40 Days With You

40 Days With You
Bab 53. Day 12 (Bagian 2)



Mendengar suara Zeline yang lantang, ayah dan ibu Zeline serta Ezra langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Dan benar saja, mereka melihat Zeline yang tampak kacau sembari mengacak-acak rambutnya.


"Zeline, ..." gumam ibu Zeline yang langsung beranjak dari tempat duduknya.


Begitu pula yang lainnya, mereka langsung bergegas berlari ke arah Zeline. Ayah Zeline mencoba menenangkan putrinya, ibunya memeluk Zeline sembari menangis. Sementara Ezra, pria tersebut hanya bisa memegang tangan Zeline, menguatkan sang kekasih karena hanya ini saja yang bisa ia lakukan.


"Pa, kenapa Zeline harus pergi, Pa? Lalu bagaimana dengan kalian? Bagaimana aku bisa meninggalkan kalian untuk yang ke dua kalinya," racau Zeline.


Mendengar hal tersebut, ibu Zeline langsung menggelengkan kepalanya sembari menangis. Ia menghapus air mata yang mengalir deras, membasahi wajah putrinya.


"Tidak usah memikirkan hal itu, Sayang. Lagi pula, sebenarnya kami tidak tahu apa-apa mengenai hal ini. Semua itu adalah rencana yang Maha Kuasa, Nak." Ibu Zeline mengusap lembut air mata yang mengalir membasahi pipi putrinya.


"Zeline mendengar semuanya, Bu. Ayah berkata demikian. Zeline mendengarnya," ujar Zeline.


"Maafkan ayah, Nak. Yang tadi itu ... ayah hanya asal bicara saja. Sebaiknya tidak usah terlalu dipikirkan. Ayah mengajak kamu ke sini untuk bersenang-senang, bukan bersedih seperti ini," ucap ayah Zeline memberikan penjelasan pada putrinya.


Sementara Ezra, pria ini tak mengatakan apa pun. Lidahnya seakan kelu hanya sekedar menenangkan gadis yang ada di hadapannya. Ia merasa sangat keberatan dengan semua ini. Dan satu hal yang ia yakini, bahwa Zeline pasti nanti akan pergi meninggalkannya dan memilih untuk melanjutkan hidupnya lagi.


Baru saja Ezra merasakan kebahagiaan bersama Zeline, dan sekarang ia harus kembali dipisahkan dengan gadis yang sangat ia cintai.


Zeline pun di bawa oleh ibunya ke ruang tengah. Beberapa kali ia menenangkan putrinya itu, memberikan segelas air putih untuk Zeline.


Zeline melirik ke arah Ezra yang sedari tadi hanya diam membisu. Pria itu tak seperti kemarin, wajahnya berseri-seri. Kali ini, Ezra lebih banyak melamun. Dan Zeline bisa menebak hal apa yang tengah dipikirkan oleh pria berlesung pipi itu.


Ayah Zeline memperhatikan Zeline yang sedang menatap Ezra. Dengan cepat, ayah Zeline pun sedikit menendang kaki Ezra dengan pelan, memberikan kode pada pria yang ada di sampingnya untuk tetap memperlihatkan wajah baik-baik saja.


Mengetahui hal tersebut, Ezra langsung mengulas senyumnya. Ia pun beranjak dari tempat duduk, sembari memegangi perutnya.


"Om, Tante, Ezra merasa lapar sedari tadi melamun. Apakah kita bisa langsung sarapan?" tanya Ezra yang sengaja memecahkan suasana haru tersebut. Ia beralasan lapar agar Zeline tak berpikir yang macam-macam padanya.


Namun, Zeline adalah seorang aktris yang baik. Ia sangat tahu membaca ekspresi wajah itu. Meskipun Ezra berusaha keras untuk tidak memperlihatkannya, akan tetapi Zeline masih mampu menebaknya.


"Wah, sama. Om juga merasa lapar. Zeline, ayo kita sarapan dulu, Nak. Apakah kamu tidak merasa kasihan pada Ezra dan juga ayah serta ibu. Kami sedari tadi menunggumu turun sampai harus menahan lapar," tutur sang ayah yang juga ikut berperan dalam sandiwara yang dibuat oleh Ezra.


Ibu Zeline menganggukkan kepala. Mendukung kedua pria berbeda generasi tersebut. Hingga akhirnya, Zeline pun mengangguk, beranjak dari tempat duduknya dan langsung menuju ke meja makan. Semua orang saling memandang penuh arti. Lalu mengikuti langkah Zeline yang sudah lebih dulu menuju ke dapur.


Bersambung ..