40 Days With You

40 Days With You
Bab 75. Day 22



"Peran Zeline diganti? Ini tidak bisa! Lagi pula bukankah Zeline terbaring di sini hanya karena syuting acara tersebut? Ini sangat tidak adil bagi Zeline jika dia harus digantikan seperti itu. Saya tidak terima!!" tukas Vera.


Pasalnya, pagi ini ia mendapatkan kabar bahwa syuting akan dimulai kembali dan peran Zeline digantikan oleh artis lain. Hal itu tentu saja membuat Vera marah besar dan langsung mendatangi kantor Pak Subagyo selaku sutradara.


Vera sedari tadi mondar-mandir menunggu Pak Subagyo di depan ruangannya. Saat ini beliau tengah kedatangan tamu, yang membuat Vera harus mengantri terlebih dahulu jika hendak bertemu dengan sang sutradara secara langsung.


Sesaat kemudian, orang yang ada di dalam ruangan itu pun keluar. Vera tak habis pikir, ternyata tamu Pak Subagyo tak lain adalah Dira bersama dengan asistennya.


"Jangan-jangan ...." Vera berucap dalam hati seraya melihat dua wanita yang menatapnya dengan tatapan remeh.


Dengan cepat, Vera pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut menemui Pak Subagyo secara langsung.


"Silakan duduk!" Pak Subagyo mempersilakan Vera untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Vera menjatuhkan bokongnya di atas benda empuk tersebut.


"Ada apa?" tanya Pak Subagyo.


"Saya ke sini mengajukan protes karena pergantian pemain di dalam film yang akan dibintangi oleh Zeline," jawab Vera.


Pak Subagyo terdiam sembari mengelus dagunya, sementara bibirnya terlihat mencebik, seolah tak menanggapi protes yang dilakukan oleh Vera.


Melihat ekspresi Pak Subagyo yang demikian, Vera rasanya ingin sekali menghajar pria berkepala plontos itu, akan tetapi jika ia lakukan hal itu, bisa jadi permasalahan ini akan semakin runyam dan Vera dituntut oleh pria tua yang ada di hadapannya.


"Maaf, tapi syuting akan tetap berjalan."


Respon dari Pak Subagyo tentu saja langsung memancing kemarahan Vera. Gadis itu marah besar dengan mata yang membulat sempurna.


"Tidak bisa begitu, Pak! Zeline kami harus terbaring antara hidup dan mati karena bekerja dengan bapak. Bahkan Zeline sampai saat ini belum membuka matanya akibat melakukan adegan berbahaya yang anda suruh. Lantas, bagaimana pertanggungjawaban anda terhadap Zeline?" tanya Vera yang benar-benar merasa geram dengan Pak Subagyo.


"Untuk masalah Zeline, tentunya tidak lepas dari tanggungjawab kami. Tetapi syuting haruslah tetap berjalan, jika tidak maka perusahaan tentunya akan rugi besar," jelas Pak Subagyo.


"Rugi besar? Anda takut rugi besar, sementara Zeline masih terbaring koma seperti itu, Pak! Di mana hati nurani Oak Subagyo?" sindir Vera seraya berdecak kesal.


"Apakah peran Zeline akan digantikan dengan Dira?" tanya Vera.


Pak Subagyo hanya diam, dan Vera pun bisa menebak bahwa hal itu memang benar adanya.


"Bagus, Pak. Bapak memilih mengganti peran karena takut rugi, akibat Zeline yang masih terbaring koma. Sementara peran pengganti itu adalah Dira, wanita yang pernah tersandung kasus kemarin," geram Vera.


"Itu skandal lama, lagi pula kasusnya sudah tenggelam karena skandal-skandal artis yang lain," balas Pak Subagyo.


"Baik, kita lihat saja bagaimana nantinya. Semoga saja film yang digarap oleh Pak Subagyo kali ini tidak mengecewakan karena memakai artis yang sudah memiliki nama yang buruk serta tidak terlalu handal dalam berakting," tukas Vera.


Pak Subagyo hanya terdiam. Kali ini ia tak menimpali ucapan Vera sama sekali.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Vera langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia mengambil tasnya dan kemudian melangkahkan kakinya pergi dari ruangan tersebut.


Pak Subagyo hanya menatap punggung Vera yang semakin menjauh. Pria itu melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya, lalu kemudian memijat keningnya yang merasa pusing dengan situasi ini.


Selama di perjalanan, Vera terus saja mengumpat. Bagaimana tidak? Demi konsisten dengan pekerjaannya, Zeline harus melakukan adegan berbahaya yang pada akhirnya membuat gadis itu saat ini terbaring koma.


"Dengan mudahnya si tua bangka itu berucap seperti tadi. Apa katanya? Rugi? Cihh!!"


"Kalau tahu seperti ini jadinya, sedari awal aku tidak akan memaksa Zeline untuk mengambil tawaran kerja sama dengannya ."


Atensi Vera teralihkan pada suara ponselnya yang berbunyi. Vera menepikan mobilnya sejenak untuk mengangkat panggilan tersebut. Ia menatap layar canggih itu, melihat nama Pak Arman yang tertera di sana.


"Iya, Pak Arman."


"Saya dengar dari Lita kamu menemui Pak Subagyo?" tanya Arman dari seberang telepon.


"Iya, Pak. Saya menanyakan tentang perihal peran Zeline digantikan dengan artis lain," jelas Vera.


"Lantas apa kata beliau?" tanya Arman lagi.


"Ya ... untuk pemeran tetap akan digantikan karena mereka tidak mau pihak perusahaan rugi karena filmnya tertunda. Namun, mereka tidak akan lepas tanggung jawab atas kejadian Zeline," tutur Vera.


"Oh. Ya sudah, biarkan saja. Untuk masalah itu nanti akan saya urus. Tidak masalah meskipun Zeline lepas dari sana. Saya yang akan menarik Zeline kembali dan menandatangani kontrak baru dengannya," ujar Arman.


Mendengar hal tersebut, rasa kesal Vera pun sedikit berkurang. Ia bersyukur, kehilangan satu peluang muncul peluang lainnya. Memang kalau rejeki tidak akan kemana.


"Terima kasih banyak, Pak Arman."


"Sudah, kamu kembali lah ke rumah sakit dan jaga Zeline dengan baik. hari ini saya tidak bisa menjaga Zeline karena harus ke kantor," ucap Arman.


"Untuk masalah yang satu itu, Pak Arman tidak usah khawatir, saya akan menjaganya dengan baik."


Setelah Vera mengucapkan kalimat tersebut, Arman pun langsung memutuskan panggilannya. Vera tersenyum, karena bagaimana pun juga, Vera merasa bersyukur karena Zeline mendapatkan pria baik yang memberikan cinta dengan sepenuh hati.


"Ku harap kamu lekaslah bangun, Zeline. Agar kami tahu, betapa besar pengorbanan Pak Arman untukmu," gumam Vera.


Gadis itu kembali menghidupkan mesin mobilnya. Lalu kemudian melajukan kendaraan tersebut menuju ke jalanan.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Vera pun riba di rumah sakit. Gadis tersebut langsung masuk ke dalam rumah sakit dan berjalan menuju ke kamar Zeline.


Sesampainya di sana, ia melihat Zeline yang masih setia memejamkan matanya. Di ruangan tersebut juga ada Lita yang menjaga Zeline, menggantikan Vera untuk sementara waktu.


"Kamu boleh pulang, biarkan aku yang menjaganya," ujar Vera.


"Maafkan saya, Kak. Apakah boleh saya di sini sedikit lebih lama lagi? Bukan maksud saya ingin membantah perintah kakak. Hanya saja, saya merasa rindu saya belum lepas pada kak Zeline," ucap Lita.


Mendengar hal itu, membuat Vera juga merasa ikut sedih. Bagaimana tidak? Ini adalah hari ke 22 Zeline terbaring di atas brankar dengan berbagai alat medis yang menopang hidupnya.


"Kita doakan saja, semoga Zeline bisa kembali berkumpul di tengah-tengah kita," ujar Vera.


"Iya, Kak." Lita menganggukkan kepalanya, paham akan ucapan Vera.


"Kalau begitu, kamu tinggal lah di sini lebih lama lagi. Aku akan ke kamar mandi sebentar," ucap Vera berpamitan dengan Lita.


Lita kembali mengangguk, Vera pun segera berjalan menuju ke kamar mandi. Gadis itu menitikkan air matanya. Setelah Zeline terbaring koma, Vera merasa bahwa dirinya sangat kosong. Selama ini, Zeline lah yang menjadi penyemangatnya.


"Zel, aku harap kamu lekas bangun. Tolong lihat kami yang selalu bersedih tanpamu. Kami benar-benar merasa sepi jika tidak ada kamu," gumam Vera sembari menyeka air mata yang sempat membasahi pipinya.


Bersambung....