40 Days With You

40 Days With You
Bab 43. Day 7 (Bagian 2)



"Mbak, bangun Mbak!" seru Zeline.


Zeline mencoba menyibak rambut wanita tersebut. Dan tak lama kemudian, tubuhnya langsung bergetar hebat saat tahu siapa sebenarnya wanita itu.


"Ini ... Tidak mungkin ...."


Zeline mencoba mengusap matanya berulang kali. Namun, apa yang ia lihat itu memang tampak nyata. Wanita yang ada di dalam mobil sana tak lain adalah dirinya sendiri.


Zeline menggelengkan kepalanya. Rasa tak percaya pun mulai menyelimuti dirinya. Keningnya banyak mengeluarkan darah, matanya terpejam. Beberapa kali ia memandang dirinya di kaca spion, lalu kemudian melemparkan kembali tatapannya pada wanita yang ada di dalam mobil tersebut.


"Mustahil! Ini tidak benar!!" teriak Zeline.


Gadis itu menutup mulutnya sembari menggelengkan kepalanya tak percaya. Air matanya mulai jatuh menetes begitu saja. Jika memang benar, sosok tersebut adalah dirinya, lantas ... apakah wujudnya saat ini adalah sebagai hantu?


Zeline berjalan mundur, sesaat kemudian ia berlari menjauh dari mobil tersebut. Air matanya jatuh semakin deras, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Jika memang itu adalah aku, apakah saat ini aku telah mati? Mengapa aku tidak mengingat semuanya? Jika memang benar kecelakaan itu terjadi, lantas ... apakah ini adalah sebagian ingatanku sebelum aku benar-benar pergi?" batin Zeline.


Seiring dengan langkah kakinya, Zeline pun teringat akan kenangan tentang dimana dirinya menerima sebuah penghargaan beberapa kali. Saat ia menjadi gadis yang benar-benar sukses di dunia entertainment. Ia baru mengingat hal itu terjadi.


Langkah kaki Zeline terhenti. Ia merasa telah berlari sejauh mungkin. Namun, kenapa dia kembali dipertemukan lagi pada mobil yang tadinya menabrak sebuah pembatas jalan? Mengapa ia bertemu lagi dengan dirinya? Seolah Zeline sedari tadi hanya berputar di sebuah labirin, lalu kemudian kembali ke tempat dimana ia terjebak.


*Zeline, sudah berapa kali aku katakan untuk tidak membuat hal-hal yang menggemparkan. Aku sudah muak menghadapi para wartawan karena rumor kencanmu itu!


Aku tidak suka jika kamu menjadi orang yang terlalu baik! Jangan bodoh! Orang yang selalu bersikap jahat lebih baik untuk dihindari.


Zeline! Ada kiriman bunga mawar untukmu*!!


Semua kalimat itu seakan muncul berdatangan dan terdengar menggema di telinga Zeline. Gadis itu terduduk, air matanya kembali tertumpah. Ia mengingat bagaimana managernya itu selalu mengawasinya, melindungi, dan bahkan menjadi tameng di saat Zeline benar-benar terpuruk.


Sang manager juga selalu membela Zeline di saat ada teman artis yang bersikap jahat pada gadis tersebut. Mengingat hal tersebut, membuat dada Zeline terasa sesak. Ingatan itu sungguh membuat sedih Zeline dan menangis sejadi-jadinya.


"Ibu, ayah ...." Zeline bergumam sembari terisak.


"Vera ...."


Sesaat kemudian, satu nama pun baru kembali ia ingat. Pria yang sedari kemarin tak bisa dihubungi sama sekali.


"Ezra ...." Gadis itu kembali terisak sembari memukuli dadanya.


Pandangannya mengabur, karena air mata menggenang di pelupuk matanya. Zeline benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


Samar-samar, ia melihat langkah kaki mendekat ke arahnya. Sebuah sepatu mengkilat, serta celana panjang berwarna putih bisa ia lihat.


Zeline mendongakkan pandangannya, ia melihat pria yang dirindukannya datang dengan tatapan yang sulit diartikan.


Seiring dengan kemunculan pria berlesung pipi itu, hujan pun langsung turun. Awalnya hanya rintik biasa, menjadi kian menderas. Hal itu tak menghalangi pandangan Zeline untuk tetap menatap Ezra yang melangkah ke arahnya.


Ezra sedikit berjongkok, dan menutupi kepala Zeline dengan jas yang ia pakai. Ia menatap Zeline dengan begitu dalam. Menghapus air mata yang sempat membasahi wajah Zeline bersamaan dengan air hujan yang mulai membasahi wajah cantik gadis itu.


"Ezra, ... Tolong jangan tinggalkan aku sendirian. Aku takut!!" ujar Zeline dengan sesegukan.


Ezra tak berucap sepatah kata pun. Ia hanya memperhatikan Zeline. Lalu sesaat kemudian, pria itu pun merengkuh tubuh gadis malang itu.


Di tengah kebingungannya, Zeline perlahan mulai mengingat semuanya. Lantas, bagaimana dengan ingatannya terhadap Ezra? Apakah ia akan sanggup menerimanya jika mengetahui bahwa pria itu juga telah tiada.


"Aku sangat takut. Aku tidak bisa berpikir jernih. Aku menemukan diriku di dalam mobil itu. Kenapa aku bisa ada di sana? Apa yang terjadi denganku yang sebenarnya? Apakah aku saat ini berwujud hantu?" racaunya di dalam pelukan Ezra.


Ezra tak menjawab ucapan Zeline. Ia semakin mendekap erat tubuh gadis itu. Zeline benar-benar rapuh. Selain dibingungkan oleh ingatan yang mulai datang berdatangan, kini ia juga dibingungkan dengan situasi yang mengingatkan dirinya pada kejadian di mana sebelum ia mengalami kecelakaan.


"Tenanglah." Hanya satu kata itu yang terucap di bibir Ezra. Ia tidak tahu harus berkata apa. Karena memang pria itu juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aku tidak bisa tenang. Aku benar-benar takut, Ezra!"


Mendengar hal itu, yang bisa dilakukan oleh Ezra hanya bisa mengusap punggung gadis itu, mencoba untuk menenangkannya. Membiarkan Zeline menangis sepuasnya, menumpahkan rasa kesal, takut, atau pun kebingungan lain yang melanda dirinya saat ini.


Di bawah hujan yang mulai sedikit mereda, mereka saling berpelukan erat. Di dalam hati, Ezra juga merasa tak sanggup jika nantinya ia harus berpisah dengan Zeline. Entah Tuhan akan mempersatukan atau justru sebaliknya, memisahkan mereka berdua, Ezra benar-benar tidak mengetahuinya.


Untuk saat ini, yang ada di pikiran Ezra adalah bagaimana cara membuat gadis itu bahagia berada di sampingnya. Membuat gadis itu kembali mengukir senyumnya seperti hari-hari kemarin. Karena, pertemuan mereka kali ini, masih menjadi misteri akan berakhir bagaimana nantinya.


Setelah cukup lama menangis di bahu Ezra, Zeline pun sedikit mengucilkan pelukannya. Ia menghapus jejak air mata yang membasahi kedua pipinya.


"Maafkan aku. Karena aku yang terlalu lama menangis, membuat semua pakaianmu basah kuyup seperti ini," ujar Zeline.


"Tidak apa-apa. Tumpahkan semua air matamu, setelah itu tersenyumlah!" Ezra mengusap puncak kepala Zeline.


Zeline tersenyum, ia pun menadahkan tangannya, merasakan hujan sudah benar-benar reda. Zeline menyingkap jas yang menutup kepalanya, menurunkannya di bahunya.


"Kamu kemana saja? Sedari kemarin aku tidak bisa menghubungimu," gerutu Zeline.


"Saat ini, aku berada di sini. Tepatnya di depanmu," ujar Ezra mengembangkan senyumnya.


Zeline menepuk lengan Ezra dengan pelan. Ia benar-benar kesal pada pria itu. Setiap kali diberi pertanyaan, pasti ia akan menjawabnya dengan sesuatu yang lainnya.


"Kamu selalu saja begitu! Aku melemparkan pertanyaan, pasti kamu menjawabnya dengan hal yang lainnya," ujar Zeline.


Ezra kembali mengusap puncak kepala Zeline dengan gemas, seketika keduanya pun langsung menghilang begitu saja di tempat tadi.


Zeline seolah di bawa ke sebuah lorong waktu oleh Ezra. Pria itu menggenggam tangan Zeline dengan erat.


"Jangan takut, dan cobalah untuk tetap tenang," ucap Ezra.


Bersambung ....