40 Days With You

40 Days With You
Bab 27. Aku Menggantikanmu



Zeline perlahan membuka matanya. Ia mengedarkan pandangannya, dan menemukan bahwa dirinya tertidur di dalam kamar Ezra. Gadis itu mengusap mata, dilihatnya sebuah potret yang berada di dalam pelukannya yang merupakan potret Ezra yang memperlihatkan senyum dengan lesung pipinya, benar-benar sangat manis.



Ceklekkk ...


Terdengar suara pintu yang baru saja dibuka. Bu Lasmi datang melihat Zeline sembari mengembangkan senyumnya.


"Sudah bangun, Nak?" tanya Bu Lasmi dengan ramah.


"Iya, Bu. Maaf, saya ketiduran di sini. Jadi merepotkan ibu," ucap Zeline sembari merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan dengan jarinya.


"Tidak apa-apa. Ibu justru senang karena kamu mau menginap di sini. Jadi, ibu seperti memiliki seorang anak perempuan," tutur Bu Lasmi.


"Kalau begitu, ayo kita sarapan terlebih dahulu, Nak. Gery sudah memasakkan sesuatu untuk kita," lanjut Bu Lasmi.


"Baik, Bu."


Zeline beranjak dari tempat tidurnya. Ia pun permisi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci wajahnya. Lalu kemudian berjalan menuju meja makan.


Aroma masakan pun tercium begitu lezat. Dilihatnya Gery yang masih mengenakan apron, membawa panci sup dan menaruhnya di atas meja.


"Silakan dinikmati, Nak. Inilah makanan kami hanya ala kadarnya saja," ujar Bu Lasmi.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya sangat senang memakan makanan rumahan yang seperti ini. Semuanya mengingatkan aku pada masakan ibuku dulu," ucap Zeline.


"Loh, memangnya ibu Zeline dimana?" tanya Bu Lasmi.


"Kedua orang tuaku sudah tiada Bu," ujar Zeline seraya tersenyum getir.


"Maafkan ibu karena telah menanyakan hal itu padamu, membuat kamu kembali merasa sedih," ucap Bu Lasmi.


"Tidak apa-apa, Bu."


"Makanlah! Nanti sup nya dingin." Gery membuka suara. Berucap dengan nada yang sedikit dingin.


Zeline mulai mencicipi sup buatan Gery. Dan sesaat kemudian, ia membulatkan matanya, mendapati bahwa rasa sup tersebut sangatlah nikmat.


"Aku tidak pernah tahu jika kamu sangat pandai memasak," puji Zeline. Namun, Gery tetap memperlihatkan wajah dinginnya. Seolah dia masih marah pada Zeline tentang abangnya yang terlalu lambat diketahui oleh gadis tersebut.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Zeline pun berpamitan untuk pulang. Namun, Bu Lasmi melarang Zeline membawa mobil sendirian, dan menyuruh Gery untuk mengantar Zeline. Ia tidak ingin jika nanti terjadi apa-apa pada Zeline, mengingat gadis itu masih merasa terpukul karena mengetahui Ezra yang telah tiada.


Zeline melihat Gery yang sudah bersiap di depan mobil miliknya. Pria itu menatap Zeline dengan dingin, dan menadahkan tangannya.


"Berikan kunci mobilmu padaku," ucapnya.



Zeline tersenyum, menyerahkan kunci mobil itu pada Gery. Pria itu pun langsung masuk ke dalam mobil tersebut.


Zeline berpamitan dengan Bu Lasmi. Namun, matanya menangkap mawar merah yang segar, mawar yang sering kali diberikan oleh Ezra padanya dulu.


"Bu, saya beli buket bunganya satu," ujar Zeline.


"Tunggu sebentar, Nak."


Bu Lasmi pun segera merangkai bunga tersebut. Tak lama kemudian, tangkai bunga itu pun sudah menjadi buket yang cantik. Bu Lasmi langsung menyerahkannya pada Zeline.


"Berapa harganya Bu?" tanya Zeline.


"Tidak usah, Nak."


"Tidak apa-apa, Bu. Saya merasa tidak enak jika menerima bunga ini hanya dengan cuma-cuma." Zeline memasukkan uang seratus ribu sebanyak sepuluh lembar ke dalam saku baju Bu Lasmi. Setelah melakukan hal tersebut, ia pun langsung berlari dan masuk ke dalam mobil. Takut jika Bu Lasmi akan mengembalikannya lagi pada Zeline.


Di perjalanan, Gery hanya diam sembari melihat ke arah jalanan. Zeline pun menatap mawar yang ada di tangannya, lalu kemudian mencoba membuka suara.


"Bolehkah aku berkunjung menemuinya?" ucap Zeline.


Gery hanya menatap Zeline sekilas dari spion, lalu kemudian kembali mengalihkan pandangannya menuju ke jalanan. Pria itu tak menolak tak juga menjawab ucapan Zeline. Gery lebih memilih bungkam seribu bahasa.


....


Di lain tempat, Vera tengah kelimpungan mencari keberadaan Zeline. Pasalnya, sejak tadi pagi Zeline tak bisa dihubungi sama sekali. Keberadaan gadis itu pun entah dimana.


"Ck! Kemana dia," geram Vera.


Vera mencoba mengecek cctv, dan benar saja. Terlihat saat itu Zeline keluar dengan menggunakan salah satu mobilnya. Melihat waktu yang ditunjukkan di cctv tersebut, Zeline saat itu keluar pada pukul 8 malam dan setelah itu, hingga pagi ini ia belum juga pulang.


Melihat Zeline yang tak kunjung bisa dihubungi, membuat Vera pun memilih untuk menelepon Arman. "Mungkin saja Pak Arman tahu keberadaan anak ini," gumam Vera yang membicarakan tentang Zeline.


"Halo ...."


"Halo, Pak Arman. Maaf mengganggu waktunya sebentar," ujar Vera sengaja berbasa-basi.


"Tidak apa-apa, santai saja. Kenapa?" tanya Arman sepertinya yang enggan diajak berbasa-basi dan memilih untuk langsung pada intinya saja.


"Apakah kemarin Zeline ada menghubungi Pak Arman?" tanya Vera.


"Zeline? Tidak. Memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa, Pak. Dari semalam, hingga pagi ini Zeline belum juga pulang," ujar Vera yang mulai menjelaskan permasalahannya.


"Belum pulang? Memangnya dia kemana?"


"Saya kurang tahu, Pak. Semalam dia tidak mengatakan sesuatu pada saya dan pagi ini, nomor ponselnya juga tidak aktif," ucap Vera.


"Kalau begitu, saya tutup dulu teleponnya, Pak."


"Baiklah. Nanti akan saya coba bantu cari tahu keberadaannya," ujar Arman.


"Terima kasih banyak, Pak."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Vera pun langsung memutuskan panggilan teleponnya. Wanita itu memijat kepalanya. Wajahnya sudah masam akibat tak mengetahui keberadaan Zeline saat ini.


"Di mana dia? Sungguh! Lama-lama aku terlihat tua hanya karena mengurus anak satu itu," geram Vera.



.....


Mobil yang dikendarai oleh Gery pun tiba di pemakaman umum. Pria itu langsung turun dari mobilnya, begitu pula dengan Zeline.


Gery berjalan lebih dulu, sementara Zeline mengekor pria tersebut dari belakang. Hingga akhirnya, langkah pria yang ada di depannya terhenti dan menatap sendu pada salah satu pusara yang ada di sana.


Zeline mengikuti arah pandang Gery. Dan benar saja, kini keduanya telah berada di depan pusara dengan nisan yang bertuliskan nama Ezra Atalaric.


Melihat pusara yang ada di hadapannya, membuat Zeline kembali dihinggapi kesedihan. Gadis itu berjongkok di samping pusara tersebut, meletakkan buket mawar yang ia bawa di atas gundukan tanah itu.


"Akhirnya kita bertemu," ucap Zeline sembari mengusap nisan tersebut.


"Sangat disayangkan, aku menemukanmu dengan hanya menatap nisanmu saja," lanjut gadis itu. Ia mendongak, mencoba menahan air matanya. Namun, air matanya tetap jatuh.


"Aku tidak menyangka, jika orang itu adalah kamu. Maafkan aku karena terlambat menyadarinya. Jika saja aku lebih awal mencari tahu, mungkin aku bisa melihatmu secara langsung, memelukmu, dan mengucapkan kata terima kasih karena kamu sudah mendukungku sejauh ini." Nada bicara Zeline sudah mulai bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk menguatkan dirinya dan mengucapkan kalimat selanjutnya.


"Kamu tahu, aku sangat pemalu saat sekolah. Dan aku mengidolakanmu saat itu. Sungguh! Aku tidak menyangka, jika aku mendapatkan dukungan dari idolaku sendiri."


"Andaikan jika waktu bisa diputar, aku ingin mengucapkan kata terima kasih padamu secara langsung. Tidak dengan cara yang menyakitkan seperti ini."


"Mendapatkan kabar jika kamu sudah meninggalkan ku, entah rasanya benar-benar membuatku mati rasa. Aku benar-benar hancur. Aku terlalu bodoh!"


Racauan Zeline pun terhenti. Bahunya bergetar hebat, isak tangisnya semakin terdengar begitu jelas.


"Aku tidak lagi mendapatkan bunga darimu. Namun, aku akan menggantikan mu melakukannya. Aku yang akan memberikan bunga-bunga untukmu. Aku akan melakukan seperti apa yang kamu lakukan," ujar Zeline.


Gadis itu menyeka air matanya. Ia beranjak dari tempat tersebut dan mengulas senyumnya.


"Untuk hari ini, aku akan berpamitan denganmu. Dan nanti, aku akan mengunjungimu lagi," lanjut Zeline.


Zeline berjalan meninggalkan pusara tersebut bersama dengan Gery. Gadis itu menoleh sesaat, sebelum benar-benar pergi dari sana.


"Harapanku hanya satu, semoga kita bertemu, walaupun itu hanya sekedar di dalam mimpiku," batin Zeline.



Bersambung .....