
Setelah mendapatkan pesan dalam mimpi itu, Zeline menjadi lebih akrab dengan keluarganya. Mereka menghabiskan waktu dengan membentuk sebuah acara. Dari membuat barbeque di halaman belakang, dan bahkan membantu ibu untuk berbelanja pun ia lakukan.
Entah keputusan apa yang akan ia buat nantinya, gadis itu pun belum mengetahuinya dengan jelas. Akan tetapi, tidak ada salahnya ia memanfaatkan waktu yang ada bersama orang-orang yang ia sayangi di tempat ini.
"Bu, ayah dengan Ezra kemana ya? Sedari tadi aku tidak melihat mereka," tanya Zeline mengedarkan pandangannya.
"Ayah dan Ezra sedang memancing di sungai yang tak jauh dari tempat ini, Nak." Ibu Zeline menyahuti.
"Oh, aku sempat lupa jika di sini ada kolam," gumam Zeline seraya mengembangkan senyumnya.
"Dulu, kita ke sini sewaktu kamu masih sangat kecil, Nak. Dan sekarang kamu sudah menjadi dewasa, jadi wajar saja jika kamu tidak mengingatnya," ucap ibunya.
"Masa kecil? Pantas saja jika aku merasa tempat ini tidak asing," batin Zeline.
"Berarti tidak hanya bertemu dengan orang-orangnya saja. Tetapi di sini aku juga bisa mengunjungi tempat masa kecilku dulu," lanjut gadis itu yang masih sibuk dengan pemikirannya.
"Nak, ..." Ibu Zeline melambaikan tangannya tepat di hadapan putrinya, karena sedari tadi ia memperhatikan Zeline yang sibuk melamun.
"Ah, iya." Zeline sedikit terkejut dan melemparkan pandangannya pada sang ibunda.
"Apa yang kamu pikirkan, hmmm?" tanya ibu Zeline dengan lembut.
"Hehe bukan apa-apa, Bu." Zeline memilih untuk menyembunyikan hal tersebut dari ibunya.
Ibu Zeline terdiam sejenak, memperhatikan putrinya dengan seksama. "Perasaan ibu, kamu selalu saja berkata tidak apa-apa jika ditanyai. Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari kami, Nak?" tanya ibu Zeline sedikit membujuk putrinya agar mau mengutarakan semua yang ia pendam.
Zeline tetap kekeuh dengan pendiriannya. Ia menggelengkan kepala sembari mengulas senyum. "Aku tidak apa-apa, Bu. Sungguh!" ujar Zeline.
Zeline mengangguk, ia pun mulai menyiapkan tempat nasi dan yang lainnya. Persiapan untuk ke sungai, menyusul kedua pria berbeda generasi tersebut ke sungai.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit lamanya, mereka pun tiba di sungai tersebut. Dilihatnya ayah Zeline dan juga Ezra tampak serius memandangi joran, menunggu ikan memakan umpannya.
"Ayah, ..." Zeline berseru sembari menghampiri kedua pria tersebut.
Ayah Zeline dan juga Ezra pun mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Melihat Zeline dan ibunya yang tengah membawa rantang berisi makanan, membuat kedua pria itu pun langsung mengukir senyum di wajahnya.
"Apakah sudah banyak dapat ikannya?" tanya Zeline.
"Ini ...." Ezra menunjuk hasil ikan yang mereka dapat di dalam ember.
"Wah, lumayan banyak ya," ujar ibu Zeline menatap ikan-ikan tersebut dengan mata yang berbinar.
"Nanti kita bakar ya, Bu." Zeline menatap ibunya dengan penuh harap.
"Iya, Nak. Nanti malam kita bakar hasil pancingan ayah dan Ezra," jawab ibunya .
Ayah Zeline mengangkat jorannya. Ia memandang Ezra, tersenyum menatap pria yang sedari tadi menemaninya memancing.
"Kita sudahi dulu, Nak. Lagi pula ini sudah banyak. Ayo kita makan siang dulu!" ajak ayah Zeline.
Ezra mengangguk, para wanita pun mulai menjamu makan siang kedua pria itu. Mereka menikmati makan siang tersebut di bawah pohon rindang, sembari sesekali melemparkan candaan.
Bersambung ...