
Mobil ambulance baru saja tiba di rumah sakit. Zeline berbaring di atas brankar, keluar dari kendaraan tersebut bersama dengan Arman dan juga Vera.
Vera tak henti-hentinya menangis, melihat sang artis yang masih menutup mata, sementara darah terus mengalir di kepalanya.
"Zeline, tolong buka matamu Zeline! Tolong jangan seperti ini," racau Vera seraya mendorong brankar menuju ke unit gawat darurat bersama dengan beberapa tenaga medis lainnya.
Arman juga ikut mendorong brankar tersebut. Ia menatap wajah Zeline yang pucat, dalam hatinya, berharap untuk kesembuhan Zeline. Ia tak sanggup jika melihat gadis pujaannya terbaring lemah seperti ini.
Sesampainya di depan pintu unit gawat darurat, Vera dan Arman pun melepaskan genggamannya pada brankar tersebut. Membiarkan Zeline untuk segera ditangani oleh dokter.
"Tolong bertahanlah, Zeline. Ku mohon! Jika kamu sembuh nanti, kamu boleh memarahiku sesuka hati. Kamu boleh memakan makanan apapun yang kamu inginkan. Asalkan kamu sembuh seperti sedia kala," tutur Vera seraya menangis.
Arman mendekati gadis dengan bahu yang bergetar itu. Menepuk-nepuk punggung Vera, untuk menenangkannya.
"Kita berdoa saja, semoga Zeline bisa selamat," ucap Arman.
Vera menatap Arman, lalu kemudian menganggukkan kepala dan menghapus air matanya. Ia memilih untuk menjatuhkan bokongnya di kursi. Mengusap wajahnya dengan kasar karena gadis itu masih tampak gelisah dan berharap jika Zeline baik-baik saja.
Sementara di dalam ruangan sana, Zeline sedang ditangani oleh dokter. Beberapa alat medis terpasang di tubuhnya. Gadis itu masih menutup mata dalam kondisi tak sadarkan diri.
Bippp ... Bippp ... Bippp ....
Suara elektrodiagram terdengar jelas. Semua orang sibuk memfokuskan dirinya, melakukan penyelamatan pada gadis cantik yang terbaring lemah itu.
Dokter yang ada di sana berusaha semaksimal mungkin, untuk melakukan upaya penyelamatan pada Zeline.
Di luar, Vera menatap kosong pada pintu yang belum juga terbuka. Sementara Arman, pria itu sedari tadi ke sana dan kemari menunggu dokter keluar dari rumah sakit.
Tak lama kemudian, terlihat Lita datang. Namun, gadis itu tidak sendirian, melainkan bersama dengan Gery dan juga Bu Lasmi.
Vera mengernyitkan keningnya, entah mengapa Lita datang bersama pria yang menyebabkan Zeline bersedih. Vera menduga hal itu terjadi, karena setelah pulang bersama Gery, Zeline lebih banyak murung dan juga menangis.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Vera cukup sarkas.
"Aku ingin melihat Zeline," timpal Gery singkat.
"Kemarin ... kenapa dia menangis setelah pulang bersamamu. Awalnya, Zeline baik-baik saja. Namun, setelah kamu mengantarkannya pulang, Zeline lebih banyak diam dan menangis. Tolong jelaskan padaku!" tukas Vera memukul dada Gery.
Arman dan Lita langsung mencoba untuk menjauhkan Vera dari Gery. Lita memeluk Vera, berusaha untuk menenangkan gadis itu.
"Maafkan ibu. Ini semua bukan salah Gery. Kalau mau marah, kalian boleh marah dengan ibu saja. Karena ibu yang telah membuat Zeline bersedih." Bu Lasmi membuka suara. Ia menangis penuh sesal, tak pernah menyangka jika semuanya akan menjadi seperti ini.
"Kenapa? Bisakah ibu menjelaskannya lebih spesifik? Aku ingin tahu, karena bagiku Zeline sudah ku anggap sebagai adikku sendiri," ucap Vera sembari menyeka air matanya yang kembali jatuh.
Bu Lasmi pun mulai menjelaskan semuanya. Tentang Ezra yang sudah lama menjadi penggemar Zeline, mengirimkan mawar pada Zeline, hingga pria itu meregang nyawa karena kecelakaan seusai menyusul ke lokasi syuting untuk memberikan mawar pada Zeline.
Mendengar semua penjelasan itu, membuat Vera menutup mulutnya tak percaya. Ia tak bisa menyalahkan ibu dari Gery, karena memang Zeline lah yang menemui mereka terlebih dahulu. Mendengar si pengirim bunga yang telah tiada, membuat Vera juga cukup terkejut.
Arman mendengar semua itu, hanya bisa menundukkan kepalanya. Kini ia tahu, mawar yang diinginkan oleh Zeline bukanlah mawar darinya, melainkan mawar dari pria lain, pria yang rela mengorbankan nyawanya hanya untuk bertemu Zeline.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya dokter pun keluar dari ruangan tersebut. Vera dan yang lainnya langsung menghampiri sang dokter, untuk menanyakan kabar terkini tentang Zeline.
"Bagaimana kondisinya dok? Zeline tidak apa-apa kan?" tanya Vera.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, karena terjadi benturan keras di kepala, menyebabkan pasien dalam keadaan kritis dan mengalami koma," jelas dokter.
Mendengar hal itu, membuat Vera tak mampu menopang berat tubuhnya. Untung saja, ada Gery yang langsung menahan Vera hingga gadis itu tidak terjatuh.
Namun, sang dokter hanya memberikan respon dengan sebuah gelengan kepala. "Kita hanya bisa menunggu keajaiban yang mampu membuatnya melewati masa kritis," jelas dokter tersebut.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," lanjut dokter yang langsung meninggalkan tempat itu.
Vera mengusap wajahnya dengan kasar. Kali ini, ia benar-benar terpukul mendengar kabar Zeline yang tengah mengalami kritis.
Gadis itu masuk ke dalam ruangan dimana Zeline di rawat. Melihat Zeline terbaring dengan dibantu beberapa alat medis yang menjadi penopang hidupnya, membuat Vera merasa hancur seketika.
Air mata gadis itu jatuh, ia memegangi tangan Zeline, lalu kemudian menangis tersedu. "Sadarlah Zeline, apakah kamu tega membuatku bersedih seperti ini? Aku lebih senang membangunkan mu tidur saat kamu kesiangan. Tetapi tidak dengan melihatmu seperti ini," ujarnya kembali tersedu.
Ia melihat beberapa luka yang sedikit membekas di wajah cantik Zeline. Kepala gadis itu diperban, dan bahkan kini Zeline dibantu bernapas dengan ventilator.
Yang lain melihat kondisi Zeline juga ikut bersedih. Terutama Arman, yang juga merasa hancur. Beberapa panggilan penting dari ponselnya, ia lewatkan begitu saja. Dan bahkan pria itu mematikan ponselnya hanya agar fokus menjaga Zeline.
"Aku lebih baik melihatmu bersama dengan pria lain, dari pada harus melihatmu terbaring seperti ini," batinnya menatap tubuh Zeline yang terbaring lemah di atas brankar.
Gery memegangi bahu Bu Lasmi yang terlihat bergetar. Kesedihan yang kemarin belum usai, kini datang lagi kesedihan baru. Di mana gadis yang dicintai oleh mendiang putranya tengah mengalami kritis akibat kecelakaan hebat yang menimpanya.
"Sadarlah, Nak. Kamu pasti bisa melalui semua ini," batin Bu Lasmi dengan air mata yang terus saja mengalir.
Di depan rumah sakit, banyak wartawan yang ingin tahu keadaan terkini Zeline. Dengan terpaksa, Arman mengerahkan penjagaan ketat di rumah sakit tersebut. Ia tak ingin, para wartawan itu membuat kegaduhan dan membuat kondisi Zeline semakin parah.
"Kalian pulanglah! Biarkan aku yang menjaga Zeline," ujar Vera berbicara dengan Lita dan juga Arman. Sementara Bu Lasmi dan juga Gery sudah pulang sejak sore tadi.
"Kamu saja yang pulang. Lihatlah! Wajahmu terlihat sangat lelah. Biar aku saja yang menjaganya," ucap Arman.
"Tetapi Pak, aku bahkan kehilangan arah melihatnya seperti ini. Aku benar-benar tidak sanggup melakukan apapun dan hanya ingin menjaganya, berharap agar dia segera sadar," balas Vera yang kembali mengeluarkan air mata.
Air mata gadis itu sudah banyak tertumpah, hanya untuk menangisi Zeline. Baginya, Zeline adalah satu-satunya yang ia miliki. Vera sama seperti Zeline yang juga hidup sebatang kara. Dan kini, Zeline terbaring lemah, membuatnya kembali merasa sendirian lagi.
"Aku tahu, aku juga merasakan hal yang sama padamu. Aku mencintai Zeline meskipun Zeline tak mencintaiku. Namun, kita harus tetap dalam keadaan sehat untuk menjaganya," ujar Arman memberikan masukan pada Vera.
Vera pun menganggukkan kepala, ia menuruti ucapan Arman dan memilih untuk pulang ke rumah. Kedua wanita itu berpamitan dengan Arman dan juga Zeline meskipun gadis tersebut tak memberikan respon apapun.
Sepeninggal Vera dan Lita, kini tinggal lah Arman sendirian. Ia meraih jemari Zeline, membawanya ke pipi pria itu. Saat sendirian menjaga Zeline, Arman berani menitikkan air matanya.
"Tolong bangunlah, Zeline. Aku sudah siap menerima penolakanmu asalkan kamu segera sadar. Tolong, aku benar-benar tidak sanggup melihatmu seperti ini," ungkap Arman dengan bahu yang bergetar. Ia beberapa kali menciumi tangan Zeline sembari menangis.
...****************...
"Zeline ... Bangunlah, Nak!"
Zeline berada di atas kasur yang nyaman itu pun langsung menggeliat, mendengar suara lembut yang menyapa telinganya. Suara yang amat ia rindukan, yang sudah lama tak terdengar membangunkan tidurnya.
Perlahan, Zeline pun terbangun, samar-samar ia melihat sosok wanita yang tengah tersenyum menatap ke arahnya.
Zeline mengubah posisinya menjadi duduk, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Seorang wanita dengan suara dan senyuman lembut itu membuat Zeline menitikkan air matanya.
"Ada apa, Nak? Kamu kenapa menangis, Sayang?" tanyanya lembut.
"Apakah aku sedang bermimpi? Apakah ini nyata?" tanya Zeline sembari menitikkan air matanya.
"Kamu sepertinya mengigau, ayo lekas bersihkan dirimu dan segera sarapan. Ayah menunggumu di bawah!" ucapnya.
Bersambung ....