihat Ezra dari kejauhan.


Zeline melepaskan alas kakinya, menikmati butiran pasir yang terasa menggelitik di telapak kakinya. Gadis itu melangkah mendekat ke arah Ezra.


Saat itu Ezra tengah sibuk menulis sesuatu di hamparan pasir yang luas itu. Bahkan, pria tersebut tidak mengetahui jika Zeline tengah berdiri di belakangnya saat ini.


Dengan memakai ranting kecil, Ezra menulis sesuatu di atas pasir tersebut. Sesekali pria itu mengulas senyumnya menatap tulisan yang telah berhasil ia ukir di pasir.


Ezra mendengar suara yang mendekat ke arahnya. Saat ia berbalik, benar saja, Zeline tengah berjalan menghampirinya sembari melambaikan tangan. Pria itu pun berbalik, memperlihatkan senyum terbaiknya.


Semakin lama langkah Zeline semakin cepat, hingga akhirnya gadis itu memilih untuk berlari dan langsung menghambur ke pelukan pria berlesung pipi itu.


"Kamu sedang apa?" tanya Zeline menatap ke arah tulisan berukuran besar yang dibuat oleh Ezra.


"Hanya menulis kalimat ini," ucap pria itu seraya menunjuk ke arah objek tersebut.


Tersenyumlah, cintaku!


Membaca tulisan tersebut, spontan membuat Zeline langsung tersenyum. Ia melirik ke arah Ezra, lalu kembali mengulas senyumnya.


"Cintaku? Siapa cintamu itu?" tanya Zeline dengan nada yang sedikit mengejek.


"Siapa lagi jika bukan gadis yang ada di dalam dekapanku saat ini," jawab Ezra seraya mempererat pelukannya.


Zeline tersenyum, ia semakin membenamkan wajahnya ke dalam dekapan Ezra. Merasa sangat berharga karena telah dicintai oleh pria yang baik seperti Ezra.


Setelah memperlihatkan tulisan tersebut, Ezra dan juga Zeline duduk di pasir sembari memandangi matahari yang mulai berwarna cantik, hendak menyembunyikan dirinya.


Menatap matahari tenggelam dengan suasana yang cukup romantis. Kepala Zeline bersandar di bahu Ezra, dan tangan Ezra pun melingkar di pinggang ramping milik Zeline.


Deburan ombak, serta angin sepoi-sepoi menambah suasana romantis di tempat itu. Sesekali mereka saling memandang, setelah itu melemparkan senyum.


Menatap senja di sore hari bersama dengan orang yang dicintai, menutup siang hari yang sebentar lagi akan tergantikan dengan sang rembulan malam.


"Aku ingin waktu berhenti. Biarkan dalam posisi seperti ini, dengan suasana yang juga seperti ini. Kehilangan pria yang ada di sampingku untuk kedua kalinya, sangatlah berat bagiku."


"Aku tak bisa melepaskannya begitu saja, aku ingin bersama dia. Namun, akankah semesta kembali mengabulkan permintaanku yang seiring berjalannya dengan waktu, aku semakin menjadi serakah."


"Ingin sekali aku berbagi masa tuaku nanti bersama dengan pria yang saat ini menjadi sandaranku, akan tetapi mengapa semua yang terjadi pada kami, mustahil untuk terwujudkan. Aku ingin seperti orang lain, yang bisa tertawa bersama orang yang dicintainya, aku ingin hidup bersama pria ini," batin


Zeline sedari tadi berbicara. Binar matanya meredup seiring dengan tenggelamnya matahari. Menyambut keesokan hari terasa sangat berat baginya. Waktu terus saja berjalan begitu cepat. Tak bisa ia hentikan, tak bisa ia meminta untuk tetap di sini.


Mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Meskipun bibir mengulas senyum, akan tetapi hati mereka terasa di sayat oleh sembilu. Keduanya mencoba untuk menyembunyikan kesedihan mereka masing-masing. Tak ingin jika nantinya kesedihan itu merusak suasana romantis mereka kali ini.


Untuk saat ini dan kedepannya, mereka hanya ingin saling berbagi kebahagiaan tanpa adanya air mata. Namun, hal itu sangat mustahil akan terjadi, mengingat mereka akan berpisah dalam kondisi hati yang saling mencinta.


Ezra memberikan kecupan singkat ke kening Zeline. Zeline terpejam, merasakan bibir lembut dan basah itu mendarat di keningnya.


"Kamu adalah bintang, selamanya menjadi bintang di hatiku. Bintang yang selalu bersinar, akan tetapi tidak bisa untuk ku raih ataupun ku gapai," batin Ezra.


"Kamu adalah pria luar biasa yang mencintaiku dengan begitu tulus. Kesungguhan cintamu dapat ku rasakan. Dan itu ... lebih dari cukup untuk menghangatkan diriku, hingga membuatku berpikir untuk ingin menetap di sini. Namun, kita tidak bisa menyangkalnya, bahwa dunia kita telah berbeda. Kamu tahu, aku tak bisa mengukur seberapa dalamnya cintamu padamu, akan tetapi aku merasa hampa saat kamu tak berada di sisiku. Lantas, bagaimana aku nantinya yang harus kembali merelakanmu?" batin Zeline.


Keduanya terdiam, akan tetapi pikiran batin mereka saling bertengkar. Lagi dan lagi mata mereka bertemu pandang. Untuk kali ini, tatapan Ezra terlihat sangat berbeda. Entah mengapa, Zeline melihat kesedihan yang mendalam di telaga bening itu.


"Zeline, ..." Ezra bersuara dengan nada yang berat dan juga bergetar.


"Iya," timpal Zeline singkat. Tatapan matanya terus memandang Ezra yang menatapnya dengan lekat.


"Zeline, ..." lagi dan lagi Ezra memanggil nama Zeline, akan tetapi kali ini suara itu terdengar sedikit pelan.


"Iya, Sayang." Zeline menimpalinya dengan menyebut Ezra sesuatu yang manis, membuat pria itu tersenyum tipis.


Ezra perlahan mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan semakin mendekat. Zeline pun hanya pasrah, gadis itu menutup matanya. Membiarkan Ezra melakukan apapun pada dirinya.


Hembusan napas Ezra menerpa wajah cantik Zeline, terasa hangat dan sedikit menggelitik. Sesuatu yang lembut menempel di bibirnya, basah dan juga kenyal.


Benda itu menempel tepat di bibir Zeline. Awalnya hanya saling bersentuhan, akan tetapi kali ini tampak nakal dan sedikit memagut. Pagutan demi pagutan lembut dilakukan oleh Ezra, hingga akhirnya pria itu melepaskannya setelah keduanya kehabisan napas. Kening mereka saling menempel, sementara napas mereka juga tersengal.


"Aku mencintaimu, Zeline." Awalnya Ezra hanya berucap pelan.


"Aku juga mencintaimu," balas Zeline.


Namun, sesaat kemudian Ezra beranjak dari tempat duduknya. Pria itu pun berseru


"Aku mencintai Zeline!! Aku sangat mencintai wanita ini!!" ujarnya berteriak sekuat tenaga. Seolah menyalurkan kemarahannya, karena takdir yang terlalu kejam terhadap mereka.


Melihat aksi Ezra, membuat mata Zeline berkaca-kaca. Bahu gadis itu naik turun, ia menutup mulutnya tak percaya, melihat Ezra menggenggam pasir dan kemudian melemparkan pasir tersebut ke udara sembari meneriaki dengan ucapan yang sama.


"Aku sangat mencintai Zeline. Aku sangat mencintainya!!" seru Ezra lagi.


Zeline langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia juga berseru, layaknya tengah meratapi sebuah takdir yang menerpa mereka berdua.


"Aku mencintai Ezra! Aku sangat mencintainya!!"


Di belakang Ezra, Zeline juga ikut berteriak. Tanpa sadar, mereka saling memandang dan air mata keduanya telah jatuh bercucuran.


Sesekali mereka tersenyum, lalu kemudian mereka menangis lagi. Tersenyum lagi, dan kembali menangis. Berusaha saling memeluk, dengan upaya saling menguatkan. Namun, apa daya dengan diri yang terlalu rapuh dan tak bisa berbuat apa-apa. Harus bisa menerima apapun kenyataannya nanti, jika mereka akan berpisah.


Bersambung ...