
Saat ini, Zeline dan Ezra tengah berjalan-jalan di sekitar villa. Udara di sana terasa sangat sejuk, karena ada banyak pohon rindang yang membuat lingkungan yang ada di sana tampak asri.
Awalnya, kedua orang tersebut tak berbicara. Mereka hanya menyusuri jalan sembari sesekali saling menatap lalu melemparkan senyum simpul.
Pikiran yang kemarin, masih saja membuat isi kepala Zeline penuh. Hingga akhirnya, gadis itu pun menoleh saat melihat Ezra yang tak lagi berjalan bersamanya.
Cekrekkk ...
Suara kamera terdengar jelas, membuat Zeline pun menatap Ezra secara seksama. Pria tersebut tengah mengambil beberapa gambar sebuah pohon, atau pun bunga-bunga kecil yang tumbuh di sekitar tempat tersebut.
Melihat hal itu, membuat dada Zeline kembali merasa sesak seketika. Sekelebat ingatan muncul begitu saja. Saat Zeline tersedu di sebuah ruangan, telatnya di depan banyak potret tentang dirinya.
"Ingatan apa lagi ini?" gumam Zeline dengan bola mata yang menatap ke sana dan kemari.
Gadis itu memilih berbalik, melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Seraya memegangi dadanya, Zeline berjalan dengan air mata yang mulai menetes.
Air mata itu jatuh begitu saja. Seolah sebagian ingatan yang baru saja muncul secara tiba-tiba merupakan ingatan yang begitu menyakitkan.
"Aku tidak tahu pasti apa yang telah terjadi. Namun, aku tahu jika kamu adalah bagian dari lukaku. Hingga saat ini, dadaku masih terasa sakit setiap kali melihatmu. Entah mengapa ... rasanya sesak sekali," batin Zeline dengan kaki yang masih terus melangkah.
Di waktu yang bersamaan, Ezra baru saja selesai mengambil beberapa gambar dengan menggunakan kamera yang ada di tangannya. Ia mengarahkan pandangannya pada Zeline yang sudah berjalan dengan jarak cukup jauh darinya.
"Kenapa jalannya cepat sekali," gumam Ezra kembali melanjutkan langkah kakinya.
Sementara Zeline, gadis itu terus menangis. Dan bahkan, air matanya mengalir semakin deras, bak ditumpahkan begitu saja. Ia mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat ke arahnya. Dengan cepat, Zeline pun langsung mengusap air matanya yang jatuh begitu saja.
"Ternyata langkah kakimu cukup panjang. Aku lumayan kelelahan mengejarmu," ucap Ezra.
Zeline menghapus air matanya hingga tak meninggalkan jejak. Gadis itu pun memperlambat langkahnya untuk menunggu sang kekasih pujaan yang tertinggal di belakang.
"Kamu saja yang berjalan lamban layaknya seekor kura-kura," cecar Zeline yang langsung mengubah ekspresi wajahnya.
Tak heran, jika Zeline dengan mudah bersandiwara seakan ia sedang baik-baik saja, karena memang gadis itu adalah seorang aktris dan hal itu tentu saja bagian dari pekerjaannya.
Ezra pun berhasil menyusul Zeline. Namun, gadis itu langsung tercengang saat Ezra tiba-tiba saja menggenggam tangannya dengan begitu erat. Zeline mematung sesaat, sebelum akhirnya ia membiarkan hal itu terjadi.
Meskipun rasa sesak menghinggapi dirinya saat mereka tengah bergandengan tangan, akan tetapi di saat yang bersamaan Zeline juga merasa nyaman. Tangan Ezra dengan jemari yang panjang dan juga terasa hangat, langsung berefek pula pada hatinya serta detak jantungnya yang semakin tak menentu.
Ezra mengayunkan tangannya, sesekali menatap ke arah Zeline dan mengembangkan senyum yang memperlihatkan kedua lesung pipinya itu.
"Jika Om dan Tante melihat kita bergandengan tangan seperti ini, mungkin mereka akan langsung mengusirku dari villa," ujar Ezra diiringi dengan tawa kecil.
"Berpegangan tangan tidak akan membuatku langsung mengandung. Kamu tenang saja!" Zeline dengan lugasnya mengucapkan kalimat demikian.
Bahkan saat mengatakan bahwa Ezra adalah tunangan Zeline, kedua orang tua Zeline memang melakukan hal tersebut dengan sengaja. Mereka tahu, Ezra sangat mencintai Zeline. Dan Zeline, ia berada di alam bawah sadarnya, bertemu dengan kedua orang tuanya dan juga Ezra. Namun, Zeline tak mengingat sama sekali tentang Ezra, karena memang saat terjadinya kecelakaan, yang dipikirkan oleh Zeline adalah pria itu.
Zeline juga baru tahu saat ia mendapatkan sebuah mimpi, bahwa gadis itu mengalami kecelakaan yang membuatnya berada di alam yang berbeda dengan tubuhnya.
Saat ini, mereka masih menyusuri jalanan yang ditumbuhi dengan banyak pepohonan. Hingga akhirnya, langkah Ezra terhenti tepat di sebuah pemandangan yang cukup indah. Hamparan luas yang memperlihatkan langit mulai berwarna jingga.
"Cantik sekali!!" seru Zeline yang benar-benar antusias melihat langit sore itu.
"Iya. Langitnya memang cantik. Akan tetapi, aku merasa jika yang lebih cantik itu adalah gadis yang ada bersamaku saat ini," ujar Ezra yang menatap lurus ke depan.
Zeline langsung melemparkan pandangannya ke samping, ia tersenyum mendengar gombalan yang diberikan oleh Ezra untuknya.
Cup!
Ezra membulatkan matanya, saat menyadari sesuatu yang hangat dan lembut mendarat di wajah tampannya dengan waktu beberapa detik.
"Itu ... tadi itu ...." Ezra tak bisa berkata-kata lagi, seakan lidahnya terasa kelu. Anggap saja ia adalah pria yang polos. Namun, pria polos mana yang menginginkan hal itu terjadi lagi dan lagi, bahkan berharap yang lebih.
Ezra sempat berpikir, ia diberikan waktu untuk bertemu gadis pujaannya meskipun hanya di alam bawah sadar gadis tersebut. Hal ini tentu saja merupakan suatu hal yang langka. Tuhan sedang berbaik hati padanya, seolah memutar waktu yang pernah terbuang sia-sia.
Dilihatnya Zeline yang baru saja memberikan ciuman tersebut tampak tertawa kecil. Gadis itu menertawakan ekspresi yang diperlihatkan oleh Ezra, dan Zeline bisa menebak bahwa ciuman itu adalah pertama kalinya pria itu dapatkan.
"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Zeline seraya menertawakan Ezra.
Ezra masih menatap Zeline dengan seksama. Hingga akhirnya, Zeline pun perlahan menghentikan tawanya yang sedari tadi menggelegar. Ia melihat tingkah aneh Ezra yang langsung membuat Zeline sedikit canggung.
"Ada apa?" cicit Zeline.
"Aku mencintaimu, Zeline!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Ezra pun tak ingin membuang-buang waktunya lagi. Pria itu langsung menarik Zeline, hingga tubuh gadis itu pun merapat dengan tubuhnya.
Selang beberapa detik kemudian, Ezra memiringkan wajahnya dan langsung mencium Zeline dengan lembut. Bibir merah muda itu, membuat Ezra akan merasa candu. Namun, tentu saja hal tersebut hanya bisa ia lakukan saat Zeline masih berada di sini. Jika suatu saat nanti Zeline kembali ke tubuhnya, sadar dari komanya, Ezra harus rela melepaskan gadis itu dengan lapang dada.
Awalnya Zeline cukup terkejut dengan perlakuan Ezra. Namun, beberapa detik kemudian gadis itu menutup kelopak matanya, menikmati sentuhan dari bibir pria yang ia cintai.
Dada Zeline semakin bergejolak. Ia ingin meneriakkannya dengan keras, bahwa Zeline juga sangat mencintai Ezra.
Bersambung ....