40 Days With You

40 Days With You
Bab 33. Day 2 (bagian 2)



Setelah cukup lama memilih baju, akhirnya Zeline pun menemukan baju yang cocok untuk ia pakai. Baju yang tak lain adalah pilihan ibunya.


Dress cantik bermotif bunga berwarna kuning menjadi pilihannya. Terlihat begitu melekat sempurna di tubuh Zeline. Ia berputar-putar, menatap dirinya di pantulan cermin.


"Pilihan ibu sangat sempurna," gumam Zeline.


"Tentu saja," celetuk ibu Zeline tersenyum sembari memegangi kedua bahu putrinya.


"Lihatlah! Bahkan kecantikanmu itu menurun lewat ibu. Wajah kita benar-benar mirip," lanjut ibu Zeline yang langsung ditanggapi dengan sebuah anggukan oleh gadis tersebut.


Setelah cukup lama, Zeline melihat ke luar. Terdengar suara mobil yang baru saja tiba di depan rumahnya. Gadis tersebut mengintip dari jendela kamarnya, dan benar saja, itu adalah sosok Ezra. Melihat hal tersebut, membuat Zeline langsung mengembangkan senyumnya.


"Turunlah! Ezra sudah datang," ucap ibu Zeline yang berada di belakang putrinya, ikut mengintip melalui jendela kaca tersebut.


Zeline pun bergegas turun, hatinya langsung berbunga-bunga melihat kedatangan Ezra. Entah mengapa, ia merasa begitu bahagia. Perasaan ini, seakan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ada sesuatu yang istimewa dalam dirinya setelah bertemu dengan Ezra. Meskipun yang dikatakan oleh kedua orang tuanya, pria itu adalah tunangannya. Akan tetapi bagi Zeline, ini adalah sesuatu yang baru baginya. Separuh ingatannya hilang, akan tetapi ia merasa tidak merasa rugi akan hal itu. Kehidupan saat ini merupakan sesuatu yang amat berkesan baginya.


Zeline menuruni anak tangga hingga di tingkat terakhir. Ia melihat Ezra yang tengah berbincang bersama dengan ayahnya. Zeline memperhatikan Ezra dengan seksama. Pria itu terlihat tampan dengan setelan berwarna putih. Satu hal yang menarik tentang Ezra, pria ini selalu mengenakan setelan berwarna putih, seakan warna itu merupakan warna yang ia sukai.


Pria itu tersenyum melihat Zeline. Senyum yang mampu menghipnotis Zeline, membuat Zeline jatuh cinta lagi dan lagi. Senyuman yang amat manis itu sangat sulit untuk terlupakan.


"Nak, kenapa kamu melamun saja di situ. Ayo sini!" seru ayah Zeline sembari melambaikan tangannya.


Lamunan Zeline langsung buyar setelah mendengar suara ayahnya. Gadis itu pun melangkah mendekati kedua pria tampan berbeda generasi yang tengah duduk di sofa ruang tengah. Ia menjatuhkan bokongnya pada salah satu sofa single yang ada di sana.


"Jadi, kalian mau pergi ke mana?" tanya ayah Zeline pada Ezra.


"Saya berencana mau mengajak Zeline keluar rumah dan bersenang-senang, Om. Terserah Zeline sana hendak pergi kemana," ucap Ezra menimpali ayah Zeline sembari mengembangkan senyumnya, memperlihatkan kedua lesung pipinya itu.


"Ya sudah, kalau begitu tolong jaga Zeline ya," ujar ayah Zeline.


"Dan kamu, Nak. Bersenang-senanglah bersama dengan Ezra selagi diberikan waktu," sambung ayah Zeline menatap putri semata wayangnya.


Lagi dan lagi, Zeline mendapatkan sesuatu yang janggal dari ucapan orang tuanya. Namun, Zeline mencoba untuk berpikir positif. Mungkin saja, yang dikatakan oleh ayahnya adalah sekedar perumpamaan selagi Zeline diizinkan keluar bersama dengan Ezra.


Ezra pun beranjak dari tempat duduknya, ia berpamitan dengan ayah Zeline. Tak lama kemudian, ia melihat ibu Zeline yang baru saja turun dari tangga. Pria itu pun juga menghampiri ibu Zeline dan langsung menyalami tangannya untuk berpamitan.


"Hati-hati di jalan ya, Nak." Ibu Zeline mengucapkan kalimat tersebut sembari mengulas senyumnya.


"Iya, Bu."


Setelah berpamitan, kedua orang tersebut langsung masuk ke dalam mobil. Zeline sedikit menyipitkan matanya, melihat mobil yang tampak tak asing baginya.


"Ini mobilmu?" tanya Zeline secara gamblang kepada Ezra.


"Bukan. Aku hanya sedang memanfaatkan fasilitas yang ada," timpal Ezra seraya tersenyum. Pria itu pun langsung membukakan pintu untuk Zeline, mempersilakan gadis itu untuk masuk.


Zeline hanya menanggapi ucapan Ezra dengan sebuah gelengan kepala. Ia pun langsung masuk ke dalam mobil tersebut dan berucap terima kasih pada Ezra karena telah membukakan pintu untuknya.


Mobil yang di kendarai oleh Ezra melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan pagi menjelang siang itu.


Sesekali pandangan Ezra terarah pada gadis yang ada di sebelahnya. Ia mengulas senyumnya, sedikit tersipu melihat wajah cantik sang pujaan hati.


"Ada apa?" tanya Zeline yang menyadari Ezra tersenyum menatap ke arahnya.


"Tidak apa-apa. Hanya saja kamu terlihat sangat cantik hari ini," ujar Ezra yang mengucapkan kalimat tersebut secara gamblang.


Blushhh ....


Pipi Zeline pun terasa sedikit panas dan memerah. Gadis itu tampak sangat lucu, memegangi kedua pipinya karena tersipu akibat pujian dari pria yang ada di sebelahnya. Ia tertunduk sembari mengulum senyumnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun atas pujian yang dilontarkan oleh Ezra.


"Kita mau kemana?" tanya Ezra yang mencoba mengubah topik pembicaraan.


"Aku tidak tahu. Terserah kamu saja hendak membawaku kemana," timpal Zeline seraya menggelengkan kepalanya.


"Jangan katakan terserah ku. Melihatmu secantik ini, rasanya aku ingin menculikmu dan membawamu ikut bersamaku."


"Dan setelah itu, aku tak akan melepaskanmu," lanjut Ezra sembari mengerlingkan matanya dengan nakal.


Lagi dan lagi, wajah Zeline kembali merah merona akibat perkataan dari Ezra. Ingin sekali ia berteriak, ikhlas untuk diculik oleh pria setampan Ezra. Namun, ia masih mempunyai rasa malu untuk menyerukan kalimat tersebut.


"Bagaimana jika hari ini kita berkunjung ke taman hiburan saja? Apakah kamu setuju?" tanya Ezra yang menatap ke arah Zeline sekilas, lalu kemudian kembali menatap lurus ke arah jalanan.


"Oke, aku setuju," timpal Zeline sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ku kira kamu akan menolak ajakanku ke tempat tersebut. Dan akan mencecarku bahwa saranku tadi merupakan sedikit kekanak-kanakan," tutur Ezra seraya terkekeh.


"Tidak. Aku justru sangat menyukai wahana permainan di taman hiburan. Menurutku itu bukanlah hal yang kekanak-kanakan karena aku juga menyukainya," ucap Zeline sembari mengembangkan senyumnya.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan, mobil yang dikendarai oleh Ezra pun tiba di lokasi yang hendak dituju. Keduanya langsung memasuki area taman hiburan tersebut.


Zeline sedikit membeku, saat Ezra menggenggam tangannya, berjalan agar tetap bersama dengannya. Seolah pria itu tak ingin berjauhan dari Zeline sedetik pun.


Zeline tersenyum, hatinya serasa meletup-letup saat jari-jemari itu menaut pada jemarinya yang lentik dan menggenggamnya dengan begitu erat.


"Apakah kamu ingin menaiki wahana yang sedikit ekstrim?" tanya Zeline sembari menunjuk pada roller coaster.


Ezra dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Sebaiknya kita cari wahana yang aman saja untuk sementara ini. Suatu saat nanti, kamu boleh menaikinya jika kamu ingin," ujar Ezra.


"Lalu ... kita naik apa?" tanya Zeline.


"Ayo ikut aku!" ajak Ezra menarik tangan Zeline dan mengajaknya menuju ke wahana yang ia inginkan.


Bersambung ....


Gengs, maaf banget ya aku updatenya jarang. Soalnya othor lagi ada acara di rumah akhir bulan ini. Jadi, waktu buat nulis itu sedikit bgt. Nanti setelah urusannya selesai, othor langsung update rutin lagi. Insyaallah tgl 1 udah bisa update normal lagi (kalo nggak ada acara honeymoon ya😂🤭)