
Zeline, artis terkenal yang sengaja mendekati pemilik SN grup, hanya demi ketenarannya.
Melihat judul dari artikel tersebut, sontak membuat Zeline langsung membelalakkan matanya. Pemilik SN Grup yang dimaksud tersebut tak lain adalah Arman.
Tentu saja pemberitaan itu, membuat yang lainnya sangat panik. Terutama Vera, mengingat bagaimana rumor jahat yang menimpa Dira kemarin membuat Pak Subagyo memutuskan kerja samanya. Dan Vera takut, jika hal yang sama akan terjadi dengan Zeline.
"Bagaimana ini?" tanya Zeline mendongakkan kepalanya menatap Vera.
Raut wajah ketakutan sang manajer pun bisa dilihat oleh Zeline. Tampaknya manajernya juga ketar-ketir menghadapi hal ini. Ia mencoba menelepon Pak Subagyo, akan tetapi panggilannya tak kunjung diterima.
"Pak Subagyo sepertinya untuk saat ini sedang tidak bisa dihubungi," gumam Vera berjalan ke sana dan kemari sembari memegangi keningnya karena merasa frustasi.
Tak lama kemudian, Lita pun datang dengan tergesa-gesa. Raut wajah wanita tersebut tampak sedikit pucat karena juga ikut merasa panik.
"Kak, di depan gerbang sudah banyak sekali wartawan yang datang," ujar Lita.
"Astaga ...." Zeline mengusap wajahnya dengan kasar. Ia turun dari tempat tidurnya, menyingkap sedikit gordennya. Dan benar saja, ada banyak wartawan yang sudah menunggu di depan rumahnya.
"Apa yang harus kita lakukan? Pak Subagyo juga tak bisa dihubungi. Beberapa reporter meneleponku hanya untuk meminta penjelasan darimu," ujar Vera.
"Siapa pula yang menerbitkan artikel jahat itu?" keluh Zeline yang sudah benar-benar pusing dengan hal ini.
Gadis itu tak sedikit pun memiliki niat seperti yang tertulis di dalam artikel tersebut. Apalagi, Zeline tidak bermaksud untuk terus meladeni Arman. Hanya saja, ia masih menghargai Arman dan tidak mungkin menolaknya secara kasar.
"Ini semua salahku. Aku pikir, dengan adanya pemberitaan tentang Arman dan juga kamu, maka akan berdampak semakin baik pada karirmu. Aku tidak pernah memikirkan sesuatu yang buruk akan terjadi," jelas Vera dengan penuh sesal.
"Sudah, tidak apa-apa. Semoga saja kita dapat menyelesaikan semuanya dengan baik. Sekarang, kita pikirkan cara bagaimana mengatasi rumor yang tidak benar itu," ujar Zeline mencoba menenangkan meskipun pikirannya juga sedang kalut.
Baik Vera maupun Lita pun menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang diucapkan oleh Zeline. Ada baiknya permasalahan itu dicari jalan keluarnya. Namun, terkadang rasa panik itu menutup jalan pikiran manusia untuk berpikir jernih.
....
Di lain tempat, Dira tengah mengembangkan senyum iblisnya saat melihat artikel yang tengah marak saat ini. Artikel tentang keburukan Zeline, tentu saja membuat dirinya tertawa puas.
"Lihatlah! Bukankah aku membalasmu dengan cara yang setimpal?" gumam Dira.
Tak lama kemudian, manajernya pun datang menghampiri gadis itu, menjatuhkan bokongnya tepat di samping artis yang kini namanya sempat tercemar.
"Bagaimana? Apakah kamu sudah membayar anak itu?" tanya Dira pada sang manajer.
"Iya. Dia menagihku berulang kali, tentu saja hal itu membuatku sedikit kesal," balas sang manajer.
"Tidak apa-apa. Yang penting berita itu sudah muncul ke permukaan. Dengan hadirnya berita tentang Zeline, tentu saja akan mengubur rumor buruk tentangku. Dan hal itu, sangat menguntungkan ku," ucap Dira sembari menyunggingkan senyum liciknya.
.....
Berita tentang Zeline sampai ke telinga Arman. Tentu saja pria tersebut tak tinggal diam. Apalagi ini menyangkut nama baik wanita yang ia kagumi.
Arman langsung membuat pernyataan, akan mengadakan konferensi pers untuk klarifikasi masalah yang saat ini tengah beredar. Ia tak ingin, Zeline dipandang salah oleh banyak orang.
Mendapatkan kabar tentang konferensi pers tersebut, tentu saja membuat para wartawan berkumpul di aula gedung pertemuan. Mereka berlomba-lomba mendapatkan kabar terbaru mengenai tentang artikel tersebut.
Arman dengan gagah, berjalan menuju ke atas panggung. Pria tersebut menjatuhkan bokongnya di kursi, ia membenarkan mikrofon agar tepat mengarah ke mulutnya.
"Di sini saya ingin mengklarifikasi tentang artikel yang beredar, yang mengatakan bahwa Zeline mengambil banyak keuntungan karena mendekati saya."
"Saya tegaskan, bahwa semua itu adalah berita yang tidak benar. Zeline tak pernah mencoba untuk mendekati saya. Justru malah sebaliknya, saya lah yang selalu mendekati Zeline," papar Arman.
Para wartawan pun langsung mengetikkan pernyataan Arman. Jari-jari mereka menari di atas keyboard dengan sangat lincah mencatat setiap kata yang keluar dari mulut Arman tanpa tertinggal sedikit pun.
"Bagaimana bapak bisa menyimpulkan bahwa Zeline tidak mengambil keuntungan dari bapak?" tanya salah satu wartawan.
Arman tersenyum miring, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh salah satu wartawan tersebut. Ia mengeluarkan ponselnya. Tanpa ragu memperlihatkan pesan yang pernah ia kirimkan pada Zeline. Beberapa pesan yang dibalas oleh wanita itu, dan beberapa pesan pula yang terlewatkan.
"Ini adalah bukti bahwa saya yang mengejarnya. Terlihat bagaimana dia membalas pesanku seadanya." Jemari Arman menggulir layar ponsel tersebut hingga ke bawah.
"Dan mulai sekarang, saya tegaskan kepada semua orang yang ada di luaran sana, untuk tidak menghujat Zeline. Dia gadis yang baik dan dia tidak bersalah. Hanya saja, karena saya yang mengejarnya, membuat semua orang beropini yang tidak-tidak. Maka dari itu saya meminta maaf sebesar-besarnya."
"Saya rasa, untuk klarifikasi kali ini sudah cukup. Sekian dan terima kasih."
Arman segera beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi dari tempat tersebut. Kilatan kamera pun menembak ke arahnya, seiring kepergian pria itu dari ruangan pertemuan.
Di lain tempat Zeline, Vera, dan juga Lita tengah menonton siaran yang sedang menampilkan berita tentang klasifikasi yang dibuat oleh Arman. Dan Vera pun memuji keberanian Arman.
"Ternyata Pak Arman adalah pria yang sangat gentleman. Lihatlah bagaimana cara dia menjelaskan semuanya dengan begitu bijak. Membelamu mati-matian agar semua orang tidak berspekulasi negatif lagi tentang kamu, Zeline." Vera merangkul tangan Zeline, seakan tersipu dengan perbuatan yang ditunjukkan oleh Arman.
Lita melihat hal tersebut agak sedikit kebingungan. Pasalnya, di sini yang dibela adalah Zeline, akan tetapi yang tersipu justru sang manajer. Sementara Zeline, hanya memperlihatkan ekspresi yang biasa-biasa saja.
Tak lama kemudian, ponsel Vera pun berbunyi. Gadis itu dengan malas meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja. Ia mengira bahwa yang meneleponnya saat itu tak lain adalah wartawan. Namun, saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya, membuat bola matanya membulat sempurna. Ia pun sedikit berdeham, mengetes suaranya sebelum mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Pak Subagyo." Vera tersenyum sembari menaik turunkan alisnya menatap Zeline. Kekuatan klarifikasi dari Arman, benar-benar manjur. Bahkan, yang awalnya Pak Subagyo enggan mengangkat teleponnya pun, malah justru berbalik menelepon dirinya.
"Bagaimana kondisi Zeline?" tanya Pak Subagyo dari seberang telepon.
"Zeline cukup terpukul dengan pemberitaan yang tidak benar itu, Pak. Saat ini, Zeline masih terbaring di tempat tidur dan suhu badannya agak tinggi," ujar Vera berbohong, demi mendapatkan simpati dari pak sutradara.
Mendengar hal itu, Zeline pun langsung memberikan tatapan yang tajam pada manajernya itu. Dirinya yang saat ini sehat dan dalam keadaan baik, justru dikatakan sedang sakit.
Namun, Vera tak menghiraukan tatapan Zeline yang mematikan itu. Ia justru sedikit menjauh, agar lebih leluasa berbicara pada Pak Subagyo.
"Kalau begitu, katakan pada Zeline untuk beristirahat terlebih dahulu. Syuting akan diliburkan hingga besok, bukan hanya Zeline saja, yang lainnya juga," ucap Pak Subagyo.
"Baiklah, Pak."
Tak lama kemudian, sambungan telepon pun terputus. Vera langsung kembali ke tempat duduknya yang semula.
"Pak Subagyo meliburkan syuting hingga besok," ujar Vera.
"Kenapa kamu beralasan dengan mengatakan bahwa aku sedang sakit?" gerutu Zeline.
"Maafkan aku. Aku hanya ingin mendapatkan simpati dari Pak Subagyo. Yang penting, hari ini kamu bisa beristirahat dengan tenang," ucap Vera.
Gadis tersebut beranjak dari tempat duduknya, menyingkap gorden untuk melihat situasi terkini di depan rumah Zeline. Dan ternyata, para wartawan yang sedari tadi menunggu di depan gerbang, kini telah pergi.
"Para wartawan telah pergi. Itu pertanda bahwa situasi dan kondisi saat ini sudah aman terkendali," ujar Vera.
...****************...
Malam ini, Zeline menatap kartu ucapan yang ia simpan, yang merupakan tulisan tangan dari penggemar misteriusnya. Entah mengapa, hingga saat ini, ia seakan merindukan tulisan serta buket mawar darinya. Bahkan, mawar yang terakhir kali ia letakkan di vas, kini sudah berguguran karena terlalu lama, tak tergantikan.
"Di mana kamu? Aku merindukan mawar darimu, aku merindukan kata-kata manis yang kamu rangkai untukku," gumam Zeline dengan raut wajah yang murung.
Sesaat kemudian, ia pun menemukan sebuah ide. Entah mengapa, tak terpikirkan olehnya untuk mencari tahu kebenarannya. Ia melihat nama toko bunga yang ada di kartu ucapan tersebut. Zeline pun bersiap untuk pergi dan menuju ke toko bunga itu.
Dengan memakai hoodie berwarna hitam, dipadukan dengan celana jogger berwarna milo. Tak lupa gadis itu mengenakan masker serta kaca mata agar tak mudah dikenali oleh orang lain saat dirinya berada di luar nanti.
Zeline keluar menggunakan mobil fortunernya, melaju dengan kecepatan sedang menuju ke toko bunga yang bernama Rosette Roundel Florist.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya ia pun tiba di tempat tujuan. Dan kebetulan sekali, toko bunga itu masih buka hingga malam.
Zeline masuk ke dalam toko tersebut. Dari belakang, ia melihat punggung pria yang tengah merapikan susunan bunga yang ada di sana. Zeline pun memberanikan diri untuk menyapa pria itu, menanyakan sesuatu yang sudah mengusik benaknya hingga waktu yang lama.
"Permisi, Mas. Saya ingin bertanya," ujar Zeline.
"Iya ...." Pria itu membalikkan badannya dan menatap ke arah Zeline. Betapa terkejutnya Zeline saat melihat siapa pria yang ada di sana. Begitu pula dengan pria itu, yang juga ikut terkejut dengan keberadaan Zeline di tempat tersebut.
"Kamu ...."
Bersambung ....