
Zeline tengah duduk sendirian sembari menatap langit. Gadis itu termenung, memikirkan tentang keputusan yang akan ia pilih nantinya.
"Andai ada keajaiban nantinya. Namun, mustahil hal itu terjadi lagi," batin Zeline.
Gadis itu memejamkan mata, sembari menghela napasnya dengan kasar. Merasa bahwa saat ini beban yang ada di pundaknya benar-benar sangat berat.
Sesaat kemudian, Zeline mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Zeline pun langsung mengarahkan pandangannya ke belakang, melihat pria yang ia cintai tengah berjalan menghampirinya sembari memegang dua mug yang ada di tangannya.
"Belum tidur?" tanya Ezra.
Zeline menganggukkan kepala, membenarkan ucapan yang dilontarkan oleh Ezra.
"Ada apa? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Ezra lagi.
"Tidak apa-apa. Kamu sendiri kenapa belum tidur?" Zeline memilih bertanya balik pada pria berlesung pipi tersebut.
"Aku hanya tidak bisa tidur saja. Oh iya, ini aku membuatkan kamu coklat panas. Ambi lah!" ujar Ezra yang langsung menyodorkan minuman tersebut pada Zeline.
"Terima kasih," ucap Zeline meraih minuman itu. Ia meniupnya sejenak, lalu kemudian menyesapnya dengan pelan.
"Bagaimana kamu tahu kalau aku berada di sini?" tanya Zeline.
"Aku melihatmu dari jendela kamar. Kebetulan aku juga tidak bisa tidur dan memutuskan untuk menemanimu saja di sini," jawab Ezra seraya mengendikkan bahunya.
Ezra menyesap kopi miliknya. Pria itu mengarahkan pandangannya ke depan. Seolah juga ia tengah memikirkan sesuatu.
"Akhir-akhir ini, aku melihatmu terlalu sering melamun. Aku berharap, kamu lebih santai menghadapi semua ini. Tidak usah terlalu dipikirkan apapun itu. Bersantai lah menikmati sisa harimu berada di sini," tutur Ezra.
"Jika bisa menikmati waktu untuk lebih bersantai, aku tentu akan memilih pilihan tersebut, akan tetapi aku tidak bisa melakukannya, saat pikiranku tengah kalut seperti ini," jelas Zeline seraya kembali menyeruput coklat panasnya.
Ezra mendengar ucapan Zeline, membuat hatinya juga merasa ikut sakit. Ditambah lagi dengan waktu yang semakin dekat dengan hari kepergian Zeline nantinya.
"Aku tahu, aku juga ikut memahami hal itu terjadi. Namun, tak bisakah kamu lebih memahami kami yang berada di sini? Melihatmu bersedih, tentu kamu juga akan ikut merasakan hal yang sama," tutur Ezra panjang lebar.
"Iya. Maafkan aku," ucap Zeline penuh sesal.
Keduanya kembali menyeruput minuman mereka masing-masing. Mereka masih terdiam, akan pembahasan apa lagi yang harus dibicarakan.
Sudah banyak hal yang dilalui oleh mereka berdua. Namun, tetap saja ketentuan dari Yang Maha Kuasa adalah hal yang paling utama.
"Apakah kedua orang tuamu sudah tidur?" hanya Ezra pada gadis yang ada di sebelahnya.
"Iya. Sepertinya mereka berdua sangat kelelahan," balas Zeline
Cukup lama keduanya berada di sana. Menikmati minumannya masing-masing dan setelah minuman tersebut habis di dalam gelasnya, keduanya saling menatap lalu kemudian melemparkan senyum terbaik mereka.
"Sudah malam, ayo waktunya kita tidur!" ajak Ezra mengajak wanita cantik yang ada di sebelahnya.
"Kamu saja duluan. Aku nanti akan menyusul sendiri," balas Zeline.
"Tidak! Aku tidak ingin meninggalkanmu di sini sendirian," ucap pria tersebut sembari mengusap puncak kepala Zeline
Bersambung....