
Suara mobil terdengar terparkir di depan halaman rumah. Dari jendela, Zeline mengintip. Benar saja, Ezra telah tiba di rumahnya. Terlihat dari jendela kaca, Ezra turun dari mobil dan berjalan menuju ke pintu masuk.
Zeline segera bergegas berjalan menuju ke meja riasnya. Ia merapikan penampilannya sedikit dan kembali menyisir rambutnya sekilas. Gadis itu juga menorehkan pewarna pada bibirnya.
"Baiklah, aku sudah selesai." Zeline tersenyum sembari melihat pantulan dirinya di cermin.
Tokkk ... Tokkk ...
Terdengar suara ketukan pintu. Zeline pun langsung membuka pintu kamarnya dan mendapati ibunya yang berada di depan pintu tersebut.
"Eh, sudah siap. Ibu kira kamu tidak tahu Ezra datang," ujar ibu Zeline.
"Zeline sudah mengetahuinya, Bu." Gadis itu menimpali ucapan ibunya sembari tersenyum.
"Kalian mau kemana?" tanya ibu Zeline.
"Zeline keluar sebentar, Bu. Hanya untuk mencari udara segar saja," timpalnya.
Anak dan ibu itu pun berjalan beriringan sembari menuruni anak tangga. Netra Zeline menangkap Ezra yang tengah berbincang bersama dengan ayahnya di ruang tengah.
Ezra mendengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga. Ia mendongak, mendapati Zeline berjalan bersama dengan ibunya. Kedua wanita berbeda generasi tersebut datang menemui kedua pria yang tengah berbincang di sofa.
"Ayo kita berangkat!" ajak Zeline.
"Memangnya mau kemana?" tanya ayah Zeline.
"Hanya keluar sebentar saja untuk mencari udara segar," timpal Zeline sembari melemparkan senyumnya ke arah Ezra.
"Mencari udara segar? Memangnya di sini udaranya tidak segar?" tanya ayah Zeline lagi.
"Bukan seperti itu, Yah. Intinya Zeline dan Ezra mau keluar sebentar. Bisa dikatakan jalan-jalan," sambung ibu Zeline yang membantu menjelaskan.
"Nah, iya Yah." Zeline pun mengangguk. Ia menggamit tangan ibunya dan bersandar di bahu wanita yang telah melahirkannya itu.
"Mencari udara segar juga harus dandan?" tanya ayahnya lagi, sengaja usil kepada putrinya.
"Ck! Ayah!" keluh Zeline dengan nada yang manja sembari mengerucutkan bibirnya.
Ibu Zeline dan juga Ezra hanya bisa tersenyum memperhatikan interaksi anak dan ayah tersebut. Ayah Zeline memang sering mengerjai anaknya dan membuat putrinya itu tersipu malu. Ia juga telah memberikan lampu hijau pada Ezra dan mempercayai putrinya untuk pergi bersama dengan pria tersebut.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Om dan Tante. Saya minta izin untuk pergi bersama Zeline," ujar Ezra.
"Kenapa buru-buru? Minum teh dulu di sini," ucap ibu Zeline.
"Tidak apa-apa, Tante. Takutnya nanti terlalu malam," timpal Ezra.
"Ya sudah, kalau begitu pulangnya jangan terlalu malam ya," ujar ayah Zeline.
"Iya, Om." Ezra menimpali disertai dengan sebuah anggukan kecil.
"Hati-hati di jalan, Nak." Ibu Zeline kembali membuka suara.
"Iya, Tante."
Ezra menyalami kedua orang tua Zeline secara bergantian. Zeline pun melakukan hal yang sama. Mereka berdua berpamitan dan setelah itu langsung masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, Ezra memperhatikan Zeline. Benar saja, gadis itu berdandan. Bisa dilihat dari pakaian yang dikenakan oleh Zeline dan juga pewarna bibir yang gadis itu pakai.
"Tidak apa-apa. Dan tidak ada yang salah pada dirimu. Aku hanya ingin berkata, bahwa kamu sangat cantik malam ini," ujar Ezra yang tak ingin menyinggung dandanan Zeline.
Bagaimana pun juga, ia sangat menghargai Zeline yang sudah bersusah payah merias dirinya hanya untuk bertemu dengan Ezra. Itu tandanya, Zeline ingin selalu tampil cantik di depan Ezra.
Mendengar ucapan manis yang baru saja dilontarkan oleh pria yang ada di balik kemudi tersebut, membuat wajah Zeline pun bersemu merah. Ia tersipu karena sudah dipuji cantik oleh pria pujaan hatinya.
"Kamu sudah makan?" tanya Ezra.
Zeline menggelengkan kepalanya. Ia masih mengulum senyum seusai dipuji oleh pria yang ada di sebelahnya itu.
"Kalau belum, kita cari tempat makan dulu. Kamu ingin makan di mana?" tanya Ezra.
"Di mana saja. Aku tidak memperhatikan tempat makanannya asalkan masakannya lezat," jawab Zeline.
Keduanya pun kembali terdiam sembari memperhatikan jalanan yang sedikit basah, karena sebelumnya di sana hujan gerimis.
Setelah berkendara cukup lama, akhirnya Ezra dan juga Zeline pun tiba di salah satu kedai yang tidak terlalu besar. Kedai tersebut menjual mie ayam dan juga bakso. Makanan yang sangat cocok disantap seusai hujan gerimis di udara yang sedikit dingin seperti ini.
Kedua orang tersebut turun dari mobilnya. Mereka langsung masuk ke dalam kedai itu, dan menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi yang ada di kedai tersebut.
Ezra memesan semangkuk mie ayam. Sementara Zeline, ia memilih untuk memesan bakso saja. Keduanya bercerita membahas hal-hal keseharian sembari menunggu makanan yang mereka pesan tiba.
"Setelah ini kita kemana?" tanya Ezra.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku hanya menurut saja kemana kamu akan membawaku," timpal Zeline.
"Baiklah. Kalau begitu, sehabis dari sini, kita pergi ke taman kota sebentar dan setelah itu langsung pulang," tutur Ezra.
Pesanan keduanya pun telah siap. Seorang ibu-ibu paruh baya membawa nampan yang berisikan makanan dengan asap yang sedikit mengepul. Aroma makanan tersebut tercium menusuk ke indera penciuman hingga memancing cacing-cacing di perut untuk berdemo dan minta agar segera diisi.
Wanita paruh baya itu menghidangkan makanan yang mereka pesan. Zeline langsung meneguk liurnya, melihat makanan yang amat menggugah selera.
"Aromanya sudah membuat perutku lapar," gumam Zeline pelan.
Namun, ucapan gadis itu masih bisa didengar oleh Ezra. Pria tersebut hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Zeline. Terkadang, tingkah gadis ini memang sedikit lucu. Hal itu lah yang membuat Ezra menjadi gemas pada Zeline.
"Tidak menambahkan saus atau pun kecap pada makananmu?" tanya Zeline melirik Ezra.
"Aku tidak bisa mengkonsumsinya berlebihan. Aku lebih menyukai makanan dengan rasa asli dari penjualnya tanpa banyak dicampur oleh apapun. Rasanya nanti akan berbeda," jelas Ezra.
"Oh ...." Zeline mengangguk paham. Ia pun menyeruput kuah bakso tersebut dan mengacungkan ibu jarinya pertanda bahwa makanan di tempat itu memang benar-benar lezat.
Zeline kembali memperhatikan makanan Ezra. Ia melihat sawi rebus yang cukup banyak di atas mie ayamnya itu.
"Kamu sepertinya sangat menyukai sayur-sayuran," ujar Zeline.
"Iya. Aku sangat menyukainya, karena sayuran hijau ini sangat banyak manfaatnya untuk tubuh. Terkadang ada orang yang mengkonsumsinya dengan cara mencampur beberapa dan di jus," tutur Ezra.
Mendengar ucapan Ezra, membuat Zeline mengingat sesuatu.
Hei! Ini sangat baik untuk kesehatan tubuhmu. Green juice ini terdiri dari bayam, apel, peterseli, lemon, mentimun, dan seledri. Selain untuk menambah energi, ini juga sangat bagus untuk pencernaanmu, serta membuat dirimu tetap cantik dan awet muda
Alat makan yang dipegang oleh Zeline tiba-tiba terlepas begitu saja. Gadis itu menutup telinganya, saat teringat kalimat tersebut pernah diucapkan oleh seseorang kepadanya.
Bersambung ...