
Zeline dan juga Ezra tengah berjalan-jalan di atas hamparan pasir. Zeline melepaskan alas kakinya, dan memilih untuk menenteng sandalnya sembari sesekali kakinya terkena sapuan ombak di pantai tersebut.
Sementara Ezra, menatap Zeline yang tampak sangat cantik. Rambut panjangnya diterpa oleh semilir angin, sementara kulit putihnya terlihat begitu bersinar di bawah sinar mentari.
Sesekali gadis itu berlari kecil mendahului Ezra, dan lalu kemudian melemparkan pandangannya pada pria yang ada di belakangnya. Ezra ikut tersenyum saat gadis cantik itu tersenyum menatapnya.
"Ayo kejar aku!" tantang Zeline dengan wajah yang sedikit mengejek.
Ezra tersenyum miring sembari membuang mukanya selama beberapa detik. "Apakah kamu yakin?" tanya Ezra yang balik menantang gadis tersebut.
"Aku sangat yakin," balas Zeline tanpa keraguan sama sekali.
"Jika aku berhasil menangkap mu, apa yang akan aku terima darimu?" Ezra mencoba untuk menggunakan sistem tawar-menawar pada gadis itu.
Mendengar hal tersebut, membuat Zeline sedikit berpikir. Ezra mengira bahwa gadis itu tak akan menerima tawaran tersebut.
Namun, hal itu diluar prediksi Ezra. Justru gadis tersebut menyanggupi apa yang dikatakan oleh Ezra tadi.
"Baiklah. Jika kamu berhasil mendapatkan aku, maka aku akan menuruti apapun yang kamu inginkan," ujar Ezra.
"Benarkah?" tanya Ezra yang tampak tak percaya.
"Iya. Aku serius," jawab Zeline dengan penuh keyakinan.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Ezra pun bersiap-siap untuk mengejar Zeline. Begitu pula dengan Zeline yang sudah siap untuk berlari.
Sebelum Ezra melangkahkan kakinya, Zeline terlebih dahulu berlari sekencang mungkin. Bahkan, sandal yang dipegangnya pun terlepas begitu saja.
Ezra dengan cepat mengejar Zeline. Pria tersebut mengerahkan seluruh tenaganya untuk bisa mengejar gadis tersebut, agar keinginannya dapat terwujudkan oleh Zeline.
"Arggghhh ...." Zeline menggeram saat Ezra semakin lama semakin mendekat.
Hingga akhirnya, gadis itu pun memutuskan untuk menyerah saja. Meskipun dipaksakan berlari sekuat tenaga, Zeline juga masih bisa dikejar oleh pria tersebut.
"Aku menyerah!!" Zeline menghentikan langkah kakinya dan langsung menjatuhkan diri di atas hamparan pasir tersebut.
Sementara Ezra, pria itu benar-benar mengejar Zeline hingga akhirnya ia pun berhasil menangkap Zeline dalam keadaan gadis itu terjatuh. Ia mendekap Zeline, lalu kemudian menggelitik tubuh Zeline hingga ia meminta ampun karena merasa geli.
"Cukup! Baiklah, aku mengakui bahwa aku kalah. Tolong berhenti untuk menggelitikiku!" ujar Zeline sesekali tertawa hingga tak sadar, air matanya pun ikut keluar karena memang ia benar-benar merasa geli.
Ezra menghentikan aksinya. Ia berbaring tepat di samping Zeline sembari menatap langit yang berwarna biru itu.
"Apa permintaanmu?" tanya Zeline yang merasa penasaran akan keinginan pria di sampingnya.
"Bolehkah aku sedikit menawar lagi?" tanya Ezra.
"Menawar? Maksudmu?" Zeline memperlihatkan ekspresi kebingungannya. Ia memiringkan tubuhnya, menatap ke arah pria yang ada di sebelahnya.
"Bolehkah aku memintanya nanti saja. Setelah aku merasa sudah siap, maka akan kusebutkan keinginanku ini," ucap Ezra.
"Baiklah jika memang itu adalah pilihanmu," celetuk Zeline. Di dalam kepalanya masih berputar-putar tentang apa keinginan yang akan Ezra minta nantinya.
Pandangan mereka terarah pada segerombolan burung yang baru saja melintas di sana. "Lihatlah mereka! Mereka hidup berkelompok, aku sangat iri pada mereka yang bisa terbang bebas," celetuk Zeline.
Bersambung ....