
Keesokan harinya, Zeline terbangun dari tidurnya. Gadis itu tertegun, menemukan dirinya seorang diri. Tak ada lagi suara lembut ibunya yang menyapa telinga, membuat Zeline panik sekaligus takut.
Ia langsung turun dari tempat tidurnya, lalu kemudian berjalan menuju ke dapur. Gadis itu bernapas dengan lega, ketika melihat ibunya yang berada di dapur tengah mencuci piring.
Zeline tersenyum, perlahan ia berjalan mendekati ibunya dan memeluk wanita paruh baya itu dari belakang.
"Kamu baru bangun, Nak?" tanya ibu Zeline mendapati anak gadisnya memeluk dirinya dari belakang.
"Hmmm ...." Zeline menimpali ucapan ibunya sembari menganggukkan kepala.
"Aku kira ibu akan membangunkan ku. Aku takut, jika aku tidak bisa melihat ibu lagi," ucap Zeline dengan nada yang sedikit manja.
"Ck! Anak ini selalu saja berbicara yang aneh-aneh. Sebaiknya kamu mandi dan bersiap, bukankah nanti Ezra akan kemari?" tanya ibu Zeline menepuk punggung putrinya dengan lembut.
"Iya." Zeline mengangguk.
"Kalau begitu, bersiaplah! Habiskan waktu kalian dengan bersenang-senang. Kita tidak tahu, kapan waktu yang akan memisahkan. Sebaiknya segeralah mandi dan bersiap!" ujar ibu Zeline.
Entah mengapa, dari ucapan Ezra semalam, hingga kini ucapan ibunya juga ikut membuat Zeline menjadi bingung. Kenapa orang-orang selalu berkata seolah mereka akan kembali berpisah.
Bagi Zeline, kehilangan keluarganya kemarin adalah sebuah mimpi buruk. Dan kehidupannya kali ini, ia ingin tetap bersama dengan orang-orang yang ia cintai tanpa kembali merasakan kesedihan.
Teruntuk Ezra, gadis itu sendiri masih sangat bingung. Kemunculan Ezra dan informasi yang di dapat dari orang tuanya, yang mengatakan bahwa Ezra adalah tunangannya.
"Eh, kenapa kamu melamun, Zeline. Segeralah mandi atau ibu siram kamu pakai air cuci piring ini," tegur ibunya dengan sedikit gurauan.
Zeline pun berjalan ke atas, menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri. Meskipun banyak sekali pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya, akan tetapi gadis itu memilih untuk memendamnya saja.
Seperti apa yang dikatakan oleh Ezra sebelumnya, bahwa Zeline tidak seharusnya terlalu berpikir untuk mencari jawaban. Kelak ia akan mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan itu, setelah ia benar-benar siap menerima kenyataannya.
Seusai membersihkan tubuhnya, Zeline langsung mencari baju yang paling cantik, yang akan ia kenakan pergi bersama Ezra nanti.
Ada banyak baju berserakan di atas tempat tidurnya, baju-baju yang ia bongkar dari lemari hanya untuk dicoba satu persatu.
"Yang ini terlalu kaku. Terlihat seperti ingin mendatangi acara formal saja," gumam Zeline.
Zeline meletakkan baju yang ada di tangannya, lalu kemudian beralih mengambil baju yang lainnya. Menempelkan di tubuhnya dan berdiri di depan cermin berukuran besar, menatap dirinya dari pantulan cermin tersebut.
"Ck! Bagaimana bisa semua baju koleksiku terlihat jelek seperti ini," cecar Zeline.
Sesaat kemudian, terdengar suara pintu di buka. Ibu Zeline datang melihat baju-baju yang berserakan di atas tempat tidur. Tentu saja hal itu membuat ibu Zeline menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan anak gadisnya yang akan pergi berkencan, akan tetapi membongkar semua isi lemarinya.
"Astaga Zeline, apa-apaan ini? Kenapa kamarmu seperti kapal pecah?" ucap ibunya.
"Hehe ... Zeline bingung Bu, hendak memakai baju apa untuk pergi keluar bersama Ezra. Rasanya semua baju Zeline tidak ada yang cocok sama sekali," balas Zeline seraya memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Ckckck!! Sini biar ibu saja yang memilihkan baju untukmu. Omong kosong apa satu lemari tak ada yang cocok untuk dipakai," ujar ibu Zeline yang langsung masuk ke dalam kamar putrinya.
Bersambung ....