40 Days With You

40 Days With You
Bab 26. Flashback



Flashback On :


Hari itu, dimana hari saat Ezra menemui Zeline di lokasi syuting. Dan ternyata, hanya mendapatkan sebuah luka di hati, melihat sang idola bersama dengan pria lain. Bahkan, Zeline tersenyum sembari menerima bunga pemberian dari Arman.


Setelah mendapatkan telepon dari Gery, dan memberikan mawar tersebut kepada Dira, Ezra pun memilih untuk mengendarai sepeda motornya kembali.


Sekuat apapun, setegar apapun, ia mencoba untuk berusaha. Namun, tetap saja tak bisa dipungkiri bahwa ia benar-benar kecewa karena tak dikenal oleh sang idola. Dan justru, gadis yang menjadi pujaannya selama ini, malah menatap pria lain.


Rasa sesak memenuhi rongga dadanya. Ezra mencengkram erat stang motor, seolah mengibaratkan hatinya saat ini bak diperas. Sakit, akan tetapi tidak berdarah.


Jika saja, Ezra memiliki uang yang banyak. Jika saja, ia diberikan tubuh yang sehat, mungkin saat ini pria itu akan menampakkan dirinya dan menyerukan kalimat, " Akulah penggemarmu! Aku yang mengirimkan bunga-bunga itu! Tolong, lihat aku!"


Namun, sayang seribu kali sayang, semua itu hanya terjadi dalam angan Ezra saja. Pada kenyataannya, Zeline tak akan pernah sekali pun menatap ke arahnya karena memang Ezra lah yang menyembunyikan diri.


Ezra merasakan sakit kepala yang luar biasa. Ia menggelengkan kepalanya, akan tetapi sakit di kepalanya itu tak juga kunjung hilang. Malah semakin menyakitkan lagi dan lagi.


Ezra terpaksa kembali menepikan motornya, karena hidungnya yang kembali berdarah. Kali ini darah yang keluar lebih banyak dari pada sebelumnya, dan disertai dengan rasa sakit yang luar biasa dashyatnya.


Sempat terpikirkan olehnya saat ini. Bagaimana jika waktunya tak lagi banyak. Meskipun begitu, Ezra ingin menatap kembali wajah cantik Zeline. Ia ingin mengulang kembali beberapa waktu yang terbuang sia-sia hanya karena menyembunyikan identitasnya. Meskipun Zeline tak tahu, jika dirinya adalah sosok pengirim bunga itu. Setidaknya Ezra hanya ingin agar Zeline dapat melihatnya, atau hanya sekedar say hai pada gadis itu.


Ezra menahan rasa sakit di kepalanya. Hidungnya ia sengaja sumbat dengan tisu agar membantu menghentikan pendarahan.


Pria itu kembali menghidupkan sepeda motornya, lalu melajukan kendaraannya kembali menuju lokasi syuting Zeline. Bibirnya terus bergumam, "Tuhan, tolong kuatkan aku. Biarkan aku bertemu padanya meskipun itu untuk yang terakhir kalinya. Ku mohon ...."


Sepanjang perjalanannya, Ezra terus berkata demikian. Seakan itu adalah permintaan terakhir pria itu.


Rasa sakit itu kembali tak tertahankan, membuat Ezra meringis dan sesaat kemudian, ada sebuah mobil truk yang melintas. Pria itu tak sadar, bahwa kini dia telah berada di jalur yang salah. Dan hingga akhirnya, kecelakaan pun tak terelakkan.


Truk tersebut menghantam sepeda motor yang dikendarai oleh Ezra. Sementara pria tersebut, terpental cukup jauh. Tubuh Ezra terhempas cukup kuat, akan tetapi pria itu sempat membuka matanya.


Air mata mengalir di sudut mata, harapan terakhirnya pun tak terkabulkan. Ternyata Tuhan tak membiarkan dirinya bertemu Zeline terlebih dahulu.


"Zeline, maafkan aku." bibirnya berkata tanpa bersuara. Hingga akhirnya, ia pun menyerah. Menatap mentari yang begitu terik sembari mengembangkan senyum. Dan perlahan, matanya tertutup sempurna.


Beberapa orang berkumpul di tempat kejadian. Tak lama kemudian, polisi juga berada di TKP. Memasang garis polisi lokasi kecelakaan tersebut.


Saat itu, Gery tengah mengetikkan sesuatu. Artikel yang akan ia terbitkan. Yang tak lain adalah artikel tentang Dira yang menganggap remeh abangnya. Ia tak terima Dira memperlakukan Ezra seperti itu. Membuang bunga pemberian Ezra ke tong sampah. Seolah Ezra adalah pria yang tak layak untuk dihargai.


Namun, belum selesai ia menuliskan artikel jahat itu, ia melihat ada nomor baru meneleponnya. Gery pun sempat berdecak kesal, karena ketikannya belum selesai dan ia harus menerima panggilan dari nomor tersebut.


Gery mengangkat panggilan itu, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh seseorang di seberang telepon, membuat Gery langsung membeku. Tubuhnya bergetar hebat saat mengetahui tentang kecelakaan sang kakak.


Gery dengan cepat menutup panggilannya. Ia mengurungkan niat untuk mengirimkan artikel itu dan memilih untuk segera pergi menemui Ezra yang sudah dibawa ke rumah sakit.


"Ini untuk ...."


"Madam, aku minta izin hari ini. Abangku kecelakaan dan aku harus segera ke sana," ucap Gery dengan wajah yang gusar.


"Oh, iya. Temuilah abangmu," ujar Vera.


Gery pun dengan cepat berlari. Memilih untuk pergi menaiki taksi. Sementara Vera, gadis itu mematung sembari memegangi dua kopi yang ada di tangannya.


"Haruskah aku meminum semua ini?" gumam Vera menatap kopi yang ada di tangannya.


....


Sesampainya di rumah sakit, Gery langsung menuju ke tempat di mana sang kakak berada. Namun, saat menuju ke sana, ia bertemu dengan ibunya yang tengah terisak.


"Ibu. Di mana Abang? Abang baik-baik saja, kan?" tanya Gery dengan tangan yang gemetar memegangi tangan Bu Lasmi.


Bu Lasmi tidak menjawab pertanyaan putra bungsunya. Ia hanya menangis dan menangis, membuat Gery terdiam beberapa detik.


"Bu, Abang baik-baik saja kan?" tanya Gery lagi, mencoba bertanya selembut mungkin pada Bu Lasmi.


Namun, air mata Bu Lasmi kembali jatuh dengan deras. Ia menggenggam erat tangan putranya. "Ibu harus bagaimana, Nak? Abangmu ... abangmu sudah tiada," ucap Bu Lasmi sembari terisak pilu.


Deggg ...


Mendengar hal itu, membuat Gery tak bisa menahan laju air matanya. "Ibu jangan bercanda. Pasti Abang baik-baik saja. Abang kuat, Bu. Abang tidak lemah," ujar Gery.


Bu Lasmi membawa Gery menuju ke ruang jenazah. Lalu kemudian membuka kain putih, penutup tubuh yang sudah terbujur kaku itu.


Dan benar saja, itu adalah jasad Ezra. Bibirnya telah memutih, matanya tertutup rapat. Melihat hal tersebut, tentu saja membuat dunia Gery seolah berputar. Ingatan tentang abangnya, saat kebersamaan mereka yang tak bisa terlupakan.


Ezra adalah Abang yang paling baik untuk Gery. Pria yang selalu memahami kehendak adiknya. Dan berusaha semampunya mewujudkan keinginan Gery, dikala pria itu meminta sesuatu.


"Bang, kenapa begitu cepat, Bang? Aku bahkan belum mewujudkan keinginan Abang. Bang, ini tidak nyata kan, Bang? Tolong bangun, Bang!" seru Gery yang benar-benar merasa terpukul atas kepergian Ezra.


"Bukankah sudah ku katakan untuk tidak usah menemuinya, Bang. Apa istimewanya dia? Kenapa Abang begitu mementingkannya. Mengapa Abang tidak mendengarkan ucapanku untuk tidak menyusul ke sana," racau Gery sembari memegang erat brankar tempat Ezra berbaring.


Bu Lasmi memeluk putra bungsunya. Mencoba untuk menenangkan Gery meskipun dirinya sendiri lebih hancur berkeping-keping melihat putra tercintanya yang sudah tak lagi mengembangkan senyum ke arahnya. Kedua orang itu saling berpelukan, saling menguatkan sembari menatap Ezra yang sudah terbujur kaku.


Flashback off


Bersambung ...