40 Days With You

40 Days With You
Bab 22. Mawar Yang Dirindukan



Mobil Van yang membawa Zeline dan yang lainnya pun tiba di lokasi syuting. Saat di parkiran, Zeline melihat Arman yang tengah menunggu Zeline sembari membawa satu buket bunga mawar.


"Bukankah itu Pak Arman? Baru saja tadi kita bahas, dan orangnya pun langsung muncul di sini," celetuk Vera berkata pada Zeline.


Namun, Zeline lebih memilih diam. Ia tak menimpali ucapan Vera dan justru memilih untuk segera turun dari mobil tersebut.


Arman cukup terpana, melihat gadis cantik yang baru saja keluar dari mobil Van tersebut. Zeline yang tampak cantik dan modis hari ini. Meskipun wajahnya sedikit memiliki kesan yang agak judes, akan tetapi gadis itu sangat ramah dan baik ke semua orang.



Tanpa aba-aba, Arman pun datang menghampiri Zeline sembari memperlihatkan senyuman terbaiknya.


"Hai," sapa pria itu dengan wajah yang sumringah.



Zeline tersenyum, membalas sapaan dari pria tampan yang ada di hadapannya. Arman langsung memberikan bunga yang ada di tangannya pada Zeline.


Zeline memandang ke sekitar, tentu saja saat ini dirinya tengah menjadi sorotan semua orang. Menyadari bahwa Zeline yang tengah mengedarkan pandangannya menatap ke segala arah, membuat mereka pun seolah tak memperhatikan Zeline dan kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing.


"Terima kasih," ucap Zeline menerima bunga tersebut .


"Kamu tidak berangkat ke kantor?" tanya Zeline yang hanya sekedar berbasa-basi, ia tidak mungkin langsung mengatakan bahwa dirinya merasa tak nyaman dengan keberadaan Arman saat ini.


"Ini baru mau berangkat. Tadi mampir sebentar untuk melihatmu. Apakah pipimu masih sakit?" tanya Arman. Pria itu tak segan-segan menunjukkan perhatiannya pada Zeline di depan semua orang.


"Jangan biarkan orang lain menampar wajahmu begitu saja," lanjut Arman.


"Tidak apa-apa, lagi pula ini sudah baikan," ujar Zeline membalas ucapan Arman seadanya.


Mendengar balasan dari Zeline, membuat Arman pun sedikit canggung. Ia memasukkan kedua tangannya di dalam saku dan mencari topik pembicaraan lainnya.


"Apakah kamu sudah sarapan?" tanya Arman lagi.


"Iya, sudah." Zeline menimpalinya sembari mengulas senyum.


Kali ini Arman benar-benar menyerah. Ia sudah kehabisan kata-kata untuk berbicara dengan gadis yang ada di hadapannya. Pria itu menyingkap jasnya, menatap jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya.


"Baiklah, kalau begitu aku berangkat ke kantor dulu. Kamu hati-hati kerjanya," ujar pria itu yang hanya ditanggapi dengan sebuah anggukan pelan oleh Zeline.


Arman berlalu dari hadapan Zeline. Gadis itu pun masih menghargai Arman dengan menatap kepergiannya. Setelah Arman meninggalkan lokasi syuting, beberapa orang menyoraki Zeline dengan sedikit menggodanya.


"Kalian sangat cocok!"


"Aku mendukungmu dengan Pak Arman!"


Beberapa orang menyerukan kalimat tersebut. Zeline hanya menanggapinya dengan tersenyum simpul. Ia menatap mawar yang ada di tangannya.


"Aku merindukan mawar darinya. Kenapa sudah beberapa hari ini aku tak kunjung menerima buket dari pria itu. Ku harap, suatu saat nanti aku bisa bertatap muka langsung padanya dan mengucapkan banyak terima kasih karena telah mendukungku selama ini," batin Zeline.


Zeline berjalan menuju Vera. Ia memberikan buket bunga tersebut pada sang manajer karena dirinya harus berkumpul dengan tim yang lain, untuk melaksanakan syuting.


"1, 2, 3, action!" Seru seorang pria yang memegang clapper board.


Zeline pun memulai adegan dimana saat dirinya tengah beradu akting dengan salah satu aktor pria. Zeline memperlihatkan tatapan angkuhnya pada pria tersebut. Sorot mata yang tajam dan sedikit penuh dendam.


"Apakah kamu yakin bisa mengalahkanku?" ujar gadis tersebut mengucapkan kalimat yang sesuai dengan naskah.


"Tentu saja. Jika aku kalah, kamu boleh memperlakukanku layaknya seperti budakmu. Namun, jika aku menang, kamu lah yang harus menuruti semua ucapanku!" ucap aktor tampan yang merupakan lawan main Zeline.


"Baiklah."


"Deal?"


"Cut!!" seru sang sutradara setelah pengambilan adegan tersebut dan dilanjutkan dengan adegan lainnya.


Waktu pun berjalan dengan begitu cepat, tak terasa hari sudah mulai malam. Semua orang bersiap untuk pulang. Beberapa kru membereskan peralatan syuting yang ada di lokasi.


Vera menghampiri Zeline yang tengah berjalan ke arahnya. Seperti biasa, Vera selalu memuji akting Zeline dan mengatakan bahwa wanita itu pandai dalam memainkan perannya.


"Apakah ada kiriman buket bunga hari ini?" tanya Zeline yang tiba-tiba.


Vera mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menelaah ucapan yang baru saja dilontarkan oleh gadis yang ada di hadapannya.


"Buket bunga? Tentu saja. Bukankah tadi Pak Arman memberikannya secara langsung padamu? Aku menaruhnya di dalam mobil," jelas Vera.


Sesaat kemudian, Zeline menggelengkan kepalanya. "Bukan itu yang ku maksud," ujar gadis tersebut.


"Lalu?" Vera mengerutkan dahinya.


"Bunga yang biasa aku terima, dari pria misterius itu," jelas Zeline.


Mendengar ucapan Zeline, Vera pun langsung mengangguk paham. "Sudah cukup lama kita tidak mendapatkan bunga dari si pengirim misterius itu," ujar Vera.


Zeline menghela napasnya, seolah ia merasa kecewa karena dirinya terlupakan begitu saja. Buket bunga beserta kata-kata manis itu merupakan vitamin baginya. Membantu dirinya untuk tetap bersemangat dalam melakukan pekerjaannya.


Vera melihat gurat kekecewaan di wajah Zeline. Membuat sang manajer pun tak tega melihat gadis tersebut dalam keadaan seperti itu.


"Mungkin beberapa hari ini pria misterius yang kamu maksud itu sedang sibuk dengan urusannya. Siapa tahu besok dia akan kembali mengirimkan bunga itu padamu. Kita tunggu saja," ujar Vera berusaha menenangkan Zeline.


"Iya. Semoga saja yang kamu katakan itu memang benar," ucap gadis tersebut.


"Ayo semangat! Jangan memasang wajah yang muram seperti itu. Aku yakin, dia tidak akan pernah melupakanmu," tutur Vera.


Zeline pun menganggukkan kepalanya sembari menarik kedua sudut bibirnya. Melihat hal tersebut, tentu saja membuat Vera merasa senang. Ia merangkul Zeline sembari berjalan menuju ke mobil.


"Kenapa kamu tinggi sekali? Coba berikan separuh tinggimu itu padaku," gerutu Vera yang tampak kesulitan merangkul bahu Zeline.


"Sebaiknya kamu minum susu yang banyak, supaya tinggimu sedikit bertambah," celetuk Zeline sembari terkekeh geli.


"Hei, Nona! Aku lebih tua darimu! Ku harap kamu jangan terlalu mengejekku!" ujar Vera memasang wajah masamnya sembari bergurau.


"Kita hanya beda satu tahun!" jelas Zeline hingga keduanya pun kembali tertawa secara bersamaan.


...****************...


Keesokan harinya, Zeline masih bergumul di dalam selimutnya. Dengan mata yang terpejam, ia menikmati tidurnya yang begitu pulas.


Tak lama kemudian, ia mendengar suara Vera yang sedikit melengking, membangunkan gadis itu dari tidurnya.


"Zeline!! Bangunlah! Zeline!!" seru Vera masuk ke dalam kamar Zeline.


Bukannya langsung bangun, Zeline justru tambah memejamkan matanya dan menutup telinganya menggunakan bantal.


Sontak Vera pun langsung mengambil bantal Zeline. "Hei bangunlah!! Kamu tahu, berita tentangmu pagi ini cukup membuat gempar banyak orang!" seru Vera.


Mendengar hal tersebut, Zeline pun langsung membuka matanya perlahan. Ia mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk.


"Apa maksudmu barusan?" tanya Zeline yang masih tak paham akan ucapan Vera.


"Ada artikel yang menuliskan tentangmu. Ini lihatlah!" Vera memperlihatkan layar ponselnya pada Zeline.


Membaca judul dari artikel tersebut, membuat Zeline pun membulatkan matanya dan menutup mulutnya tak percaya.


Bersambung ....