
"Apakah kamu masih mengenalku?" tanyanya.
Zeline pun mengernyitkan dahinya, menatap wanita tersebut dengan seksama. Ia tampak mengingat-ingat, wajah wanita yang ada di hadapannya ini terasa tak asing baginya.
"Sayang sekali, sepertinya aku sudah benar-benar terlupakan," ujarnya sembari membuang napas dengan cukup kasar.
Vera menatap keduanya dengan seksama. Ia takut, jika koki tersebut akan menyakiti artisnya dengan melemparkan hujatan, mengingat Zeline yang pernah bercerita padanya bahwa gadis tersebut pernah menjadi korban bully di masa lalu.
"Ah iya ... Erika!" seru Zeline dengan mata yang berbinar.
Wanita tersebut tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Mengetahui jika gadis sebangku semasa putih abu-abu telah menjadi artis papan atas yang masih mengingatnya, membuat wanita berseragam koki itu pun merasa senang.
"Ya ampun ... Apa kabar? Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Lihatlah! Kamu sangat cantik sekarang," puji Zeline yang langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia mendekat ke arah Erika, hendak memeluk wanita tersebut. Namun, wanita itu menyilangkan tangannya di depan.
"Aku bau asap," ujarnya menyilangkan tangan.
Namun, Zeline tak menggubris hal tersebut. Ia tetap memeluk Erika, meluapkan rasa rindunya pada sosok yang pernah menjadi teman ceritanya terdahulu.
"Aku tidak peduli dengan aroma yang menempel di tubuhmu. Aku hanya ingin memelukmu saat ini karena aku benar-benar rindu," tutur Zeline.
Erika tersenyum, ia membalas pelukan dari wanita tersebut. Aroma parfum Zeline sangat manis, lembut dan menenangkan saat tercium oleh indera penciumannya. Ia bisa menebak, parfum tersebut tentu saja memiliki harga yang cukup fantastis.
Zeline melonggarkan pelukannya. Ia pun menatap ke arah Vera yang sedari tadi menikmati hidangannya sembari menatap keduanya secara bergantian.
"Ini teman sebangku ku semasa SMA dulu, namanya Erika," ujar Zeline memperkenalkan Erika pada Vera.
"Dan ini managerku, namanya Vera." Pandangan Zeline beralih ke Erika.
Erika mengulurkan tangannya, langsung disambut oleh Vera hingga kedua orang itu saling berjabat tangan.
"Erika ...."
"Vera ...."
Setelah saling memperkenalkan diri, mereka pun kembali menarik tangan masing-masing. Erika menatap Zeline, mempersilakan kepada Zeline dan Vera untuk kembali menikmati hidangannya.
"Silakan kalian nikmati hidangannya. Kalau begitu, aku permisi dulu," ucap Erika yang sudah ingin pamit undur diri.
Baru saja ia hendak melangkah pergi, tiba-tiba Zeline langsung mencekal tangan Erika. "Tunggu!!" sergah Zeline yang membuat Erika kembali menolehkan kepalanya menatap ke arah gadis cantik itu.
"Ada apa?" tanya Erika.
Zeline mengambil sling bag yang ia letakkan di salah satu kursi, mengeluarkan ponselnya dari dalam sana. "Aku minta kontak mu," ucap Zeline.
Sontak Erika terkejut, bagaimana tidak? Merupakan suatu kebanggaan baginya saat salah satu artis papan atas meminta nomor ponselnya secara langsung.
"Aku benar-benar speechless!" ujar Erika menutup mulutnya tak percaya.
"Kenapa?" tanya Zeline mengernyitkan keningnya.
"Harusnya aku yang meminta kontak seorang artis papan atas. Akan tetapi, ini justru sebaliknya. Aku lah yang dimintai olehmu," tutur Erika.
"Ah, kamu ini terlalu mendramatisir! Aku tetaplah sahabatmu yang dulu, Zeline yang kamu kenal. Mana nomor ponselmu?" Zeline kembali menagih nomor ponsel Erika. Wanita itu pun menyebutkan angkanya satu persatu, dan Zeline langsung menyimpan kontak wanita tersebut di ponselnya.
"Terima kasih. Nanti saat senggang, aku akan menghubungimu. Mau kan kamu menemaniku berbincang seperti dulu?" tanya Zeline.
"Tentu saja, dengan senang hati. Kalau begitu, silakan dinikmati hidangannya, nanti keburu dingin. Kalau begitu, aku permisi buat lanjut bekerja dulu," ucap Erika yang kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
Sepeninggal Erika, Zeline kembali menjatuhkan bokongnya di kursi. Pandangan gadis itu mengarah ke Vera. Terlihat sang manajer tengah melemparkan tatapan tajam padanya.
"Ada apa?" tanya Zeline.
"Memangnya apa salahku?" tanya Zeline sembari memotong daging yang ada di piringnya. Lalu kemudian memasukkan sepotong daging tersebut ke dalam mulutnya.
"Zeline, bisakah kamu untuk tidak menyebarkan nomor ponselmu ke sembarang orang?"
"Dia bukanlah orang lain, Vera. Dia adalah temanku." Zeline membantah ucapan Vera. Ia tidak ingin sang manajer terlalu mengekang dirinya hingga tak bisa lagi berteman pada siapapun.
"Tetap saja. Bukankah kamu pernah memiliki masa lalu yang kelam? Korban pembulyan? Aku takut jika hal itu kembali terulang. Nanti akan ada saja berita baru yang bisa membuat karirmu hancur seketika, dan aku ...."
"Stop!!" Zeline meletakkan garpu dan pisau kecilnya di atas meja. Ia kehilangan selera makan karena mendengar ocehan dari Vera.
"Aku tahu kamu mengkhawatirkan aku. Aku juga tahu kamu tidak ingin karir ku hancur. Aku tahu itu, Vera! Akan tetapi, tidak dibenarkan jika kamu terlalu mengekang semuanya tentangku." Dada Zeline naik turun. Entah kenapa, beberapa hari ini, ia terlalu mudah emosi. Mungkin karena dirinya terlalu lelah dengan aktivitas yang ia jalani, atau mungkin karena kendala mencari sosok pria yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Maaf ... Maaf jika ucapanku menyinggung perasaanmu. Aku hanya tidak ingin, kamu menjadi bahan cibiran orang lain. Bagiku, kamu adalah adikku. Maka dari itu, aku bersikap seperti ini padamu. Maaf jika memang sikapku salah." Vera tertunduk, ia memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya lagi. Meskipun dalam posisi adu mulut, gadis itu tetap saja menyempatkan dirinya untuk mengisi perut.
Rasa bersalah mulai menghinggapi diri Zeline, tatkala ia mendengar penuturan dari wanita yang selama ini selalu mengatur jadwal untuknya. Dalam benak Zeline pun bertanya-tanya.
"Apakah aku terlalu kasar menegurnya?"
"Aku juga minta maaf karena telah berkata demikian padamu," ucap Zeline penuh penyesalan.
Vera hanya mengembangkan senyumnya. Senyum yang sedikit getir, dan Zeline dapat menangkap guratan kesedihan di wajah Vera. Zeline sungguh menyesali ucapannya.
"Makanlah! Setelah ini kita akan langsung pulang. Sepertinya kamu sangat lelah dan butuh beristirahat," ujar Vera.
Zeline menganggukkan kepala. Ia pun kembali meraih alat makan yang beberapa menit yang lalu diletakkan di atas meja. Setelah adu mulut tadi, mereka menyantap makanan dengan tenang tanpa mengeluarkan suara sepatah kata pun.
....
Zeline dan Vera berjalan keluar dari restoran tersebut. Keduanya kembali masuk ke dalam mobil. Dilihatnya Gery yang tengah menghisap sebatang rokok sembari menunggu kedua wanita itu keluar dari restoran.
"Kamu masuklah lebih dulu, aku ingin ke toilet sebentar," ucap Vera.
Zeline mengangguk patuh. Ia pun langsung masuk ke dalam mobil. Mata Zeline menangkap sosok Gery yang baru saja membuang puntung rokoknya, menginjak benda bernikotin tersebut untuk mematikan apinya.
Pria itu masuk ke dalam mobil. Ia melihat Zeline melalui kaca spion. Gadis itu sibuk dengan ponselnya dan sesekali tersenyum.
"Aku baru tahu jika kamu adalah seorang perokok," ucap Zeline yang tak mengalihkan pandangannya pada layar pipih tersebut.
"Aku bukanlah perokok aktif. Merokok hanya membuang rasa suntuk ataupun saat aku tengah menghadapi suatu masalah," ujar Gery mengusap dagunya, terlihat pria itu sedikit gusar.
"Menghadapi suatu masalah? Apa itu? Apakah kamu baru saja dicampakkan oleh kekasihmu?" tanya Zeline sembari terkekeh geli.
"Bukan itu."
"Lalu apa?" tanya Zeline lagi, yang seolah merasa penasaran dengan masalah Gery. Akan tetapi gadis itu tetap terfokus pada layar ponselnya.
"Aku merasa kecewa dengan seorang gadis," ungkapnya.
"Gadis? Siapa?" tanya Zeline.
Gery kembali menatap Zeline dengan lekat melalui spion tengah. "Kamu."
Sontak Zeline pun terkejut dengan ucapan yang baru saja Gery lontarkan. Kini mereka bertemu pandang dan saling menatap melalui kaca spion tersebut.
"Aku kecewa karena kamu."
Bersambung .....