40 Days With You

40 Days With You
Bab 19. Gosip Tentang Dira



Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.


Itulah kalimat yang terdengar dari seberang telepon saat Vera beberapa kali mencoba untuk menghubungi Gery.


"Sial!" tukas gadis itu mengumpat dengan kasar.


Pasalnya, sejak kemarin Gery tak kunjung datang bekerja. Bahkan, tak memberikan kabar jika meminta waktu libur tambahan.


"Sudah, biarkan saja. Mungkin kakaknya masih sakit. Jadi, dia tidak bisa datang bekerja," ucap Zeline.


"Kita sudah beberapa kali selalu membiarkan dia berbuat salah. Nantinya akan jadi semena-mena tingkahnya terhadap kita," ujar Vera yang merasa geram karena sedari tadi tak dapat menghubungi Gery.


"Aku tidak marah, jika dia mengatakan sebenarnya. Bukan hilang bagai di telan bumi seperti ini. Sudah dua hari, tetap saja tak bisa dihubungi," gerutu Vera yang kembali menyimpan ponselnya di dalam tas.


"Kamu sudah siap?" tanya Vera mengarahkan pandangannya pada Zeline.


Zeline menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum simpul menatap sang manajer yang sudah emosi di pagi buta seperti ini.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi!" ajak Vera berjalan lebih dulu. Sementara Zeline, mengekor di belakang wanita tersebut.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit lamanya. Mereka pun tiba di lokasi syuting. Zeline dan Vera segera keluar dari kendaraannya, dan bergabung bersama yang lainnya.


Semua orang mengarahkan pandangannya pada Dira yang tengah berbicara pada sang sutradara hanya berdua saja. Membuat Zeline pun bertanya-tanya, apa sebenarnya yang telah terjadi.


"Si Dira kenapa?" tanya Zeline pada aktor yang usianya lebih muda dibandingkan dirinya.


"Apakah kakak tidak melihat berita di internet?" tanya pria tersebut yang justru melempar pertanyaan kembali.


"Berita di internet?" gumam Zeline yang sesaat kemudian menggelengkan kepala.


Zeline merogoh ponselnya, melihat berita apa yang tengah marak hingga membuat Dira dipanggil oleh sang sutradara.


Artis Sombong Membuang Pemberian Penggemarnya Ke Dalam Tong Sampah.


Zeline membulat melihat judul yang terpampang di sana. Gadis itu pun menggulir layar ponselnya, melihat berita tersebut hingga habis. Ada beberapa foto yang tersemat di sana, akan tetapi wajah si pemberi bunga diblur oleh si penulis berita tersebut.


"Tunggu sebentar, ini kan ...."


Zeline menatap foto tersebut dengan seksama. Dan benar saja, itu adalah bunga yang pernah ia tanyakan kemarin pada Dira.


Bunga yang ditemukan oleh Zeline di tong sampah, dan Zeline bertanya pada Dira bagaimana ciri-ciri orang yang mengirimkan bunga tersebut. Namun, Dira tak menjawabnya dan berakhir dengan pertikaian antara wanita tersebut dan manajer Zeline.


Zeline menatap Dira yang tengah dibentak oleh sang sutradara. Gadis itu hanya bisa tertunduk pasrah saat dimarahi oleh Pak Subagyo.


"Bagaimana ini? Asal kamu tahu, dengan adanya rumor ini, akan berdampak juga dengan film yang akan diluncurkan!" tukas Pak Subagyo.


"Maafkan saya, Pak. Saya akan segera mengatasinya," jawab Dira yang mencoba membela diri.


"Mengatasi kepalamu! Jika kita dapat rating buruk hanya karena gara-gara kamu, maka kita akan rugi besar! Uang yang dikeluarkan untuk pembuatan film ini tidaklah sedikit," jelas Pak Subagyo dengan penuh penekanan. Pria itu tampak geram dengan artis yang ada di depannya.


"Maafkan saya, Pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi," ucap Dira.


"Begini saja, untuk menghindari adanya kerugian besar nantinya, peran kamu akan saya gantikan dengan yang lain. Saya tidak peduli jika harus syuting ulang karena ini baru dalam tahap episode awal," ucap Pak Subagyo sembari mengusap wajahnya.


"Tidak ada harapan. Meskipun kamu sangat antusias, tetap saja kedepannya sudah terbaca. Sebaiknya kamu selesaikan saja masalahmu itu," ujar Pak Subagyo yang keputusannya tak bisa diganggu gugat. Pria itu pun berlalu dari hadapan Dira.


"Tapi Pak ... saya akan berusaha semaksimal mungkin, Pak. Saya tidak akan mengecewakan bapak. Saya akan kembali membersihkan nama saya, Pak. Saya bisa menjaminnya," ucap Dira yang mencoba membujuk Pak Subagyo.


Namun, Pak Subagyo tak menanggapi setiap kalimat yang diucapkan oleh Dira. Anggap saja, wanita itu menghabiskan tenaganya, akan tetapi tak dihargai sama sekali.


Pak Subagyo menghampiri salah satu kru. "Tolong hubungi Casey, minta dia untuk menggantikan peran Dira," titah Pak Subagyo.


"Baik, Pak." Wanita itu pun mengangguk paham dan langsung melaksanakan titah Pak Subagyo.


"Untuk yang lainnya, karena adanya berita buruk tentang Dira, maka dari itu saya memilih untuk mengganti peran Dira dengan artis lain. Jadi, kita akan melaksanakan syuting ulang. Saya harap, kalian dapat mengerti akan situasi ini," ucap Pak Subagyo.


Semua orang yang ada di sana tentu saja cukup terkejut dengan keputusan yang diambil oleh Pak Subagyo.


"Sementara menunggu pengganti Dira, untuk sementara kalian boleh bersantai saja dulu," lanjutnya yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Dira mematung, ia tak bisa berbuat apa-apa. Matanya menatap ke semua rekan kerjanya, dan terhenti tepat di Zeline. Ia mengingat, di hari yang sama saat dirinya mendapat bunga, Zeline bertanya tentang ciri-ciri orang yang memberikan bunga tersebut padanya. Hal itu membuat Dira pun mencurigai Zeline, dan mengira bahwa Zeline adalah dalang dari rumor yang muncul saat ini.


Gadis itu berjalan menghampiri Zeline dengan tergesa-gesa. Sesampainya di depan Zeline, ia pun langsung menampar pipi Zeline dengan begitu keras, hingga semua orang pun terkejut dengan apa yang baru dilakukan oleh Dira.


Zeline tak tahu apa-apa. Ia cukup terkejut saat mendapatkan tamparan dari Dira.


"Ini semua adalah ulahmu kan? Mengakulah!" tegas Dira dengan nada bicara yang tinggi.


"Apa maksudmu?" tanya Zeline sembari memegangi pipinya yang terasa panas.


"Jangan berlagak bodoh kamu! Wajahmu terlihat polos tetapi hatimu begitu busuk! Aku tahu, kamu lah yang menuliskan berita yang ada di internet itu kan? Sebelumnya kamu juga sempat bertanya padaku tentang pria yang memberikan bunga itu. Mengaku saja kamu!!" tukas Dira menatap Zeline dengan nyalang.


"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Namun, aku tidak pernah menuliskan apapun tentangmu. Sungguh!" Zeline mengangkat kedua tangannya membentuk huruf V. Gadis itu beranjak dari tempat duduknya. Tamparan tadi, entah mengapa gadis itu sepertinya enggan sekali membalas Dira yang sudah bersikap keterlaluan padanya.


"Dasar wanita munafik! Puas kamu menghancurkan karirku hah? Puas?!!" Dira terus menerus menyerang Zeline dengan mendorong gadis tersebut.


Beberapa orang yang melihat pun berusaha menjauhkan Dira dari Zeline. Mereka merasa kasihan melihat Zeline yang selalu diserang, akan tetapi gadis itu tak membalas sama sekali perbuatan Dira.


"Lepas!!" tukas Dira yang merasa risih dipegangi oleh beberapa orang.


"Awas saja kamu Zeline! Aku pastikan kamu juga akan mendapatkan hal yang setimpal. Lihat saja nanti!" tegas Dira seraya menunjuk wajah Zeline.


"Ku rasa ... setelah ini aku akan membuat laporan atas dasar pengancaman," ujar suara berat yang saat ini berada di belakang Dira.


Dira pun langsung menoleh, matanya terbelalak saat mendapati Arman yang sudah berdiri di belakangnya.


"Jika kamu menyakiti Zeline, saya tidak akan tinggal diam. Camkan itu!" Tukas Arman menatap Dira dengan tatapan membunuh.


Pria itu berjalan melewati Dira begitu saja. Lalu kemudian menghampiri Zeline, menarik tangan gadis itu dan membawanya pergi dari kerumunan banyak orang.


Bersambung ....