
Pagi itu, Ezra kembali muncul. Pria itu lagi dan lagi membawakan sebuket bunga mawar untuk gadis pujaan hatinya. Satu hal yang menarik perhatian Zeline, jika diperhatikan pria itu lebih sering menggunakan setelan berwarna putih ketimbang warna yang lainnya.
"Hai!" sapa Ezra sembari mengembangkan senyumnya. Senyum yang selalu membuat Zeline terpana dalam beberapa detik.
"Hai," balas Zeline yang juga mengembangkan senyumnya.
"Mana om dan tante?" tanya Ezra sembari mengedarkan pandangannya, tak menemukan keberadaan kedua orang tua Zeline di sekitar sana.
"Ibu dan ayah sedang keluar," timpal Zeline.
"Ayo silakan masuk!" lanjut gadis itu.
"Jika kedua orang tuamu tidak ada di rumah, aku duduk di sini saja," ucap Ezra menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi yang ada di teras.
Zeline tersenyum, melihat sikap sopan yang diperlihatkan oleh Ezra. Tidak salah hatinya jatuh cinta pada pria yang ada di hadapannya itu. Selain tampan, Ezra juga memiliki sikap sopan yang dinilai cukup baik. Anggap saja bahwa pria ini benar-benar paket komplit.
Mata Zeline terarah pada buket bunga yang dibawa oleh Ezra.
"Apakah ini untukku?" tanya Zeline sembari menunjuk bunga tersebut dengan wajah polosnya.
"Ah iya. Maaf, aku lupa memberikannya padamu," ujar Ezra yang langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian memberikan bunga tersebut pada Zeline.
"Terima kasih," ucap Zeline menerima mawar tersebut.
Zeline kembali melihat mawar itu dengan seksama. Entah mengapa, rasanya mawar yang ia pegang tampak tak asing baginya. Sekelebat bayangan pun muncul di dalam ingatannya, membuat Zeline merasakan sedikit pusing dan memegangi kepalanya.
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja ... entah mengapa aku mengingat tentang mawar ini. Seolah ingatan dari dunia lain. Terkadang aku bingung, seperti ada sesuatu yang terlewatkan begitu saja," tutur Zeline.
"Bisakah kamu menjelaskan sedikit saja untukku. Kamu berkata, bahwa kamu adalah tunanganku. Jadi, tidak ada salahnya jika aku bertanya padamu tentang hal ini," ucap Zeline panjang lebar.
Ezra terdiam. Ia tak menjawab ucapan dari Zeline."Jika aku ceritakan, akan terlalu berat bagimu nantinya. Apakah kamu bersedia menerima konsekuensinya nanti?" tanya Ezra yang justru memberikan pertanyaan kembali pada Zeline.
"Maksudnya?" tanya Zeline dengan wajah bingungnya.
"Semua ada konsekuensinya. Jika aku jelaskan semuanya secara rinci, maka posisi kita akan berbeda. Aku dan kamu, kita ... jauh berbeda," jelas Ezra yang penuh teka-teki.
Zeline menggelengkan kepalanya dengan kuat. Mendengar penjelasan secara singkat dari gadis yang ada di sebelahnya, membuat Zeline berusaha keras untuk menepis semuanya.
"Aku tidak ingin ada yang berubah. Antara kita, atau pun yang lainnya," ujar Zeline.
Ezra menatap lekat Zeline, ia meraih tangan gadis tersebut, menggenggam jemarinya dengan begitu kuat tanpa mengucapkan kalimat apapun.
"Entah mengapa, ucapanmu seakan mengisyaratkan sebuah perpisahan. Aku tidak ingin mengingat apapun lagi, jika pada akhirnya akan membawaku pada sebuah perpisahan. Aku ingin tetap melihatmu, kita saling menatap sembari mengukir sebuah senyuman. Tidak sanggup bagiku jika harus adanya sebuah perpisahan. Begini saja, sudah cukup!" batin Zeline menjerit sembari menatap Ezra dengan lekat.
Kedua insan itu pun saling memandang dan melemparkan senyum. Ezra masih mengukir senyum indahnya dengan kedua lesung pipi yang menghiasi wajah tampannya.
"Jika nanti aku kehilanganmu, maka hal yang pertama aku rindukan adalah lesung pipi di wajahmu," batin Zeline.
Bersambung ....