
Keesokan harinya, Zeline bangun dari tidurnya. Gadis itu mencuci wajahnya. Matanya sedikit sembab karena menangis semalaman. Zeline benar-benar kepikiran tentang ucapan Ezra. Bagaimana tidak? Ia ingin mempertahankan untuk tetap bersama pria itu, akan tetapi Ezra menolaknya, meminta agar Zeline tetap melanjutkan hidupnya.
"Jika memang semuanya adalah hal semu, mengapa ada pilihan kembali atau tetap tinggal?" gerutu Zeline seraya meraih sikat gigi, dan menorehkan pasta gigi di atasnya.
"Semua ini membuat aku bingung! Aku benar-benar kesal!" ujar Zeline lagi berbicara dengan mulut penuh busa.
Setelah menggosok gigi, gadis itu memilih untuk keluar. Tak peduli jika dirinya masih mengenakan piyama dan juga belum mandi. Toh, Ezra juga tam mempedulikannya. Pria itu masih marah akan keputusan yang Zeline ambil.
Saat hendak turun tangga, Zeline berpapasan dengan Ezra. Di waktu yang bersamaan, Ezra menaiki tangga hendak menuju ke kamar. Saat melihat Zeline, pria itu memberhentikan langkahnya sejenak, lalu kemudian kembali melanjutkan langkah tanpa saling menyapa.
Melihat Ezra yang bersikap demikian, membuat Zeline pun ikut melakukan hal yang sama. Gadis itu juga tak menyapa Ezra, seolah mereka tak saling melihat satu sama lain. Zeline memutar bola matanya saat Ezra telah berada cukup jauh darinya.
Sementara Ezra, pria itu menoleh ke arah gadis yang saat ini tengah berjalan menuruni anak tangga. Ada rasa tak enak hati memperlihatkan sikap dingin pada gadis yang amat dicintainya.
Namun, semua itu terpaksa ia lakukan, karena Ezra tak ingin jika perhatiannya membuat Zeline memilih jalan yang salah dan ingin tetap tinggal di sini.
Zeline melihat ibunya yang tengah menyiapkan sarapan. Gadis itu berjalan menuju ke kulkas, membuka benda tersebut dan mengeluarkan roti tawar. Mengoleskan selai coklat di atasnya dan menyantap makanan tersebut dengan raut wajah yang kesal.
"Ya ampun, Nak. Makannya jangan buru-buru seperti itu. Lagi pula ada apa dengan ekspresi wajahmu? Kenapa sepertinya kamu terlihat kesal?" tanya ibu Zeline menatap putrinya dengan seksama.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya sedikit kesal dengan sikap seseorang," tukas Zeline melahap semua roti yang ada di tangannya.
"Astaga Nak! Makannya pelan-pelan. Selainya belepotan di sudut bibirmu," ujar ibu Zeline seraya mengelap sisa selai coklat yang tertinggal di sudut bibir Zeline.
"Lagi pula kamu kesal dengan siapa? Bukankah semalam kita bersenang-senang? Kenapa pagi ini kamu justru merasa kesal seperti ini?" tanya ibu Zeline.
"Entahlah, Bu." Zeline menjawab dengan helaan napas yang berat. Ia memilih untuk tidak menjelaskan masalahnya secara mendetail pada ibunya.
"Ini ... ibu mau masak ayam goreng sama tumis kangkung. Kamu rendam sayur kangkungnya saja dulu dengan air garam," ujar ibu Zeline menyuruh putrinya.
"Kenapa direndam dengan air garam, Bu? Apakah biar sayur kangkungnya asin?" tanya Zeline yang memang tidak tahu sama sekali memasak.
Ia memiliki pengalaman memasak yang cukup menarik. Saat itu ia memiliki telur rebus. Zeline berencana menghangatkan telur rebus itu agar lebih nikmat. Dan lucunya, ia menghangatkannya menggunakan microwave. Alhasil, telur itu pun meletus dan membuat Zeline cukup takut untuk memasak sendirian.
Mendengar pertanyaan konyol Zeline, membuat ibunya langsung terkekeh geli. "Bukan begitu, Nak. Sayuran apapun ada baiknya jika sebelum memasak itu direndam dulu menggunakan air garam, terutama kangkung. Supaya binatang-binatang kecil yang ada di sayur tersebut mati," tutur ibu Zeline.
Zeline mengangguk paham setelah mendengar penjelasan dari ibunya. Ia pun merendam sayur tersebut dengan air garam, dan kemudian memilih untuk membantu yang lainnya sementara sayuran itu di rendam.
"Nanti, saat kamu sudah menikah, setidaknya kamu harus bisa memasak. Jangan suruh suamimu makan di luar terus. Ia akan sangat merasa bahagia saat kamu bisa menjamunya dengan masakan yang lezat meskipun itu sederhana," tutur ibu Zeline menasihati putrinya.
Zeline yang awalnya tengah mengupas kulit bawang pun langsung menghentikan aktivitasnya. Ia tersenyum miring, mendengar ucapan ibunya tadi.
"Bu, bagaimana jika Zeline memutuskan untuk tetap bersama ibu di sini," ucap Zeline.
"Maafkan ibu, Nak. Tetapi ibu tidak mau hal itu terjadi. Ibu ingin kamu hidup dengan lebih baik. Ibu ingin melihatmu mempunyai sebuah keluarga yang harmonis," ujar ibu Zeline.
Lagi dan lagi Zeline menghela napasnya dengan berat saat mendengar ucapan dari sang ibunda. Wanita paruh baya itu tampaknya menyuruh agar Zeline kembali dan tak tinggal di sini.
"Apakah ibu tidak ingin aku berada di sini selamanya?" tanya Zeline menatap ibunya dengan serius.
Bersambung ....