40 Days With You

40 Days With You
Bab 58. Day 14 (Bagian 4)



Hari mulai merangkak malam. Mentari menyembunyikan sinarnya, dan bulan pun mulai malu-malu menampakkan diri.


Zeline hingga saat ini masih berada di dalam kamarnya. Ia memeluk lututnya seraya termenung. Kepingan ingatan mulai bermunculan. Dan perlahan ingatan yang hilang bak puzzle itu pun sudah mulai tersusun.


Gadis itu memikirkan akan arah takdirnya kelak. Entah, ia masih bimbang dengan rencana Tuhan nantinya. Zeline sudah tahu, bahwa dirinya tengah mengalami koma dan terbangun di alam bawah sadarnya.


"Jika suatu saat nanti, aku sadar dari koma. Berarti aku meninggalkan semua yang ada di sini. Ayah, ibu, dan juga Ezra," gumamnya pelan.


"Tuhan telah mengabulkan doaku, akan tetapi aku merasa sulit mengambil keputusan ini. Haruskah aku tetap tinggal? Akan tetapi aku tidak bisa menentukan takdirku sendiri," lanjutnya bermonolog.


Zeline menghela napasnya dalam. Memikirkan semua ini, membuat ia bersedih sekaligus senang. Dengan raganya mengalami koma, Zeline bisa berkelana di alam bawah sadarnya dan bahkan bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi, yang telah berpulang lebih dulu dari dirinya.


Saat ia tengah memikirkan hal tersebut, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Zeline pun beranjak dari tempatnya dan membukakan pintu tersebut.


Dari balik pintu itu, ia melihat ibunya menatap dirinya sembari mengulas senyum simpul. Zeline pun membalas senyuman itu dan membiarkan pintu terbuka lebar, mempersilakan sang ibunda masuk ke dalam kamarnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Nak?" tanya ibu Zeline berjalan menuju ke kasur sang anak dan mendudukkan bokongnya di sisi tempat tidur tersebut.


"Tidak ada, Bu. Aku hanya bersantai dan memikirkan sesuatu," balas Zeline yang juga menjatuhkan bokongnya tepat di samping sang ibunda.


"Apa yang kamu pikirkan, Nak?" tanya ibu Zeline lagi, mengusap surai hitam panjang milik putrinya dengan lembut.


Zeline menghela napasnya dengan berat. Entah bagaimana ia harus menceritakan pada sang ibunda tentang kegundahannya saat ini.


Sang ibunda membalas tatapan Zeline dengan tenang dan teduh. Membuat Zeline tak bisa melupakan tatapan dari wanita yang telah melahirkannya itu.


"Nasib atau pun takdir seseorang itu, hanya Tuhan lah yang bisa mengubahnya," ujar ibu Zeline.


"Apakah kamu memikirkan tentangmu saat ini?" tanya ibu Zeline.


Zeline menganggukkan kepalanya, sesaat kemudian pandangannya menyendu, seakan menyiratkan sebuah kesedihan yang begitu mendalam.


"Nak, sesuatu yang hidup kelak akan mati. Dan manusia yang masih diberikan kesempatan untuk melihat dunia, berarti dia juga harus melanjutkan hidupnya," jelas ibu Zeline.


"Jika suatu saat nanti, takdirmu adalah meninggalkan kami, itu tandanya kamu harus melanjutkan hidupmu dengan baik. Tuhan itu maha adil, dengan kamu berada di sini, kamu bisa melepas rindu dengan kami yang telah mendahuluimu. Jarang sekali orang yang mendapatkan kesempatan seperti itu, Nak."


Mendengar penuturan ibu Zeline, membuat mata Zeline berkaca-kaca. Kesedihannya tak bisa dibendung lagi tatkala mendengar petuah yang disampaikan oleh ibunya itu.


Yang dikatakan oleh ibu Zeline memang benar adanya. Saat ini Zeline tengah diberikan sebuah kesempatan, bertemu melepas rindu pada orang-orang yang dicintainya, yang telah lebih dulu berpulang.


"Bu, bagaimana jika Zeline meminta hal yang sebaliknya. Bagaimana jika Zeline menginginkan untuk tetap tinggal di sini dari pada Zeline kembali ke raga Zeline?"


Bersambung ....