
Ikan yang sedari tadi rebahan cantik di atas perapian, kini sudah siap dihidangkan. Aroma asap dan sedikit manis itu tampak tercium di hidung, menggugah selera dan membuat lapar seketika.
Ezra membawa ikan-ikan tersebut ke atas meja. Semua orang sudah bersiap menyantap ikan, mengelilingi meja tersebut.
Zeline menumpahkan nasi di atas kertas nasi yang sudah diatur memanjang, dan ditambah dengan ikan bakar serta sambal dan lalapannya, membuat siapa saja ingin menyantap makanan tersebut. Termasuk othor yang juga lapar hanya karena membayangkan ikan bakar ini😂.
Semua orang mulai menyantap makanan yang lezat itu. Di tambah dengan hasil pancingan sendiri, tentunya akan terasa lebih nikmat.
"Hmmm ... ternyata sambal kecapnya enak sekali. Ada rasa manis, pedas, dan sedikit rasa asam," ujar Ezra sembari memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.
"Kamu tahu, semasa hidup dulu, Tante sangat suka memasak. Maka dari itu Om memiliki badan yang sedikit berisi karena masakan ibunya Zeline selalu saja terasa lezat," celetuk ayah Zeline diiringi dengan tawa kecil.
Mendengar ayah Zeline yang menyebutkan tentang 'semasa hidup dulu' membuat Zeline menyunggingkan senyumnya walaupun hatinya terasa teriris. Memang saat ini dia berada diantara orang-orang yang sudah tiada. Zeline bersama orang yang ia cintai di alam bawah sadarnya. Gadis itu bisa saja hidup kembali, jika ia memilih untuk kembali dan ia juga bisa mati seketika jika ia memutuskan untuk tetap tinggal.
"Tidak. Tante tidak pandai memasak." Ibu Zeline mengibaskan tangannya.
" Waktu dulu, saat ingin menikah dengan Om, Tante merasa ada sesuatu yang kurang dari diri Tante. Sebagai istri yang baik, kita harus bisa melayani suami dengan baik, termasuk dengan menghidangkan masakan untuk Om. Maka dari itu, Tante mulai belajar memasak memalui buku resep," jelas ibu Zeline sembari mengembangkan senyumnya.
"Aku berbeda dengan ibu. Aku tidak pandai memasak seperti ibu," celetuk Zeline yang juga ikut masuk dalam topik pembicaraan tersebut.
"Orang pandai karena terbiasa, orang tak pandai karena memang belum terbiasa. Dan menyiasati semua itu dengan belajar," balas ibu Zeline.
"Nanti kamu harus banyak belajar ya, supaya bisa menghidangkan masakan yang lezat nantinya untuk orang yang spesial," celetuk Ezra.
Semua orang langsung menatap ke arah pria tersebut. Dengan Ezra berkata demikian, seolah ia menyuruh untuk Zeline kembali melanjutkan hidupnya.
Sementara Zeline, gadis itu hanya terdiam membisu. Ia menatap nasi yang ada di hadapannya, dan memakan makanannya dengan sedikit lahap. Hal itu ia lakukan untuk menahan air matanya. Namun, matanya masih berkaca-kaca juga. Zeline pun langsung meraih minum yang tak jauh dari jangkauannya.
"Sambalnya sangat pedas," ujar Zeline berpura-pura hanya untuk mencari alasan saja.
Semua orang memperhatikan Zeline. Ibu Zeline menatap sang anak juga merasa ikut sedih. Namun, ayah Zeline langsung memberikan kode pada sang istri, agar tak menambah kesedihan Zeline.
"Sambalnya memang agak pedas, tetapi sangat mantap!" seru ayah Zeline sembari mengacungkan ibu jarinya. Hal tersebut sengaja ia lakukan agar memecah suasana dan tak menimbulkan kesedihan lagi diantara mereka. Karena bagaimana pun juga, adanya Zeline di sini seharusnya membuat gadis itu merasa bahagia, bukan bersedih seperti sekarang ini.
"Iya, sambalnya sangat enak. Yah, sepertinya jika terus menerus memakan masakan Tante, badanku juga akan berisi seperti om," celetuk Ezra.
Semua orang pun langsung menertawakan ucapan Ezra, termasuk juga Zeline. Mereka berempat, kembali menikmati makanan tanpa suasana haru yang menyelimuti hati. Mencoba mencari topik pembicaraan yang tak menyinggung tentang kehidupan Zeline.
Setelah menyelesaikan makan malam, mereka berempat memilih untuk bersantai di tempat yang terpisah. Jika ayah dan ibu Zeline berada di dalam rumah, sementara Ezra dan Zeline memilih untuk tetap di luar sembari menikmati angin malam dan memandangi langit yang indah.
"Karena memang seharusnya begitu. Tempatmu di sini hanyalah persinggahan saja," ucap Ezra.
Zeline tersenyum perih, ia mengalihkan pandangannya dan menatap ke dalam manik mata Ezra.
"Bagaimana jika aku memilih untuk tetap tinggal saja di sini bersamamu," ujar Zeline.
Gadis itu menghela napasnya dengan berat sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
"Sebenarnya, aku mendapatkan sebuah mimpi. Di mana aku tersesat di sebuah hutan. Dan di situ aku diberikan pilihan untuk tetap di sini atau kembali. Aku meminta untuk memberikan waktu selama 40 hari, dan waktu itu sebanyak berapa hari aku terbaring koma. Dan waktu yang tersisa, terhitung hari ini adalah 22 hari lagi," papar Zeline panjang lebar, menjelaskan tentang mimpinya kepada Ezra.
Ezra tersenyum, mendengar jika Zeline masih mempunyai waktu selama 22 hari lagi. Itu tandanya Ezra masih diberi kesempatan untuk bersama dengan Zeline dalam jangka waktu tersebut.
"Tapi ... setelah aku pikir-pikir, apakah sebaiknya aku memilih untuk tetap tinggal saja. Bagaimana pun juga ...."
"Tidak Zeline! Kamu harus melanjutkan hidupmu!" ujar Ezra yang langsung memotong pembicaraan Zeline. Pria itu tidak ingin jika Zeline menyerah pada hidupnya semudah itu.
"Tapi aku merasa bahagia berada di sini, Ezra. Aku bahagia saat bersamamu dan bersama kedua orang tuaku. Aku tak ingin meninggalkan kalian," balas Zeline.
"Jangan berpikiran dangkal, Zeline. Kamu saat ini berada di bawah alam sadarmu! Pertemuan kita, dan masa-masa saat kita bersama hanyalah mimpi saja. Kami tidak nyata, Zeline."
"Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu, Ezra! Ini nyata dan sangat nyata! Aku tertawa bersama kalian, jantungku berdetak kencang saat bersamamu, ini semua nyata. Bagaimana bisa kamu berkata demikian!" Mata Zeline mulai berkaca-kaca. Ia tak terima jika Ezra berkata demikian. Karena apa yang ia rasa, itu benar nyata, bukan hanya kejadian semu belaka.
"Zeline, jika kamu memilih untuk tetap tinggal, itu tandanya kamu mati. Kamu sudah tidak ada lagi di dunia dan pada akhirnya kamu akan berada di akhirat . Kami di sini hanya bayangan semu semata, menemanimu karena Tuhan mengabulkan doamu yang meminta untuk bertemu denganku walau hanya sesaat saja. Jangan serakah Zeline dan buka matamu lebar-lebar!" Ezra sedikit meninggikan nada bicaranya. Ia mengusap dagunya, merasa tak percaya dengan keputusan yang diambil oleh Zeline.
Dulu, Ezra memang menginginkan agar Zeline tetap bersama dengannya. Namun, alam mereka telah berbeda. Dan bagi Zeline, Ezra hanyalah sebuah bayangan semu belaka meskipun gadis itu saat ini belum menyadarinya.
"Kamu jahat, Ezra! Kamu benar-benar jahat!" ujar Zeline sembari menitikkan air matanya.
"Aku hanya ingin menyadarkan kamu, Zeline. Pilihan yang kamu ambil itu adalah sesuatu yang salah. Selama waktu yang tersisa, sebaiknya kamu mengubah keputusanmu itu. Kembalilah ke kehidupanmu yang semula. Jalan kita sudah berbeda, dunia kita juga tak lagi sama. Camkan itu!!"
Ezra yang sudah terlanjur emosi pun memilih untuk menjauh dari Zeline, meninggalkan gadis itu sendirian di luar. Sementara Zeline, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Perkataan Ezra sungguh menyakiti hatinya, apalagi pria itu sempat berkata bahwa Zeline adalah gadis yang serakah, menginginkan hal yang lebih setelah permintaan sebelumnya sempat di kabulkan.
"Kenapa Tuhan! Kenapa takdir begitu jahat kepadaku. Kenapa kami tidak bisa bersatu? Aku mencintai Ezra, lantas kenapa Ezra tak menginginkan aku untuk tetap tinggal di sini," gumam Zeline sembari menangis.
Bersambung ....