
"Seharusnya Zeline tidak seperti ini, Bu. Seharusnya Zeline memperbaiki sikap Zeline, karena kehilangan ibu kemarin, benar-benar membuat Zeline merasa hancur," ujar Zeline.
Ibu Zeline tercengang mendengar penuturan dari anak gadisnya. "Nak, berarti kamu sudah mengetahuinya?" tanya ibunya dengan raut wajah yang penasaran.
Zeline melepaskan pelukannya, lalu kemudian menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
"Sebagian memoriku terhapus. Namun, aku bisa mengingat bagaimana saat aku kehilangan ibu kemarin. Aku juga tidak tahu, bagaimana aku ada di sini dan bertemu dengan ibu lagi. Maka dari itu, terkadang ada pikiran yang menggangguku. Seolah sebagian ingatan yang hilang datang kembali padaku. Terkadang membuat aku menangis dan bahkan tersenyum dengan tidak sadar," papar Zeline menjelaskan semuanya kepada ibunya.
Ibu Zeline hanya bisa tersenyum sembari mengusap surai panjang putrinya. Ia tak menyangka, jika Zeline telah mengetahui semuanya sedari awal. Dengan begitu, ibu Zeline merasa sedikit lega. Setidaknya ia tidak perlu menjelaskan banyak hal lagi jika seandainya takdir berkata lain.
"Bu, maafkan Zeline ya, Bu." Zeline menatap wajah ibunya dengan penuh sesal. Gurat kesedihan terpancar jelas di matanya.
Bu Zeline mengusap kembali puncak kepala putrinya. Ia menggelengkan kepalanya secara perlahan, " Tidak apa-apa, Nak. Ibu mengerti akan kebingungan yang kamu alami saat ini. Maafkan ibu, karena ibu tidak bisa menjelaskan semuanya. Sungguh, ini diluar kuasa ibu," papar ibu Zeline.
Zeline kembali memeluk tubuh ibunya dengan erat. Seolah memberitahukan pada wanita tua bermata sayu itu, bahwa ia tak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.
"Ada baiknya, Zeline juga tidak marah dengan Ezra. Ini semua bukan salah Ezra. Pemuda itu tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Sekarang Zeline harus bisa memaafkan nak Ezra ya, Sayang." ibu Zeline mengusap punggung putrinya, mencoba memberikan masukan kepada putri semata wayangnya itu untuk mau memaafkan Ezra.
Zeline tampak berpikir keras, jika memang di saat ini ia dipertemukan dengan seseorang yang telah tiada, lantas bagaimana denga Ezra? Apakah pria itu juga mengalami hal yang sama seperti kedua orang tuanya?
Setelah terlintas dipikirannya hal tersebut, membuat Zeline pun bergegas mengambil ponselnya. Ia melihat ada 20 panggilan dari Ezra yang tak ia respon sama sekali. Zeline menyesal! Ia sungguh bodoh! Kenapa gadis itu baru menyadarinya sekarang, disaat ia terpikir terjadi sesuatu dengan kedua orang tuanya.
Zeline mencoba menelepon Ezra. Namun, sayangnya nomor ponsel Ezra saat itu sedang tidak aktif. Zeline menggigit jemarinya, merasa khawatir. Ia kembali mengulang menekan tombol dial pada layar pipih tersebut, akan tetapi hasilnya tetap nihil juga. Hanya terdengar suara operator yang menyambut panggilannya.
"Ada apa?" tanya ibu Zeline menyadari kegelisahan putrinya.
"Aku tidak bisa menghubungi Ezra, Bu." Gadis itu menimpali pertanyaan ibunya.
"Tadi dia sempat menghubungiku, akan tetapi aku tidak mengangkat panggilan darinya karena rasa egoisku yang terlalu tinggi. Dan sekarang, aku menyesalinya, Bu."
"Jika aku dipertemukan dengan ayah dan ibu dengan keadaan ibu dan ayah yang sudah tiada. Lantas, bagaimana dengan Ezra? Pria ini ... apakah juga sama halnya dengan ibu? Aku tidak bisa mengingatnya sebelumnya. Namun, wajah Ezra tampak tak asing bagiku," ungkap Zeline panjang lebar.
Ibu Zeline hanya bisa menghela napasnya. Ia tidak bisa menjelaskan apapun pada putrinya itu. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, bahwa hal ini di luar kuasa dari ibunya.
"Bu, aku ingin menemui Ezra. Namun, aku tidak tahu dimana ia tinggal," ujar Zeline.
Ibu Zeline menggelengkan kepalanya. Hal tersebut tentu saja membuat Zeline merasa frustasi. Rasa kesal yang sedari tadi ia rasakan, tiba-tiba menghilang begitu saja setelah memikirkan tentang Ezra yang mungkin juga terjadi hal yang sama pada kedua orang tuanya. Namun, jika memang benar, bagaimana cara Ezra pergi? Kenapa Zeline tak mengingatnya sama sekali tentang pria tersebut.
"Sudah, kita tunggu saja. Nanti Ezra juga akan mengabarimu. Tidak usah terlalu dipikirkan," ucap ibu Zeline menepuk pundak putrinya, berusaha untuk menenangkan Zeline.
Zeline hanya bisa mengangguk pasrah. Ia berharap, jika semua yang ada di pikirannya itu tidak benar. Ia berharap, Ezra adalah salah satu pengecualian.
Zeline menatap ke arah jendela, berharap agar Ezra datang kepadanya. Dengan begitu, Zeline akan langsung mendekap tubuh Ezra dan meminta maaf pada pria tersebut karena sedari kemarin, Zeline selalu mengabaikannya.
.....
Hari pun beranjak malam. Zeline masih menunggu nomor ponsel Ezra aktif. Matanya memerah, sementara rasa khawatirnya terhadap pria itu semakin bertambah.
"Ku mohon, aktifkan ponselmu, Ezra. Aku sungguh menyesal atas kejadian kemarin," gumamnya penuh harap.
Zeline dengan setia menatap ponselnya yang masih menyala. Terlihat panggilan terakhir yang ia lakukan sebanyak 88 kali merupakan panggilan keluar untuk Ezra yang nomor ponselnya tak kunjung aktif.
TOKKK ... TOKKK ....
Zeline menatap ke arah pintu, kali ini tidak hanya ibunya yang datang ke kamarnya, ayahnya pun ikut serta menemui putrinya yang tengah mengurung diri di kamar sendirian.
"Apakah Ezra masih belum bisa dihubungi?" tanya ibu Zeline.
Zeline menggelengkan kepalanya. "Belum, Bu."
"Tunggu saja. Mungkin Ezra sedang ada kesibukan. Kita tunggu saja sampai besok," ucap ayah Zeline.
Zeline kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela. Ia berharap, jika Ezra segera datang menemuinya. Setelah melihat Ezra mungkin rasa cemasnya akan sedikit berkurang.
"Ku mohon, segeralah datang, Ezra." Zeline berbicara di dalam hatinya.
Bersambung ....