40 Days With You

40 Days With You
Bab 14. Bimbang



Gery melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menyusuri koridor rumah sakit. Ia bertanya pada suster, tempat ruangan yang sebelumnya diberitahukan oleh si penelepon tadi.


Setelah mendapatkan arahan dari suster, Gery pun kembali berlari dan tiba di ruangan yang ia tuju. Pria itu terhenti tepat di depan pintu, dengan napas yang tersengal menatap wanita paruh baya serta pasien yang tengah mendapatkan perawatan khusus oleh pihak medis.


Dengan langkah gontai, Gery berjalan masuk. Sementara wanita paruh baya itu, terlihat berlinang air mata, menatap Gery yang dalam kondisi baju lembab serta rambut basah masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Bu, ...." tungkai kaki terasa lemas, Gery berpegang pada sisi brankar untuk penopang berdirinya. Ia melihat sosok pria yang sedang memejamkan mata, bibir yang pucat, di hidungnya terdapat selang oksigen yang membantunya untuk bernapas.


"Maafkan ibu, Nak. Ibu lalai menjaganya. Tadi ... saat ibu baru saja selesai menutup toko, ibu menemukannya tergeletak di kamar dengan darah yang keluar dari mulutnya," ucap wanita paruh baya tersebut sambil terisak.


"Lantas ... apa kata dokter, Bu? Dokter bisa menyembuhkannya kan? Dia bisa diselamatkan?" tanya Gery dengan nada yang sedikit bergetar. Ia berharap wanita yang ada di hadapannya itu menganggukkan kepalanya, akan tetapi ia menjawab dengan sebaliknya. Gelengan kepala lah yang di dapatkan oleh Gery sebagai jawabannya.


Gery meremas sprei tersebut, kenyataan itu benar-benar menyesakkan baginya. Sosok pria yang menjadi panutannya. Pria yang selalu merangkulnya di kala kesusahan, kini terbaring lemah di atas brankar.


"Aku yakin. Ia bisa disembuhkan. Tidak ada penyakit yang tidak memiliki obatnya. Biar aku berbicara langsung pada dokter," ujar Gery yang langsung melangkahkan kakinya pergi dari ruangan tersebut.


Meskipun sudah ditahan oleh ibunya, akan tetapi Gery tetap kekeuh dengan pendiriannya, untuk menemui dokter yang bertanggung jawab atas pria yang tak lain adalah kakaknya.


Gery menuju ke ruangan dokter. Mendapati dokter tersebut baru saja hendak bersiap untuk berkeliling mengecek kondisi pasien yang ia tangani.


"Dok, tolong sembuhkan kakak saya, Dok. Saya tahu, dokter pasti bisa menyembuhkannya bukan? Jika memang hal itu karena biaya, aku siap menanggung biayanya berapapun jumlahnya. Bahkan aku rela menjual ginjalku hanya untuknya."


"Tolong Dok! Tolong selamatkan kakak saya," ujar Gery menangkup kedua tangannya ke depan, meminta agar dokter tersebut bisa menyembuhkan kakaknya.


"Maafkan kami, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Akan tetapi, untuk saat ini kondisi penyakit pasien memang semakin parah. Kankernya mulai menyebar ke otak. Untuk melakukan operasi pun akan memiliki dampak nantinya. Dan kami tidak bisa memastikan jika kanker tersebut benar-benar hilang," tutur dokter menjelaskan kondisi pasien yang sebenarnya.


Gery mengepalkan tangannya. Ia benar-benar kesal mendengar kenyataan bahwa kakaknya tidak bisa terselamatkan.


Pria itu pergi dari sana dan kembali ke ruangan di mana tempat ibu dan kakaknya berada. Sesampainya di sana, ia melihat sang kakak telah sadar. Dengan cepat Gery pun menghampirinya.


"Bang," ujar Gery dengan bibir yang bergetar, menahan air mata yang hendak tertumpah.


Pria yang terbaring di atas brankar itu berdecak melihat ekspresi Gery saat ini. "Dasar pria cengeng!" cecar nya.


"Bang, ayo kita pindah rumah sakit. Ayo kita mencari tempat berobat yang jauh lebih baik. Untuk biaya, tidak usah dipermasalahkan karena aku memiliki banyak uang. Yang paling utama adalah kesembuhan Abang," ujar Gery.


"Ger, aku membencinya. Aku membenci ekspresi wajahmu yang sekarang ini. Sebaiknya kamu tenang, dan duduklah," ujar pria tersebut sembari mengulas senyumnya.


Gery menghela napasnya, melihat kelakuan pria yang ia panggil dengan sebutan 'abang' itu. "Bisa-bisanya kamu menyuruhku tenang di saat kondisimu memburuk seperti ini," gerutu Gery seraya menjatuhkan bokongnya ke kursi.


"Jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Aku baik-baik saja," ucapnya menarik kedua sudut bibirnya yang pucat, membentuk sebuah senyuman manis.


....


Zeline tak bisa memejamkan matanya. Ia masih teringat akan pesan singkat yang dikirimkan oleh Arman. Zeline melemparkan pandangannya ke samping, mendapati Vera yang tampak berisik dengan dengkuran halusnya.


"Kamu mendengkur?" gumam Zeline dengan wajah terkejutnya. Isi pikiran Zeline yang sedikit berisik, ditambah dengkuran sang manajer yang ada di sebelahnya, membuat gadis itu tidak bisa tidur.


Zeline memilih beranjak dari tempat tidurnya. Ia pun berjalan menuju ke dapur, mengambil segelas air minum. Gadis itu membuka lemari pendingin, lalu kemudian menuangkan air minum pada gelas yang kosong.


"Haruskah aku berkencan dengannya?" gumam Zeline.


Setelah selesai menenggak air minum, Zeline kembali ke kamarnya. Ia melihat Vera yang sudah bangun dari tidurnya.


"Sudah bangun? Tidurlah lagi hari masih malam," ucapnya kembali membaringkan tubuhnya di samping Vera.


"Kamu kenapa tidak tidur? Besok jadwal syuting sudah dimulai. Dan tentunya waktu istirahatmu akan sedikit tersita," ujar Vera.


"Aku tidak bisa tidur," balas Zeline.


"Kenapa?" tanya Vera yang bergeser menghadap Zeline.


"Pak Arman ... dia mengajakku berkencan," ucap gadis tersebut.


Tentu saja Vera langsung tertawa senang mendengar kabar itu. Bagaimana pun juga, Vera sangat setuju jika Pak Arman dekat dengan Zeline.


"Ya sudah, kamu terima saja. Lagi pula Pak Arman adalah pria mawar itu kan? Tunggu apa lagi. Tidak ada salahnya jika muncul gosip bahwa kamu dan Pak Arman berkencan. Justru hal tersebut membuat kamu tambah terkenal. Pak Arman kan termasuk daftar orang paling terkaya se Indonesia," ujar Vera yang sangat bersemangat mendengar kabar tersebut.


"Entahlah! Aku tidak tahu dengan apa yang ku rasakan saat ini. Terkadang, aku berpikir bahwa mustahil jika mawar itu pemberian dari Pak Arman." Zeline menunduk dengan keraguan yang terpatri di wajahnya.


"Ck! Kamu masih saja meragukannya. Bukankah sudah jelas jika dia yang mengirimkan bunga itu. Lagi pula kamu tidak usah merasa minder. Bagaimana pun juga, kamu adalah artis terkenal. Jadi, wajar saja jika kamu bersama dengan Pak Arman," jelas Vera.


"Sudahlah. Pikirkan itu nanti saja. Aku sudah mengantuk dan ingin tidur. Besok harus mulai persiapan syuting," ujar Zeline menarik selimutnya.


"Baiklah, tapi awas saja jika kamu menolaknya. Tidak ada salahnya menerima tawaran kencan itu. Lagi pula kalian tidak akan langsung terikat dalam pernikahan kan? Jika memang langsung terikat, maka akan lebih baik lagi," ucap Vera sembari terkekeh geli.


"Mengapa tidak kamu saja yang berkencan dengan Pak Arman," celetuk Zeline setelah mendengarkan ucapan manajernya itu.


"Aku mau mau saja. Tetapi sayangnya Pak Arman tidak tertarik padaku. Siapa tahu setelah ia berkencan denganmu, maka dia akan memiliki ketertarikan padaku," balas Vera.


"Ckckck ... ada-ada saja," tukas Zeline.


Bersambung ....