
Arman tengah berada di kantor. Hari ini, ia terpaksa harus meninggalkan Zeline karena ada urusan kantor yang tak bisa ditinggalkan. Raga Arman memang berada di tempat tersebut, akan tetapi pikirannya masih di rumah sakit, mengkhawatirkan gadis yang ia tinggalkan saat ini masih terbaring lemah, belum sadarkan diri dari kecelakaan yang sudah berlalu dua Minggu lalu.
"Untuk sebagian besar, saya yakin dengan produk kecantikan yang satu ini akan sangat laku di pasaran sana. Selain produknya yang memang sudah teruji secara klinis, pelembab wajah ini juga menggunakan bahan yang tidak berbahaya, jadi dapat di pakai oleh semua kalangan, baik dewasa atau pun remaja," ujar salah seorang karyawan wanita, menjelaskan tentang peluncuran produk baru.
"Untuk brand ambassador yang akan dipilih, kira-kira siapa, Pak?" lanjut wanita itu bertanya pada Arman yang tengah melamun.
Arman tak mendengar ucapan wanita tersebut. Pikirannya melalang buana. Bagaimana dengan Zeline? Apakah tidak apa-apa jika aku meninggalkan Zeline? Hanya itu lah yang ada di pikiran Arman saat ini.
"Pak, ..." tegur salah seorang yang tempat duduknya tak jauh dari Arman.
"Ah iya." Arman pun langsung tersadar dari lamunannya. Dan kembali memperhatikan ke depan.
"Bagaimana tadi?" tanya Arman yang terlihat kebingungan. Memang pria itu sedari tadi tak mendengarkan ucapan karyawannya.
Wanita itu pun mengulangi penjelasannya, dan kembali menanyakan tentang artis yang akan menjadi brand ambassador untuk produk kali ini.
Biasanya, perusahaan yang dipimpin oleh Arman selalu memakai jasa Zeline sebagai brand ambassador tersebut. Namun, mengingat Zeline saat ini masih dalam keadaan koma, tentu saja Arman harus mencari artis sebagai pengganti Zeline.
"Apakah kita harus mencari artis lagi?" tanya Arman yang tampaknya ragu-ragu. Entah mengapa, ia merasa sangat berat jika posisi tersebut harus tergantikan dengan artis yang lainnya. Ia hanya ingin Zeline, dengan begitu Arman akan lebih akrab dengan gadis tersebut.
"Apakah Pak Arman ingin menunggu Mbak Zeline sadar dulu baru kita luncurkan produk ini?" tanya wanita itu.
Arman mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja. Sementara tangannya yang satu lagi, mengusap dagunya yang ditumbuhi oleh sedikit jambang. Pilihan kali ini cukup sulit bagi Arman. Ia memang berkehendak untuk menunggu Zeline hingga sadar, akan tetapi pria itu juga tidak tahu, kapan Zeline akan terbangun dari tidur panjangnya.
Di sisi lain, jika produk itu tidak segera di luncurkan, akan ada produk yang lainnya, keluaran dari perusahaan yang berbeda dan tentu akan membuat produk yang dimiliki oleh perusahaan Arman di cap sebagai peniru, mengingat peluncuran tersebut ditunda.
"Bagaimana Pak?" tanya wanita tersebut.
"Baiklah, kita akan luncurkan saja produk itu. Untuk brand ambassadornya, kalian cari artis yang saat ini tengah naik daun. Segera hubungi mereka,"titah Arman.
"Baik, Pak. Akan segera saya laksanakan." Wanita itu mengangguk paham.
"Saya rasa rapat hari ini sudah cukup, kalian boleh kembali melanjutkan pekerjaan kalian," ujar Arman yang langsung beranjak dari tempat duduknya. Pria itu melangkahkan kakinya keluar dari ruang rapat.
Beberapa orang melihat ke arah Arman yang sudah tak lagi berada di dalam ruangan tersebut. Ada diantara mereka berbincang mengenai masalah atasannya itu.
"Sepertinya Pak Arman benar-benar menyukai Zeline," celetuk wanita berambut pendek, tengah membereskan dokumen yang ada di atas meja.
"Aku juga menilainya seperti itu. Dan yang ku dengar-dengar Pak Arman jarang ke kantor karena sibuk menunggui Zeline di rumah sakit." Wanita dengan rambut yang dicepol pun menyambung pembicaraan tersebut.
"Menurutku sih wajar-wajar saja. Yang satunya lagi cantik, dan satu lagi tampan," lanjut wanita dengan rambut sebahu.
"Pak Arman benar-benar tipe pria yang romantis ya. Kekasihku saja tidak akan seperti itu jika aku jatuh sakit," celetuk wanita berambut pendek.
"Lantas ... kenapa kamu bertahan?" tanya kedua wanita lainnya bersamaan.
"Karena aku terlalu cinta," sahutnya mengulum senyum.
"Hei! Tunggu aku!!"
.....
Di lain tempat, Vera tengah merasa gelisah. Pasalnya, saat ia sedang mengelap tangan Zeline dengan handuk basah, tiba-tiba layar di monitor menunjukkan sesuatu yang membuat dada Vera terasa sesak. Garis yang ada di layar tersebut awalnya bergelombang, akan tetapi tiba-tiba menjadi datar.
Vera bergegas memanggil dokter, untuk memeriksakan kondisi Zeline. Hingga beberapa tenaga medis pun dikerahkan.
"Dok, tolong bantu teman saya, Dok. Selamatkan Zeline, saya mohon Dok." Vera memohon pada dokter untuk menolong Zeline. Ia tidak sanggup jika harus kehilangan Zeline. Baginya, Zeline sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Dan Vera tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada wanita itu.
"Baiklah, Bu. Tapi untuk sekarang, saya minta ibu tunggu dulu di luar sementara kami berusaha untuk menyelamatkan nyawanya," ujar dokter tersebut.
Vera menganggukkan kepalanya, ia pun keluar dari ruangan tersebut dengan berlinang air mata. Mulutnya tak henti berdoa, meminta agar Zeline bisa diselamatkan.
"Tuhan tolong selamatkan Zeline. Meskipun aku banyak dosa, setidaknya kabulkan permintaan ku yang satu ini diantara banyak permintaan yang mu miliki. Selain sumber uang, Zeline juga sumber semangatku," gumam Vera seraya tersedu.
Vera mendudukkan dirinya di bangku tunggu. Mengusap wajahnya dengan kasar dan berharap agar mendapatkan kabar baik setelah ini.
Sementara di dalam sana, dokter berusaha dengan keras untuk menyelamatkan nyawa Zeline. Dengan bantuan defibrillator (alat kejut jantung), dokter berusaha keras untuk menyelamatkan Zeline.
Di luar sana, Vera benar-benar gelisah. Sesekali ia berdiri dan kembali terduduk lagi. Gadis itu benar-benar khawatir akan kondisi Zeline.
"Ayolah, Zeline. Sudah lebih dari dua Minggu kamu terbaring, kami dengan setia menunggu kamu di sini. Tolong untuk tetap bertahan. Jika kamu pergi, bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan Pak Arman? Kami sangat menyayangimu, Zeline. Tolong bertahanlah!" gumam Vera di sela-sela tangisnya.
Drrrtttt ....
Sesaat kemudian ponsel yang ada di saku Vera bergetar. Ia pun melihat panggilan dari Arman. Bisa ditebak jika pria itu menanyakan tentang kondisi Zeline, mengingat ia sudah cukup lama meninggalkan Zeline sedari tadi.
Vera langsung mengangkat panggilan tersebut, menempelkan benda canggih itu di salah satu telinganya.
"Pak Arman, ...." Vera kembali tersedu sembari sesegukan. Ia tak bisa menyimpan kesedihan ini dengan sendirinya.
"Ada apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Arman dari seberang telepon. Pria itu tampaknya cukup terkejut dan terdengar sangat mencemaskan Zeline.
"Zeline, Pak. Denyut nadi Zeline tadi menghilang, saat ini Zeline tengah ditangani oleh dokter," jelas Vera bak anak kecil yang menangis ditinggal oleh ibunya.
"Apa?! Baiklah kalau begitu saya akan segera ke sana," ujar Arman yang langsung mematikkan sambungan telepon tersebut.
Setelah menyimpan kembali ponsel ke dalam saku, tak lama kemudian terdengar suara pintu yang baru saja dibuka. Dengan segera Vera pun menghampiri sang dokter dan menanyakan tentang kondisi Zeline saat ini.
Dokter tersebut terlihat menggelengkan kepalanya, dan seketika membuat lutut Vera langsung melemas dan luruh ke lantai.
Bersambung ....